Sustainability Bukan Tren, Ini Gaya Hidup

Ada sesuatu yang diam-diam bergeser di kota-kota besar Indonesia. Tumbler bukan lagi aksesori yang perlu dijelaskan. Pilihan untuk membeli dari brand lokal bukan lagi tanda keterbatasan — ia jadi pernyataan nilai. Naik MRT di Jakarta, bagi sebagian orang, bukan sekadar menghindari macet, tapi keputusan yang terasa benar secara pribadi. Gaya hidup hijau, perlahan, mulai terasa seperti rumah. Dan dari Jakarta, ada suara resmi yang menyebut bahwa ini bukan kebetulan.

🌱 Trivia: Seberapa besar sektor ekonomi kreatif Indonesia, dan apa hubungannya dengan masa depan hijau kita?
Jawaban: Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan bahwa ekonomi kreatif adalah “mesin pertumbuhan ekonomi nasional” Indonesia — sebuah ekosistem yang digerakkan oleh ide, kreativitas, dan inovasi yang tak terbatas, berbeda dari sumber daya alam yang bisa habis. Kini, Kementerian Ekraf secara resmi membuka kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) untuk menjadikan prinsip keberlanjutan sebagai inti dari seluruh ekosistem kreatif — dari gedung, komunitas, hingga gaya hidup sehari-hari.

Ketika Pejabat Bicara Gaya Hidup, Bukan Regulasi

Yang menarik dari pertemuan Wamen Ekraf Irene Umar dengan GBCI pada 18 Mei 2026 bukan agenda formalnya — tapi cara ia membingkai pesan yang ingin disampaikan. Tidak ada kata “sanksi”. Tidak ada “kewajiban”. Yang ada adalah undangan.

Dalam pernyataan resminya di ekraf.go.id, Irene berbicara tentang bagaimana konsep hijau perlu “dipahami sampai ke tingkat masyarakat paling kecil” — bukan sebagai aturan yang dipatuhi, tapi sebagai manfaat yang langsung dirasakan: penghematan energi, lingkungan yang lebih sehat, pengelolaan sampah yang lebih baik.1 Ini bahasa identitas, bukan bahasa birokrasi.

“Kita ingin sustainability menjadi sesuatu yang membumi dan mudah dipahami. Anak-anak muda sekarang punya perhatian besar terhadap isu lingkungan. Tinggal bagaimana kita menghadirkan ruang kolaborasi dan pendekatan kreatif supaya pesan keberlanjutan ini semakin luas diterima.”

Irene Umar, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif, 18 Mei 2026

Ini bukan pertama kalinya pemerintah Indonesia menyebut “lingkungan” dalam pidatonya. Yang berbeda kali ini adalah nadanya — ia berpindah dari bahasa larangan ke bahasa kreasi. Film, kolaborasi publik figur, aktivitas komunitas: medium yang dipilih adalah ekspresi, bukan regulasi.1

Di tingkat global, pergeseran ini sudah lama terjadi. Kreator konten, desainer independen, hingga brand lokal semakin menjadikan keberlanjutan bukan sekadar label, tapi nilai inti yang membentuk identitas mereka. Indonesia kini mulai bergerak ke arah yang sama — dan sinyal ini sudah lama ditunggu-tunggu.

Dari Kebijakan ke Cermin: Apa Artinya Bagimu?

Ketika pejabat berbicara tentang gaya hidup — bukan target angka — artinya ruang untuk ikut serta terbuka lebih lebar dari sebelumnya. Kamu tidak perlu menunggu kebijakan untuk berubah lebih dulu.

Gerakan ini sudah hidup di akar rumput. Menurut laporan Indoriset Strategis 2026, lebih dari 60% generasi muda Indonesia menyatakan kekhawatiran mendalam terhadap masa depan lingkungan mereka — dan sebagian besar meresponsnya bukan dengan kecemasan pasif, tapi dengan tindakan nyata di skala personal.2 Mereka sudah ada di sana. Yang dibutuhkan sekarang adalah pengakuan dan ruang yang lebih luas.

FAKTA HIJAU

  • Fashion lokal yang bicara lewat bahan: Komunitas desainer Indonesia semakin banyak yang menggunakan bahan daur ulang dan tekstil berkelanjutan sebagai pilihan kreatif, bukan sekadar strategi pemasaran. Mereka membuktikan bahwa estetika dan etika bisa berjalan beriringan — sebuah percakapan yang semakin relevan di tengah kompleksitas rantai pasok mode global.
  • Kreator konten sebagai agen budaya: Di platform digital, konten tentang minimalisme, zero-waste living, dan konsumsi sadar tumbuh organik — bukan karena kampanye berbayar, tapi karena resonansinya nyata dengan keresahan sehari-hari generasi muda kota.
  • Komunitas berbasis aksi lokal: Dari kelompok kompos di tingkat RT hingga komunitas barter benih tanaman lokal yang terorganisir lewat Discord dan Telegram, gerakan ini membuktikan bahwa keberlanjutan bisa dimulai dari skala paling intim: lingkungan tempat tinggalmu sendiri.2

Tentu saja, semangat ini perlu disertai kejujuran. Dorongan pejabat — seberapa pun autentik — akan terasa hampa jika tidak diikuti infrastruktur yang nyata: produk berkelanjutan yang harganya terjangkau, edukasi yang menjangkau lebih dari sekadar warga kota besar, dan konsistensi kebijakan jangka panjang yang tidak berhenti di pergantian jabatan. Kita berharap kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan GBCI ini menjadi batu pertama dari jembatan yang lebih panjang — bukan sekadar foto bersama di audiensi resmi.1

Gaya Hidup Hijau Dimulai dari Keputusan Hari Ini

Gerakan budaya tidak lahir dari ruang rapat kementerian. Ia lahir dari jutaan keputusan kecil yang dibuat secara bersamaan oleh jutaan orang biasa — membawa tumbler, memilih pasar lokal, menolak sedotan plastik, mematikan lampu lebih awal.

Yang dilakukan Irene Umar adalah memberi nama pada sesuatu yang sudah lama bergerak di bawah permukaan. Bahwa apa yang selama ini kamu lakukan bukan sekadar kebiasaan baik — ia adalah bagian dari identitas kultural yang sedang tumbuh dan kini mendapat pengakuan resmi. Sekarang giliran kita untuk hidup lebih keras dari sekadar wacana.

FAQ & Key Takeaways

Key Takeaways

  • Wamen Ekraf Irene Umar mendorong sustainability sebagai gaya hidup dan identitas kultural — bukan sekadar regulasi atau kewajiban — melalui kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) pada Mei 2026.
  • Pesan ini berbeda dari kebijakan lingkungan biasa: nadanya adalah undangan kreatif, dengan medium film, kolaborasi publik figur, dan aktivitas komunitas — bukan sanksi atau target angka.
  • Ekosistem kreatif lokal sudah bergerak: dari desainer yang pakai bahan daur ulang, kreator konten yang kampanyekan minimalisme, hingga komunitas barter benih dan pengomposan mandiri di tingkat lingkungan.
  • Kamu bisa mulai hari ini: pilih satu kebiasaan kecil yang sudah terasa benar bagimu — membawa tas sendiri, mendukung brand lokal, atau mengurangi satu item plastik sekali pakai — dan kenali itu sebagai bagian dari identitasmu, bukan beban.

FAQ

Apa bedanya sustainability sebagai gaya hidup vs. sekadar tren?

Tren datang karena tekanan sosial atau momen viral — ia bisa menghilang secepat ia muncul. Gaya hidup berakar pada nilai: kamu melakukannya bahkan ketika tidak ada yang melihat, karena itu terasa benar bagimu secara personal. Itulah yang didorong oleh Wamen Ekraf — bukan kepatuhan, tapi identitas yang tumbuh dari dalam.

Apakah ada program konkret dari Kemenkraf yang bisa diakses masyarakat?

Kementerian Ekraf sedang membuka sinergi dengan GBCI untuk memperluas edukasi publik terkait gaya hidup berkelanjutan. Salah satu program yang akan hadir adalah “Green Building Festival” pada September 2026, termasuk inisiatif “Green Building Goes to Kampung” — dirancang agar bisa menjangkau komunitas di luar lingkup korporat dan gedung besar.

Dari mana saya mulai kalau mau hidup lebih hijau tapi budget terbatas?

Mulai dari yang sudah kamu punya: kurangi yang tidak perlu (konsumsi berlebih justru lebih mahal), pilih produk lokal yang umumnya lebih terjangkau, dan manfaatkan komunitas sekitar untuk berbagi sumber daya. Gaya hidup hijau bukan tentang membeli lebih banyak produk “eco” — ia tentang mengonsumsi lebih bijak.

Sumber & Referensi

  1. 1 Wamen Ekraf Dorong Sustainability Jadi Gaya Hidup melalui Kolaborasi KreatifKementerian Ekonomi Kreatif / Badan Ekonomi Kreatif
  2. 2 Kearifan Lokal di Era Digital: Kunci Gaya Hidup BerkelanjutanIndoriset Strategis

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?