Kampus Indonesia Cetak Sejarah di Peringkat Keberlanjutan THE 2026

Setiap tahun, Times Higher Education (THE) merilis satu pemeringkatan yang semakin dianggap serius oleh dunia akademik global: Sustainability Impact Ratings. Berbeda dari pemeringkatan universitas konvensional yang berfokus pada reputasi riset atau kualitas pengajaran, pemeringkatan ini mengukur satu hal yang jauh lebih kontekstual — seberapa besar kontribusi nyata sebuah universitas terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Edisi 2026 baru saja dirilis, dan sejumlah perguruan tinggi Indonesia berhasil mencatatkan nama mereka di peta keberlanjutan dunia.

Dari Jawa Timur hingga Bandung, dari kampus negeri hingga universitas swasta berbasis nilai, capaian ini bukan sekadar angka dalam daftar. Ini adalah sinyal bahwa Indonesia mulai membangun ekosistem pendidikan tinggi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial dan lingkungan. Di tengah tekanan global untuk mempercepat aksi iklim, prestasi ini memberi warna tersendiri bagi narasi keberlanjutan Indonesia.

Fakta Cepat
  • Western Sydney University meraih peringkat #3 dunia di THE Sustainability Impact Ratings 2026.
  • Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) menjadi kampus terbaik di Jawa Timur dalam pemeringkatan ini.
  • Universitas Brawijaya mencatat kenaikan pada 14 dari 17 indikator SDGs — salah satu progres paling konsisten secara nasional.
  • Universitas Padjadjaran (Unpad) menempati posisi #5 nasional.
  • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) masuk 200 besar dunia untuk SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi.
  • Universitas Bakrie masuk dalam tiga besar nasional di pemeringkatan THE 2026.
  • Universitas Negeri Malang (UM) turut berpartisipasi di THE Global Sustainable Development Congress 2026.

THE Sustainability Impact Ratings mengevaluasi universitas berdasarkan tiga pilar utama: output riset yang relevan dengan SDGs, kebijakan internal kampus yang mendukung praktik berkelanjutan, serta keterlibatan aktif dengan komunitas dan ekosistem di luar tembok kampus. Ini yang membedakannya secara fundamental dari pemeringkatan akademik seperti QS World University Rankings. Di sini, sebuah universitas tidak bisa mengandalkan prestise nama saja — yang dinilai adalah dampak terukur yang benar-benar terjadi di lapangan. Artinya, universitas yang selama ini mungkin tidak pernah masuk daftar 500 besar dunia secara akademik bisa saja unggul jauh dalam pemeringkatan keberlanjutan, jika program riset dan kebijakan internalnya benar-benar menyentuh isu nyata di masyarakat.

Di antara kampus Indonesia yang berpartisipasi, Universitas Negeri Malang (UM) tampil tidak hanya sebagai peserta biasa. UM berhasil mencatatkan capaian di THE Sustainability Impact Ratings 2026, sekaligus mendapat pengakuan yang lebih jauh: keikutsertaan dalam THE Global Sustainable Development Congress 2026 — sebuah forum internasional yang mempertemukan universitas-universitas dengan komitmen keberlanjutan terkuat di dunia. Partisipasi di kongres ini bukan hal yang bisa dibeli atau sekadar didaftarkan; ini adalah cerminan bahwa UM dianggap sebagai aktor aktif dalam gerakan keberlanjutan global, bukan hanya penonton. Langkah UM ini memperkuat argumen bahwa kampus Indonesia mulai diperhitungkan di panggung sustainability global, bukan sekadar hadir sebagai peserta pelengkap.

Universitas Brawijaya mencatat sesuatu yang bahkan lebih sulit dicapai dari sekadar masuk peringkat: konsistensi progres. Kenaikan pada 14 dari 17 indikator SDGs secara bersamaan bukan hasil dari satu program unggulan yang meledak di satu bidang, melainkan sinyal adanya perbaikan sistemik yang merata. Dalam logika pemeringkatan THE, ini jauh lebih berarti daripada lonjakan tajam di satu indikator saja. Artinya, Brawijaya tidak hanya bagus di satu dimensi — mereka sedang membangun fondasi keberlanjutan yang lebih luas dan lebih kokoh dari tahun ke tahun. Progres semacam ini yang biasanya menjadi fondasi bagi universitas untuk melompat ke peringkat yang jauh lebih tinggi di edisi-edisi berikutnya.

Salah satu cerita paling menarik dari edisi 2026 ini datang dari Jawa Timur. Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) tampil sebagai kampus terbaik di provinsi tersebut — sebuah pencapaian yang mengesankan justru karena UMSIDA adalah universitas swasta yang dibangun di atas nilai-nilai Islam. Fakta bahwa sebuah kampus berbasis keagamaan mampu unggul dalam pemeringkatan keberlanjutan global membuktikan bahwa komitmen terhadap lingkungan dan masyarakat tidak eksklusif milik institusi besar atau kampus negeri. Narasi yang sama diperkuat oleh Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), yang berhasil masuk 200 besar dunia untuk SDG 8 — Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Dua kampus Muhammadiyah yang kompetitif secara global di saat yang bersamaan adalah bukti bahwa ekosistem universitas Muhammadiyah sedang bergerak serius ke arah yang benar.

Di peta nasional, Universitas Padjadjaran (Unpad) menempati posisi kelima, sementara Universitas Bakrie menempatkan diri dalam tiga besar nasional. Posisi Universitas Bakrie di tiga besar adalah kejutan yang menyenangkan — sebuah universitas yang secara skala lebih kecil dari kampus negeri besar, namun mampu bersaing di level teratas secara nasional dalam hal kontribusi keberlanjutan. Gabungan nama-nama ini — dari Unpad yang besar hingga Bakrie yang lebih ramping — menunjukkan bahwa dalam pemeringkatan THE ini, ukuran kampus bukan penentu utama. Yang menentukan adalah seberapa dalam riset dan kebijakan kampus benar-benar berpijak pada isu-isu SDGs yang relevan.

Melihat keseluruhan gambaran ini, satu hal menjadi jelas: tren positif kampus Indonesia di pemeringkatan THE Sustainability Impact Ratings bukan kebetulan musiman. Ini adalah hasil dari investasi jangka panjang — dalam program riset yang berorientasi solusi, dalam kebijakan kampus hijau yang konsisten dijalankan, dan dalam keterlibatan aktif komunitas yang melampaui batas tembok universitas. Perkembangan ini sejalan dengan peta jalan keberlanjutan yang kini mulai dipegang oleh generasi muda Indonesia. Bagi siapa pun yang peduli pada masa depan lingkungan dan sosial Indonesia, ini adalah sinyal yang layak untuk terus dipantau — dan bagi kampus-kampus yang belum berpartisipasi, 2026 adalah momen terbaik untuk mulai.

Frequently Asked Questions
Apa itu THE Sustainability Impact Ratings?
THE Sustainability Impact Ratings adalah pemeringkatan tahunan dari Times Higher Education yang mengukur kontribusi universitas terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Penilaian dilakukan berdasarkan riset, kebijakan internal kampus, dan keterlibatan komunitas — bukan sekadar prestasi akademik.

Siapa kampus Indonesia terbaik di THE Sustainability Impact Ratings 2026?
Berdasarkan data yang tersedia, Universitas Bakrie masuk dalam tiga besar nasional, sementara Universitas Muhammadiyah Sidoarjo menjadi yang terbaik di Jawa Timur. Unpad berada di posisi kelima nasional.

Apa yang membuat Universitas Brawijaya menonjol di edisi 2026?
Universitas Brawijaya mencatat kenaikan pada 14 dari 17 indikator SDGs — sebuah progres sistemik yang merata, bukan lonjakan di satu bidang saja. Ini menunjukkan perbaikan yang konsisten dan menyeluruh di berbagai dimensi keberlanjutan.

Apa itu THE Global Sustainable Development Congress?
Ini adalah forum internasional yang diinisiasi oleh Times Higher Education, mempertemukan universitas-universitas dengan komitmen keberlanjutan terkuat di dunia. Keikutsertaan Universitas Negeri Malang di kongres 2026 menandakan pengakuan atas peran aktif UM dalam gerakan keberlanjutan global.

Bagaimana kampus bisa berpartisipasi di pemeringkatan THE ini?
Universitas perlu mendaftarkan diri ke platform THE Impact Rankings, kemudian menyerahkan data terkait riset SDGs, kebijakan kampus hijau, dan program keterlibatan komunitas. Proses ini terbuka untuk universitas dari seluruh dunia.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?