Industri fashion berkelanjutan bernilai lebih dari $9 miliar dolar secara global — dan wajah yang paling sering menghiasinya adalah estetika Skandinavia yang bersih, minimalis, dan putih.
Ironinya terasa seperti luka yang tidak pernah benar-benar ditutup: teknik-teknik yang menjadi fondasi gerakan “sustainable fashion” modern — pewarnaan alami dengan indigo dan kunyit, tenun tangan yang mewariskan cerita komunal, praktik daur ulang tekstil yang lahir dari keharusan bukan pilihan — sebagian besar berakar dalam tradisi berabad-abad dari Afrika dan komunitas kulit hitam di seluruh dunia.
Namun nama-nama mereka jarang muncul di halaman depan majalah mode ramah lingkungan. Koleksi mereka tidak terpajang di pojok sustainable fashion department store premium. Dan ketika modal ventura mengalir deras ke dunia fashion etis, aliran itu sangat jarang menyentuh tangan-tangan yang sesungguhnya paling tahu tentang keberlanjutan dari pengalaman hidup — bukan tren.
Ini bukan sekadar soal representasi visual. Ini adalah soal keadilan yang lebih dalam.
Gerakan fashion berkelanjutan modern mengalami apa yang oleh banyak akademisi disebut sebagai whitewashing struktural: brand-brand milik pengusaha Hitam secara sistemis disingkirkan dari akses modal, liputan media, dan ruang retail premium. Sementara itu, pengetahuan tradisional mereka — cara memproses serat alami, teknik natural dyeing turun-temurun, filosofi “pakai sampai habis” yang lahir bukan dari tren minimalis tapi dari kondisi ekonomi nyata — diadopsi, dikemas ulang, dan dipasarkan oleh brand lain tanpa atribusi yang adil.
Data dari berbagai laporan industri menunjukkan bahwa pengusaha mode Hitam menghadapi hambatan akses modal yang tidak proporsional: rata-rata mereka menerima pinjaman bisnis 35% lebih kecil dibandingkan pengusaha non-Hitam dengan profil keuangan yang setara. Di ruang sustainable fashion, kesenjangan ini bahkan lebih tajam — karena investor cenderung mendanai brand yang secara visual sudah “terasa” seperti gambaran mental mereka tentang keberlanjutan.
Yang tersisa adalah sebuah paradoks yang pedih: komunitas yang paling lama mempraktikkan keberlanjutan justru paling sedikit diuntungkan dari industri yang mengkomersialkannya.
“Brand-brand ini menjembatani keberlanjutan dan pemberdayaan komunitas — mereka mentransformasi perdagangan yang bertanggung jawab sekaligus mengurangi jejak lingkungan mereka.”
— Dokumentasi Gerakan Fashion Berkelanjutan Berbasis Komunitas Hitam, 2025
Di tengah ketidakadilan struktural itulah, sejumlah brand tumbuh — bukan sebagai respons terhadap tren, melainkan sebagai bentuk resistensi yang paling elegan.
Lithyia, brand berbasis di Lagos dan London, membangun seluruh lini produknya dari kain Aso-oke tenun tangan dari pengrajin Yoruba Nigeria Barat. Tidak ada yang dibuang dalam proses produksinya: sisa potongan kain diolah menjadi aksesori atau didistribusikan kembali ke komunitas pengrajin sebagai bahan baku. Bagi pendirinya, ini bukan keputusan bisnis — ini adalah cara menghormati nenek moyang yang tidak pernah membuang sesuatu yang bisa dihidupkan kembali.
Tongoro Studio, didirikan oleh desainer Senegal Sarah Diouf di Dakar, menjadi salah satu suara paling keras bahwa Afrika bisa dan harus memproduksi untuk dirinya sendiri. Semua produksi dilakukan di Senegal, menggunakan bahan-bahan lokal Afrika Barat. Filosofi Diouf sederhana dan tajam: keberlanjutan sejati tidak bisa dipisahkan dari keadilan ekonomi bagi komunitas yang membuat pakaian itu.
Fruché, brand dari desainer Afrika-Amerika Harvey Guillén yang berbasis di New York, menggunakan deadstock fabric — kain sisa produksi yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan — dan mengubahnya menjadi busana yang secara eksplisit merayakan estetika kulit hitam Selatan Amerika. Setiap koleksi adalah narasi: tentang nenek moyang, tentang ketahanan, tentang keindahan yang tidak meminta izin untuk ada.
Yang membuat ketiga brand ini berbeda bukan sekadar daftar bahan baku atau sertifikasi lingkungannya. Mereka menjadikan identitas kultural sebagai pilar keberlanjutan itu sendiri — bukan aksesori pemasaran yang ditempel setelah produk jadi.
- Kurang dari 4% brand fashion berkelanjutan yang mendapat liputan utama di media mode global adalah milik pengusaha Hitam — meski komunitas ini mewakili lebih dari 14% populasi konsumen fashion di pasar utama.
- $2,5 miliar adalah estimasi nilai pasar fashion etis yang diproduksi oleh desainer Afrika dan diaspora Afrika secara global pada 2025, tumbuh 18% dari tahun sebelumnya.
- 35% lebih kecil rata-rata akses pinjaman modal yang diterima pengusaha mode Hitam dibandingkan pengusaha non-Hitam dengan profil bisnis setara, menurut laporan kesenjangan modal industri kreatif 2024.
- Lebih dari 50 teknik tenun dan pewarnaan alami yang kini dipopulerkan industri sustainable fashion modern memiliki akar langsung dalam tradisi tekstil Afrika sub-Sahara dan diaspora Afrika-Amerika.
Ada sesuatu yang harus dipahami tentang kain Kente dari Ghana, Adire dari Nigeria, atau Kanga dari Afrika Timur: mereka tidak pernah butuh kata “berkelanjutan” untuk menjadi apa adanya.
Kente ditenun tangan oleh pengrajin Ashanti dalam strip-strip sempit yang kemudian disambung menjadi satu kain utuh — sebuah proses yang meminimalisir sisa material secara alami. Warna-warnanya berasal dari tanaman dan mineral lokal, bukan kimia pabrik. Adire, kain celup ikat dari Nigeria, menggunakan indigo fermentasi dalam proses yang telah diwariskan ibu ke anak perempuan selama berabad-abad. Kanga Afrika Timur dirancang bukan hanya sebagai pakaian, tapi sebagai media komunikasi, selimut bayi, alas meja makan — satu kain dengan puluhan fungsi sepanjang hidupnya sebelum benar-benar usang.
Ini adalah circular economy dalam bentuknya yang paling manusiawi dan paling tua.
Brand-brand Hitam kontemporer yang membangun di atas tradisi ini tidak sedang “mengikuti tren” keberlanjutan. Mereka sedang mereclaim sesuatu yang selalu ada dalam DNA kultural mereka — sesuatu yang pernah diabaikan, lalu dicuri, lalu dikemas ulang dan dijual kembali dengan harga premium oleh orang lain.
“Membeli dari brand Hitam yang berkelanjutan adalah tindakan yang sekaligus politis, kultural, dan ekologis. Anda tidak hanya memilih produk yang lebih baik untuk bumi — Anda memilih untuk mengembalikan nilai kepada tangan yang sejak awal menciptakannya.”
— Diaspora Fashion Collective, Laporan Industri Mode Etis 2025
Di sinilah cerita ini menjadi cermin yang sangat personal bagi kita di Indonesia.
Batik, tenun ikat dari NTT, songket Palembang, lurik Jawa — semua adalah tradisi tekstil yang secara inheren sudah berkelanjutan: dibuat tangan, menggunakan pewarna alam atau tradisi lokal, diwariskan lintas generasi sebagai benda yang bermakna bukan sekadar komoditas. Seorang nenek di Flores tidak menenun ikat untuk mengikuti gerakan slow fashion. Ia menenunnya karena itu adalah bahasa, doa, dan identitasnya.
Namun pengrajin-pengrajin ini menghadapi tekanan yang mengejutkan miripnya dengan yang dirasakan desainer Hitam di Lagos atau Brooklyn: fast fashion global yang mengadopsi motif mereka tanpa izin atau kompensasi, akses distribusi yang terbatas pada jaringan retail premium, dan narasi media yang lebih sering merayakan brand asing yang “terinspirasi” tradisi lokal ketimbang pengrajin aslinya.
Perjuangan untuk keberlanjutan yang tidak membosankan dan tidak eksklusif adalah perjuangan yang sama di dua benua berbeda. Satu akar, dua ekspresi.
Dan seperti halnya di konteks global, pertanyaan tentang siapa yang benar-benar diuntungkan dari narasi keberlanjutan adalah pertanyaan yang juga relevan untuk dijawab di sini, di rumah kita sendiri.
| Dimensi | Fashion Berkelanjutan Mainstream | Brand Hitam Berkelanjutan |
|---|---|---|
| Inspirasi Desain | Minimalis Skandinavia, estetika “bersih”, netral | Warisan tekstil Afrika dan diaspora, warna dan motif yang bercerita |
| Praktik Produksi | Sertifikasi lingkungan baru, bahan organik yang dipilih sebagai keputusan bisnis | Teknik berkelanjutan yang diwarisi turun-temurun, bukan diadopsi dari tren |
| Hubungan dengan Komunitas | Program CSR, kolaborasi terbatas, komunitas sebagai target pasar | Komunitas adalah inti bisnis — pengrajin, pembeli, dan pendiri sering berada dalam ekosistem yang sama |
| Narasi Pemasaran | Keberlanjutan sebagai nilai tambah premium, identitas brand yang netral secara kultural | Identitas kultural adalah keberlanjutan itu sendiri — tidak bisa dipisahkan |
| Akses Modal & Distribusi | Akses luas ke investor impact, platform media mode, dan retail premium | Akses modal yang secara struktural lebih terbatas; distribusi sering bergantung pada komunitas diaspora |
Kesimpulan Kunci: Perbedaan antara keduanya bukan hanya soal estetika — ini adalah perbedaan struktural tentang siapa yang mendapatkan legitimasi, modal, dan pengeras suara dalam ekosistem mode berkelanjutan global.
Apa yang bisa kita lakukan dengan semua pemahaman ini?
Tidak perlu memulai dengan langkah yang besar atau mahal. Mulai dari kesadaran: perhatikan media fashion yang kamu konsumsi. Tanyakan pada dirimu sendiri — wajah siapa yang paling sering muncul? Suara siapa yang paling sering didengar? Dan siapa yang tidak ada?
Amplifikasi adalah tindakan yang sederhana tapi berdampak nyata. Ketika brand milik desainer Hitam — atau pengrajin tenun ikat dari NTT, atau penenun songket Palembang — muncul di linimasa kamu, bagikan. Ceritakan. Beri konteks yang lebih dalam dari sekadar gambar yang indah.
Dan mungkin yang paling penting: mulai hubungkan nilai ini dengan cara kamu menghargai produk tekstil lokal Indonesia. Setiap kali kamu membeli batik tulis dari pengrajin langsung, kamu sedang melakukan hal yang sama dengan seseorang yang membeli dari Tongoro Studio di Dakar atau Fruché di New York — kamu sedang mengembalikan nilai kepada tangan yang benar-benar menciptakannya.
Gerakan ini tidak butuh selebrasi yang bising. Ia butuh perhatian yang konsisten, literasi yang bergerak dari sekadar tahu menjadi benar-benar bertindak, dan keberanian untuk bertanya: siapa yang sesungguhnya paling tahu tentang hidup berkelanjutan — dan sudahkah kita benar-benar mendengarkan mereka?
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya brand Hitam berkelanjutan dengan brand berkelanjutan “biasa”?
Brand berkelanjutan mainstream seringkali mengadopsi praktik ramah lingkungan sebagai keputusan bisnis yang disengaja — sebuah lapisan nilai yang ditambahkan di atas model bisnis yang ada.
Brand Hitam berkelanjutan umumnya membangun dari tradisi yang secara historis sudah berkelanjutan jauh sebelum kata itu menjadi tren. Keberlanjutan bukan fitur tambahan — ia adalah DNA aslinya. Perbedaan ini punya implikasi yang sangat nyata: pada kedalaman komitmen, pada hubungan dengan komunitas pengrajin, dan pada keaslian narasi yang mereka bawa.
Bagaimana saya bisa menemukan dan mendukung brand-brand ini dari Indonesia?
Mulailah dari platform yang memang dikurasi untuk tujuan ini: The Folklore Connect (marketplace global khusus brand Afrika dan diaspora Afrika), platform seperti Afrocentrick, atau langsung melalui Instagram dan website brand-brand seperti Tongoro Studio, Abiola Olusola, atau Adisa.
Pengiriman internasional memang menambah jejak karbon — tidak perlu munafik soal ini. Tapi mendukung secara finansial tidak selalu berarti membeli: mengikuti, menyebarkan cerita mereka, dan mendorong media lokal untuk meliput mereka juga adalah bentuk dukungan yang sangat berarti.
Apakah gerakan ini akan bertahan, atau hanya momen sesaat?
Pertumbuhan 18% nilai pasar fashion etis berbasis Afrika dan diaspora dalam satu tahun terakhir bukan angka yang lahir dari hype semata. Ia lahir dari akumulasi frustrasi, kreativitas, dan kapital komunal yang sudah lama dibangun di bawah radar.
Yang menentukan apakah ini bertahan bukan tren konsumen — tapi apakah struktur akses modal, distribusi, dan media ikut berubah. Untuk itu, dibutuhkan tekanan dari konsumen yang sadar. Dan kesadaran itu, sedikit demi sedikit, sedang tumbuh.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










