Dominique Ivonne: Mengajar Lingkungan di Pulau Terluar

Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, namun ribuan anak di pulau-pulau terluar tidak pernah menyentuh kurikulum lingkungan hidup.

Mereka tumbuh dikelilingi terumbu karang, hutan mangrove, dan lautan luas — namun tak pernah diajarkan bagaimana menjaga ekosistem yang menghidupi mereka.

Kontras dengan kelimpahan alam kepulauan, kemiskinan edukasi lingkungan ini jarang menjadi headline nasional.

Hingga sebuah video pendek mengubah narasi: seorang perempuan berkostum T-Rex berdiri di depan kelas darurat di pulau terpencil, ditonton 1,4 juta orang.

Bukan gimmick.

Ini adalah cara Dominique Ivonne Samudra membuat dunia peduli pada anak-anak yang rumahnya mengapung di atas laut.

Fakta Cepat
  • Nama Proyek: Bajo Sayang — inisiatif pendidikan untuk anak-anak pulau terpencil
  • Pendiri: Dominique Ivonne Samudra, educator & humanitarian (@dominiqueivonne)
  • Afiliasi: STEAM Academy Bali (@steamacademy.bali)
  • Target Aksi: Penanaman 1.000 mangrove bersama anak-anak pulau jauh dan program bantuan pendidikan ke Aceh
  • Dampak Viral: Video “T-Rex Headmaster” meraih 1,4 juta views, mengangkat narasi pendidikan lingkungan pulau terluar ke publik luas

Dominique Ivonne Samudra bukan aktivis lingkungan konvensional yang datang dari latar belakang sains ekologi.

Ia adalah seorang educator dan humanitarian dengan lebih dari 15 tahun pengalaman mengajar, diperkuat oleh Finnish Education Diploma dan Harvard Certification.

Perjalanannya dimulai dari kegelisahan sederhana: mengapa pendidikan inovatif hanya menjadi hak istimewa anak-anak di kota besar?

Ia memilih komunitas Bajo — suku pengembara laut yang secara turun-temurun hidup di atas air di perairan Indonesia Timur — sebagai fokus.

Bukan karena eksotisme, tetapi karena anak-anak Bajo belajar menyelam sebelum belajar membaca, menjadikan mereka kandidat sempurna untuk pendidikan lingkungan berbasis laut.

STEAM Academy Bali, tempat Dominique mengajar, menjadi inkubator metode pembelajaran kreatif.

Di sana, pendekatan Multi-modal diterapkan — bukan hanya visual atau auditori, tetapi juga kinestetik dan naturalistik.

Anak-anak tidak duduk mendengarkan ceramah tentang mangrove.

Mereka menanamnya langsung, merasakan lumpur di kaki, memahami ekosistem melalui sentuhan.

Realitas pendidikan di pulau-pulau terluar Indonesia keras dan terabaikan.

Rasio guru-murid bisa mencapai 1:50, infrastruktur minim — banyak sekolah tanpa dinding permanen, lantai tanah, atap bocor saat hujan.

Kurikulum lingkungan hidup? Nyaris tidak ada.

Ironisnya, anak-anak yang tumbuh di tengah keanekaragaman hayati laut paling tinggi di dunia justru paling minim literasi ekologis.

Mereka melihat mangrove sebagai hambatan perahu, bukan sebagai benteng alami melawan abrasi.

Mereka menangkap ikan tanpa tahu bahwa terumbu karang yang mereka injak adalah rumah bagi ribuan spesies.

Ini bukan kesalahan mereka — ini adalah kegagalan sistemik pendidikan nasional yang belum mampu menjangkau pulau-pulau terluar dengan kurikulum relevan.

🌱 Trivia: Siapa Sebenarnya Suku Bajo?
Jawaban: Suku Bajo dikenal sebagai ‘pengembara laut’ (sea nomads) yang secara turun-temurun hidup di atas air di perairan Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Anak-anak Bajo belajar menyelam sejak usia 3-4 tahun — sebelum mereka belajar membaca atau menulis — menjadikan pendidikan lingkungan berbasis laut bukan hanya relevan, tetapi juga sangat kultural. Rumah mereka adalah perahu atau rumah panggung di tengah laut, menjadikan mereka salah satu komunitas paling rentan terhadap degradasi ekosistem pesisir.

Bajo Sayang menerjemahkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) ke dalam bahasa yang dipahami anak-anak pulau.

Science: mereka belajar siklus karbon melalui penanaman mangrove.

Technology: menggunakan alat sederhana untuk mengukur pertumbuhan tanaman.

Engineering: membangun pembibitan mangrove dari bahan ramah lingkungan.

Arts: mendokumentasikan proses melalui gambar dan cerita.

Mathematics: menghitung berapa banyak oksigen yang dihasilkan 1.000 mangrove.

Target penanaman 1.000 mangrove bukan angka sembarangan — itu adalah upaya restorasi ekosistem pesisir yang melibatkan anak-anak bukan sebagai objek, tetapi sebagai agen perubahan.

Program ini juga menyentuh Aceh, menyediakan dukungan pendidikan dan infrastruktur sekolah untuk komunitas yang masih pulih dari trauma bencana.

Hingga kini, Bajo Sayang telah mendukung lebih dari 5.000 anak di pulau-pulau terpencil Indonesia — angka yang terus bertambah setiap tahun.

Lalu, mengapa video T-Rex Headmaster meledak hingga 1,4 juta views?

Jawabannya sederhana: autentisitas.

Di tengah banjir konten greenwashing korporat yang mahal namun kosong emosi, video organik Dominique menawarkan sesuatu yang langka — ketulusan tanpa agenda tersembunyi.

Tidak ada logo sponsor besar, tidak ada jargon CSR yang mengawang-awang.

Hanya seorang pendidik berkostum dinosaurus, mengajar di kelas darurat, dikelilingi anak-anak yang mata mereka berbinar.

Implikasi finansialnya mengejutkan: brand besar menghabiskan miliaran rupiah untuk kampanye hijau yang sering kali hanya greenwashing manis, sementara satu video short-form dari pulau terpencil berdampak lebih luas dan autentik.

Algoritma media sosial, yang sering dikritik sebagai mesin kapitalisme perhatian, kali ini bekerja untuk kebaikan — mendistribusikan empati ke sudut yang terabaikan.

“Pendidikan bukan tentang memberikan ikan, tetapi mengajarkan cara memancing — dan lebih penting lagi, mengajarkan bahwa laut tempat memancing harus dijaga agar anak cucu kita masih bisa makan.”

— Dominique Ivonne Samudra, Pendiri Bajo Sayang

Menanam 1.000 mangrove bukan sekadar aksi simbolis.

Ekologi pesisir Indonesia sangat bergantung pada hutan mangrove: satu hektar mangrove dewasa mampu menyerap hingga 308 ton karbon per tahun — setara dengan emisi 65 mobil selama 12 bulan.

Akar mangrove yang lebat melindungi garis pantai dari abrasi dan tsunami, mengurangi energi gelombang hingga 70 persen.

Lebih dari itu, mangrove adalah nursery ground bagi lebih dari 80 persen spesies ikan komersial di Indonesia.

Artinya, setiap pohon mangrove yang ditanam adalah investasi langsung untuk mata pencaharian nelayan Bajo — menjaga ekosistem sambil menjaga ekonomi lokal.

Anak-anak yang hari ini menanam bibit mangrove, 10 tahun lagi akan memetik hasil tangkapan ikan yang lebih melimpah dari hutan mangrove yang mereka rawat sendiri.

Ini bukan dongeng hijau — ini adalah siklus ekonomi sirkular berbasis ekologi yang bekerja nyata.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul

Apa itu proyek Bajo Sayang dan siapa di baliknya?

Bajo Sayang adalah inisiatif pendidikan lingkungan yang didirikan oleh Dominique Ivonne Samudra, seorang educator dan humanitarian yang berbasis di STEAM Academy Bali. Proyek ini fokus mendukung anak-anak di pulau-pulau terpencil Indonesia — terutama komunitas Bajo — melalui program penanaman mangrove, pembangunan infrastruktur sekolah, dan kurikulum lingkungan berbasis praktik langsung. Hingga kini, proyek ini telah menyentuh lebih dari 5.000 anak.

Bagaimana cara ikut berkontribusi atau mendukung?

Kamu bisa mulai dengan mengikuti akun Instagram resmi Dominique Ivonne di @dominiqueivonne dan STEAM Academy Bali di @steamacademy.bali untuk update terbaru. Mereka sering membuka peluang donasi, program relawan, atau pembelian produk Kidpreneur yang hasilnya langsung dialokasikan untuk membangun sekolah dan menyediakan alat pendidikan di pulau-pulau terpencil. Setiap share dan repost juga membantu memperluas jangkauan cerita ini.

Mengapa mangrove penting bagi anak-anak pulau terpencil?

Mangrove adalah benteng alami melindungi pulau dari abrasi dan badai, sekaligus menjadi habitat ikan yang menjadi sumber penghidupan utama keluarga mereka. Dengan menanam dan merawat mangrove, anak-anak belajar hubungan langsung antara menjaga lingkungan dan kelangsungan hidup ekonomi keluarga — pendidikan lingkungan menjadi relevan secara kultural dan ekonomi, bukan sekadar teori.

Apakah STEAM Academy Bali menerima relawan atau program magang?

Ya, STEAM Academy Bali secara berkala membuka kesempatan bagi educator, relawan, dan mahasiswa yang ingin terlibat langsung dalam program pendidikan inovatif atau inisiatif Bajo Sayang. Informasi lengkap bisa dilihat melalui website resmi mereka atau kontak langsung via Instagram.

Kita hidup di era di mana konten viral seringkali kosong makna — dance challenge, lip-sync, atau skandal selebriti yang tidak meninggalkan dampak apapun setelah algoritma berpindah.

Namun video T-Rex Headmaster membuktikan bahwa algoritma media sosial bisa menjadi alat redistribusi empati jika digunakan dengan niat jujur.

1,4 juta views bukan hanya angka — itu adalah 1,4 juta orang yang kini tahu bahwa pendidikan lingkungan di pulau terluar Indonesia adalah isu mendesak yang sering terabaikan.

Beberapa dari mereka mungkin akan donasi, beberapa akan menjadi relawan, beberapa hanya akan membagikan cerita ini.

Semuanya berarti.

Kamu tidak perlu terbang ke pulau terpencil untuk membuat dampak.

Mulai dengan langkah sederhana: follow akun @dominiqueivonne dan @steamacademy.bali, bagikan cerita Bajo Sayang ke lingkaran sosial mediamu, atau jika mampu, donasikan untuk program Kidpreneur yang hasilnya langsung membangun sekolah di pulau-pulau jauh.

Karena pendidikan lingkungan bukan kemewahan kota besar — ia adalah hak fundamental anak-anak yang rumahnya mengapung di atas laut, yang masa depannya bergantung pada ekosistem yang kini mulai rapuh.

Dan mereka, sama seperti anak-anak di Jakarta atau Surabaya, berhak tahu bagaimana cara menyelamatkannya.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?