Di atap sebuah masjid di Indonesia, panel surya menyerap cahaya yang sama yang selama ini hanya menjadi panas. Di peron stasiun Cirebon, listrik yang mengaliri layar informasi penumpang kini bersumber dari matahari. Di sebuah dusun yang pompa airnya dulu bergantung pada genset berbahan bakar, kini lima panel hitam diam-diam memompa air tanpa suara mesin. Gelombang energi surya di Indonesia sudah jauh lebih luas dari yang terlihat di permukaan—dan ia sedang menyentuh hampir setiap sudut kehidupan.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Indonesia akan mengadopsi panel surya, melainkan seberapa cepat adopsi ini bisa menjadi norma, bukan pengecualian.
- Indonesia dan China menargetkan kolaborasi pengembangan PLTS hingga 100 GW
- 3 stasiun di wilayah Daop 3 Cirebon sudah beroperasi menggunakan panel surya
- UGM dan NTU (Singapura) memasang 5 panel surya untuk menggerakkan pompa air di sebuah dusun
- Sektor pendidikan ikut terdampak: SMAN 1 Paku dan kampus ITERA menjadi contoh nyata adopsi energi surya
- Kementerian Agama menggandeng MOSAIC untuk mengembangkan masjid berbasis energi surya
- Danantara mengincar investasi di industri manufaktur panel surya berbahan baku pasir silika domestik
Sinyal paling jelas bahwa energi surya kini masuk radar kebijakan nasional datang dari gedung parlemen sendiri. Anggota Komisi XII DPR RI, Putri Zulhas, melakukan kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) milik Institut Teknologi Sumatera (ITERA) di Lampung—sebuah langkah yang lebih dari sekadar kunjungan seremonial. ITERA selama ini berperan sebagai salah satu pusat riset energi terbarukan di kawasan Sumatera, dan kehadiran legislator dari komisi yang membidangi energi di sana mengirimkan pesan yang jelas: riset energi surya bukan lagi urusan akademisi semata, tapi sudah menjadi agenda kebijakan yang layak mendapat perhatian dan dukungan anggaran dari DPR.
Dukungan legislatif semacam ini penting karena ekosistem energi terbarukan tidak bisa tumbuh dari inovasi teknis saja. Ia butuh regulasi yang ramah, insentif yang nyata, dan pengakuan institusional. Kunjungan Putri Zulhas ke PLTS ITERA memberi sinyal bahwa rantai dukungan itu sedang dibangun dari atas—sementara di level bawah, inovasi sudah berjalan tanpa menunggu.
Bukti paling menggerakkan datang dari sebuah dusun yang namanya mungkin tidak terkenal, tapi masalahnya sangat universal: akses air bersih yang bergantung pada pompa konvensional. Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Nanyang Technological University (NTU) dari Singapura memasang lima panel surya untuk menggerakkan pompa air di dusun tersebut. Ini bukan proyek skala besar dengan anggaran triliunan—justru di situlah kekuatannya. Kolaborasi dua perguruan tinggi lintas negara ini membuktikan bahwa teknologi tepat guna, yang dirancang menjawab masalah nyata komunitas pedesaan, bisa dieksekusi dengan kompak dan presisi. Model seperti ini bisa direplikasi di ribuan dusun lain yang kondisinya serupa.
Kalau kolaborasi UGM–NTU menunjukkan apa yang bisa dilakukan energi surya untuk komunitas, SMAN 1 Paku menunjukkan apa yang bisa ia selamatkan. Ketika listrik PLN padam di tengah berlangsungnya kegiatan Olimpiade Sains Nasional Prestasi (OSNP), sekolah ini tidak panik dan tidak berhenti. Panel surya yang terpasang di atap gedung menjaga kegiatan tetap berjalan. Momen itu mungkin terdengar sederhana, tapi ia mengandung makna yang jauh lebih besar: di level paling dasar pendidikan Indonesia, energi terbarukan sudah membuktikan nilainya bukan sebagai ideologi, tapi sebagai solusi praktis yang bisa diandalkan saat krisis.
Dari ruang kelas, gambarannya melompat ke skala diplomasi. Indonesia dan China menyepakati target kolaborasi pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt—sebuah angka yang sulit dibayangkan skalanya tanpa konteks. Untuk perbandingan, kapasitas PLTS terpasang Indonesia saat ini masih jauh di bawah angka tersebut, yang berarti kerjasama ini bukan sekadar ekspansi bertahap, melainkan lompatan kuantum. Bagi target energi baru terbarukan (EBT) pemerintah Indonesia, kemitraan ini bisa menjadi akselerator utama—asalkan diikuti oleh kerangka regulasi yang mendukung dan kesiapan infrastruktur jaringan listrik untuk menyerap kapasitas sebesar itu. Tren keberlanjutan Indonesia memang sedang mengirimkan sinyal-sinyal yang perlu dicermati lebih dalam.
Namun kolaborasi internasional hanya bermakna jika Indonesia tidak sekadar menjadi pasar. Di sinilah peran Danantara menjadi krusial. Lembaga investasi ini mengincar peluang di industri manufaktur panel surya berbahan baku pasir silika domestik—artinya, ada ambisi nyata untuk membangun rantai pasok lokal dari hulu. Indonesia memiliki cadangan pasir silika yang melimpah, dan jika industri pemrosesan hingga produksi panel bisa dibangun di dalam negeri, maka transisi energi tidak hanya menciptakan listrik bersih, tapi juga lapangan kerja dan nilai tambah ekonomi yang tinggal di Indonesia. Ini adalah logika industrialisasi hijau yang selama ini sering didiskusikan tapi jarang dieksekusi.
Di luar sektor industri dan pemerintahan, ada satu jaringan infrastruktur yang sering luput dari perhatian dalam diskusi energi terbarukan: masjid. Indonesia adalah rumah bagi ratusan ribu masjid yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, sebagian besar beroperasi dengan biaya listrik yang ditanggung oleh kas masjid atau donasi jamaah. Kementerian Agama (Kemenag) bersama MOSAIC kini mengembangkan program masjid berbasis energi surya—sebuah langkah yang, jika berhasil diskalakan, bisa mengubah jaringan tempat ibadah ini menjadi sistem distributed energy yang organik dan tersebar luas. Masjid yang mandiri secara energi bukan hanya hemat biaya operasional; ia menjadi titik percontohan yang paling mudah dilihat dan dipercaya oleh masyarakat di sekitarnya.
Sementara itu, di jalur kereta, transformasi juga sudah berjalan diam-diam. Tiga stasiun di wilayah Daerah Operasi 3 (Daop 3) Cirebon kini menggunakan panel surya sebagai sumber energi operasional. Ini adalah langkah konkret KAI dalam mendekarbonisasi infrastruktur transportasi publik—dan posisinya sebagai BUMN membuat langkah ini punya bobot lebih. Jika KAI bisa menunjukkan bahwa transisi ke energi surya di stasiun berjalan efisien dan ekonomis, ada alasan kuat bagi BUMN lain di sektor infrastruktur untuk mengikutinya. Langkah BUMN dalam memimpin transisi energi infrastruktur nasional memang sedang menjadi tren yang lebih luas.
Apa yang terjadi di Indonesia dengan energi surya bukan lagi sebuah eksperimen yang ditunggu hasilnya. Ia sudah menjadi gerakan yang bergerak serentak dari berbagai arah: parlemen yang mulai turun ke lapangan, perguruan tinggi yang berkolaborasi lintas batas untuk menjawab masalah dusun, sekolah yang tidak menyerah ketika listrik padam, kerjasama diplomatik yang berani menarget 100 gigawatt, investasi hulu yang ingin membangun industri dari pasir, masjid yang mengubah atapnya menjadi sumber energi, dan stasiun kereta yang membuktikan transportasi publik pun bisa hijau. Semua potongan ini membentuk satu gambar besar yang sedang jelas terlihat: Indonesia sedang membangun pondasi keberlanjutan yang semakin serius, satu panel surya dalam satu waktu. Peran individu di sini bukan hanya sebagai penonton—setiap percakapan yang dimulai, setiap pertanyaan yang diajukan ke atasan atau ke pengurus masjid atau ke kepala sekolah, adalah bagian dari momentum yang sudah berjalan.
Frequently Asked Questions
Apa itu PLTS dan bagaimana cara kerjanya?
PLTS adalah singkatan dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya. Cara kerjanya sederhana: panel surya menangkap cahaya matahari dan mengubahnya menjadi listrik melalui sel fotovoltaik. Listrik yang dihasilkan bisa langsung digunakan, disimpan di baterai, atau dialirkan ke jaringan listrik umum.
Apa target kolaborasi Indonesia dan China dalam energi surya?
Indonesia dan China menyepakati target pengembangan PLTS hingga 100 gigawatt (GW). Angka ini jauh melampaui kapasitas PLTS Indonesia yang terpasang saat ini, sehingga kemitraan ini bisa menjadi pendorong besar dalam agenda transisi energi nasional.
Apa yang dilakukan Danantara dalam industri panel surya?
Danantara mengincar investasi di sektor manufaktur panel surya dengan memanfaatkan bahan baku pasir silika yang tersedia di dalam negeri. Tujuannya adalah agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar panel surya impor, tapi juga bisa memproduksinya sendiri dan menciptakan nilai ekonomi lokal.
Mengapa program masjid bertenaga surya dianggap penting?
Indonesia memiliki ratusan ribu masjid yang tersebar di seluruh wilayah. Jika masjid-masjid ini beralih ke energi surya, mereka bisa menghemat biaya operasional sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat sekitar tentang manfaat energi terbarukan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang dimaksud dengan distributed energy dalam konteks ini?
Distributed energy adalah sistem di mana energi diproduksi di banyak titik kecil yang tersebar—bukan hanya dari satu pembangkit besar. Jika ribuan masjid, sekolah, dan stasiun menghasilkan listrik sendiri dari panel surya, total kapasitasnya bisa sangat signifikan bagi ketahanan energi nasional.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










