Pertamina Pimpin Ekosistem SAF saat Indonesia Bangun Infrastruktur Berkelanjutan

Sektor penerbangan global menyumbang sekitar 2 hingga 3 persen dari total emisi karbon dunia—angka yang terlihat kecil, namun setara dengan emisi tahunan seluruh negara Jerman. Di tengah tekanan global untuk memangkas angka itu, ASEAN SAF Workshop 2026 berlangsung di Sheraton Bali Kuta Resort, Denpasar, pada 13 Juli 2026. Indonesia bukan sekadar tuan rumah seremonial. Dengan Pertamina sebagai motor penggerak ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) regional, dan dengan pernyataan tegas dari Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono bahwa infrastruktur berkelanjutan harus menjadi paradigma nasional—bukan sekadar opsi kebijakan—momentum ini membawa bobot yang berbeda dari sekadar konferensi.

Yang menarik bukan hanya satu sinyal, melainkan konvergensi beberapa sinyal sekaligus dalam satu periode waktu yang sama. Di level kebijakan makro, ada pernyataan AHY yang menempatkan infrastruktur hijau sebagai kerangka paradigmatik pembangunan. Di level industri, ada Pertamina yang secara aktif membangun ekosistem SAF—dari riset bahan baku hingga kolaborasi dengan maskapai. Dan di level akar rumput, ada AdaKami yang membangun akses air bersih dan sanitasi di Dusun Banjarsari, serta UI GreenMetric yang meluncurkan pemeringkatan korporasi berkelanjutan. Ini bukan kebetulan yang tersebar. Ini adalah anatomi ekosistem keberlanjutan Indonesia yang sedang menemukan bentuknya—berlapis, bergerak dari atas ke bawah sekaligus dari bawah ke atas.

Fakta Cepat
  • SAF dapat memangkas emisi penerbangan hingga 80% dibanding avtur konvensional, dihitung per siklus hidup bahan bakar.
  • ASEAN SAF Workshop 2026 digelar pada 13 Juli 2026 di Sheraton Bali Kuta Resort, Denpasar, Bali.
  • Pertamina adalah satu-satunya BUMN energi Indonesia yang secara aktif memimpin pengembangan ekosistem SAF di tingkat regional ASEAN.
  • UI GreenMetric, lembaga pemeringkat keberlanjutan kampus bertaraf internasional, kini merambah ke pemeringkatan korporasi berkelanjutan melalui Sustainable Corporate Rankings.
  • AdaKami membangun akses air bersih dan sanitasi layak di Dusun Banjarsari sebagai wujud komitmen ESG di level komunitas.
  • ICAO menetapkan target net-zero emisi penerbangan internasional pada 2050, dengan SAF sebagai instrumen dekarbonisasi utama.

Ketika Infrastruktur Bukan Lagi Sekadar Beton dan Aspal

Pernyataan AHY bahwa infrastruktur berkelanjutan harus menjadi paradigma—bukan pilihan—memiliki implikasi yang jauh lebih konkret dari yang terdengar di permukaan. Dalam kerangka Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, pergeseran paradigma berarti bahwa standar keberlanjutan tidak lagi bisa menjadi lampiran opsional dalam dokumen perencanaan proyek. Ia harus terintegrasi sejak tahap desain awal, mulai dari kajian dampak lingkungan hingga pemilihan material konstruksi dan sumber energi. Ini bukan retorika semata—paradigma baru ini bersinggungan langsung dengan komitmen Indonesia dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang telah diperbarui, yang menargetkan pengurangan emisi 32 persen dengan upaya sendiri, atau 43 persen dengan dukungan internasional, pada 2030.

Dalam kerangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), pernyataan AHY paling langsung menyentuh SDG 9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur tangguh, serta SDG 11 tentang kota dan permukiman yang berkelanjutan. Masalahnya, jarak antara pernyataan paradigmatik dan implementasi anggaran sering kali sangat jauh. Alokasi fiskal untuk infrastruktur hijau masih bersaing dengan kebutuhan dasar infrastruktur konvensional di banyak daerah. Yang menjadikan pernyataan AHY punya bobot lebih adalah konteksnya—ia disampaikan di saat Indonesia sedang aktif menjadi tuan rumah forum-forum energi regional, termasuk workshop SAF ASEAN, yang menuntut adanya kebijakan nyata di balik retorika kepemimpinan.

Pertamina dan Ekosistem yang Sedang Dibangun dari Nol

Memahami peran Pertamina dalam SAF memerlukan pemahaman bahwa ini bukan sekadar proyek produksi bahan bakar baru. Ini adalah upaya membangun sebuah ekosistem dari hulu ke hilir—dari riset bahan baku yang tersedia di Indonesia, hingga kolaborasi dengan maskapai dan infrastruktur distribusi di bandara. Bahan baku SAF yang menjadi fokus pengembangan mencakup jatropha (tanaman jarak), limbah kelapa sawit dalam bentuk PFAD (Palm Fatty Acid Distillate), serta minyak jelantah atau used cooking oil. Indonesia secara teoritis memiliki keunggulan komparatif yang signifikan dalam hal ketersediaan bahan baku nabati, mengingat posisinya sebagai produsen kelapa sawit terbesar di dunia.

Namun keunggulan bahan baku tidak otomatis berarti keunggulan produksi. Tantangan teknis konversi biomassa menjadi SAF yang memenuhi standar ASTM internasional tetap signifikan, dan kapasitas kilang Pertamina yang ada perlu adaptasi untuk mengolah feedstock non-konvensional ini secara efisien dan dalam skala komersial. Pertamina dalam hal ini berperan sebagai anchor—entitas tunggal yang cukup besar untuk menanggung risiko investasi awal, membangun standar industri, dan menarik pemain lain masuk ke ekosistem. Tanpa anchor seperti ini, rantai pasokan SAF Indonesia tidak akan pernah terbentuk. Inilah yang membedakan Pertamina dari sekadar perusahaan yang “ikut tren hijau”—ia sedang membangun rel, bukan sekadar menaiki kereta.

SAF vs. Avtur: Memahami Kompleksitas Transisi

Dimensi SAF Avtur Konvensional
Sumber Bahan Baku Jatropha, limbah sawit (PFAD), minyak jelantah, alga, limbah pertanian Minyak bumi mentah (fosil)
Emisi CO₂ (per siklus hidup) Hingga 80% lebih rendah dari avtur konvensional Baseline referensi industri
Harga Relatif per Liter 3 hingga 5 kali lebih mahal dari avtur konvensional Lebih murah dan lebih stabil
Kesiapan Infrastruktur Distribusi Masih dalam tahap pengembangan; belum ada jaringan distribusi bandara yang matang di Indonesia Infrastruktur lengkap dan tersebar di seluruh bandara Indonesia
Status Regulasi ICAO/IATA Diakui dalam skema CORSIA; ICAO targetkan net-zero 2050 dengan SAF sebagai instrumen utama Bahan bakar standar; regulasi emisinya semakin diperketat
Produksi Indonesia Saat Ini Masih dalam tahap riset dan uji coba skala terbatas; belum produksi komersial massal Kapasitas penuh; telah diproduksi dan didistribusikan secara nasional

Tabel di atas menjelaskan mengapa transisi ke SAF bukan sekadar keputusan teknis, melainkan keputusan ekonomi dan politik yang kompleks. Selama harga SAF masih berada di kisaran tiga hingga lima kali lipat avtur konvensional, tidak ada maskapai yang akan mengadopsinya secara sukarela dalam skala besar tanpa ada mandate regulasi atau insentif fiskal yang signifikan. Persis di sinilah peran forum seperti ASEAN SAF Workshop 2026 menjadi kritis—bukan hanya untuk berbagi pengetahuan teknis, tetapi untuk membangun konsensus kebijakan regional yang bisa mempercepat permintaan dan menekan biaya melalui skala ekonomi.

Bali sebagai Ruang Negosiasi Masa Depan Penerbangan ASEAN

ASEAN SAF Workshop 2026 di Sheraton Bali Kuta Resort menempatkan Indonesia pada posisi yang sebelumnya lebih sering diisi oleh Singapura atau Malaysia dalam percakapan energi bersih regional. Agenda utama workshop ini berpusat pada harmonisasi kebijakan SAF di kawasan, pembahasan roadmap blending mandate masing-masing negara, serta eksplorasi skema pendanaan bersama untuk infrastruktur produksi dan distribusi SAF. Yang diharapkan keluar dari forum ini bukan sekadar deklarasi niat, melainkan komitmen volume—seberapa banyak SAF yang siap diserap oleh maskapai-maskapai anggota ASEAN dalam horizon waktu yang terukur.

Posisi Indonesia di peta ini menarik dan sekaligus penuh tekanan. Dibanding Singapura yang sudah memiliki SAF mandate formal—mewajibkan 1 persen campuran SAF di semua penerbangan yang meninggalkan Changi sejak 2026—Indonesia masih bergerak di fase pengembangan ekosistem. Namun Indonesia memiliki satu keunggulan struktural yang tidak dimiliki Singapura: ketersediaan bahan baku. Jika Pertamina berhasil membangun kapasitas produksi komersial yang kompetitif, Indonesia berpotensi menjadi pemasok SAF untuk seluruh kawasan—bukan hanya konsumen. Ini adalah perbedaan posisi geopolitik yang sangat material dalam ekonomi hijau yang sedang tumbuh cepat di Asia Tenggara.

Peta Regional: Di Mana Indonesia Berdiri

Negara Kebijakan/Mandate SAF Produksi Lokal Target Blending 2030 Aktor Utama
Indonesia Dalam tahap pengembangan regulasi; belum ada mandate formal Tahap riset dan uji coba (Pertamina) Sedang dirumuskan Pertamina
Singapura Mandate 1% SAF aktif sejak 2026 di Changi Terbatas; bergantung pada impor 5% pada 2030 CAG, Singapore Airlines
Malaysia Kerangka kebijakan SAF sedang disusun; fokus pada bahan baku sawit Potensi besar dari kelapa sawit; belum skala komersial Dalam pembahasan Petronas, Malaysia Airlines
Thailand Eksplorasi awal; roadmap SAF nasional dalam penyusunan Minimal; fokus pada biofuel untuk darat Belum ditetapkan PTT, Thai Airways
Filipina Tahap awal eksplorasi; belum ada kebijakan spesifik SAF Belum ada Belum ditetapkan Philippine Airlines, Seair

Data di atas menunjukkan bahwa ASEAN secara keseluruhan masih berada di fase awal adopsi SAF—yang paradoksnya juga merupakan peluang bagi Indonesia untuk menetapkan posisi kepemimpinan sebelum negara lain bergerak lebih cepat. Momentum dari ASEAN SAF Workshop 2026 ini penting justru karena jendela waktu untuk menjadi pemimpin regional masih terbuka, namun tidak akan terbuka selamanya.

UI GreenMetric dan Pertanyaan tentang Akuntabilitas Korporasi

Peluncuran Sustainable Corporate Rankings oleh UI GreenMetric adalah sinyal penting dari dunia akademik bahwa standar keberlanjutan korporasi tidak bisa diserahkan sepenuhnya kepada lembaga rating komersial yang sering memiliki konflik kepentingan. UI GreenMetric selama ini dikenal sebagai salah satu sistem pemeringkatan universitas berkelanjutan paling berpengaruh di dunia—metodologinya menggabungkan indikator fisik (infrastruktur hijau, energi, air, limbah) dengan indikator tata kelola dan transparansi pelaporan. Ketika metodologi ini diadaptasi untuk korporasi, diferensiasinya terletak pada pendekatan berbasis bukti fisik, bukan sekadar laporan ESG yang ditulis sendiri.

Target pesertanya berpotensi mencakup BUMN, perusahaan swasta besar, dan bahkan startup yang ingin memvalidasi klaim keberlanjutan mereka dengan kredensial akademik yang independen. Implikasinya bagi lanskap korporasi Indonesia cukup signifikan: jika pemeringkatan ini diadopsi sebagai salah satu kriteria dalam pengadaan pemerintah atau sebagai syarat akses pembiayaan hijau, maka ia bisa menjadi instrumen enforcement yang jauh lebih efektif daripada laporan keberlanjutan sukarela yang selama ini berlaku. Tanpa mekanisme seperti ini, keberlanjutan yang masuk laporan keuangan berisiko tetap menjadi angka di atas kertas tanpa konsekuensi nyata.

🌱 Trivia: Berapa lama minyak jelantah bisa berubah menjadi bahan bakar pesawat?
Jawaban: Proses konversi minyak jelantah (used cooking oil) menjadi SAF melalui jalur teknologi HEFA (Hydroprocessed Esters and Fatty Acids) dapat berlangsung dalam hitungan jam di kilang yang memadai. Namun waktu yang lebih panjang dibutuhkan untuk proses pengumpulan, pemurnian, dan sertifikasi kualitas agar SAF yang dihasilkan memenuhi standar ASTM D7566—standar internasional yang wajib dipenuhi sebelum bahan bakar tersebut boleh digunakan di pesawat komersial.

AdaKami dan Logika ESG yang Bekerja di Tingkat Paling Dasar

Di antara semua inisiatif yang disebutkan, proyek air bersih dan sanitasi di Dusun Banjarsari oleh AdaKami mungkin tampak paling “kecil” secara skala. Namun justru di sinilah letak relevansinya yang unik. AdaKami adalah perusahaan fintech—sebuah entitas digital yang secara logis tidak memiliki kewajiban langsung terhadap infrastruktur fisik komunitas pedesaan. Fakta bahwa mereka memilih untuk mengintegrasikan program akses air bersih ke dalam operasi nyata, bukan hanya dalam dokumen laporan tahunan ESG, adalah sinyal bahwa definisi “infrastruktur berkelanjutan” sedang meluas melampaui sektor energi dan transportasi.

Akses air bersih adalah SDG 6—salah satu target yang paling tertinggal pencapaiannya secara global, dan Indonesia bukan pengecualian. Ketika sebuah startup digital memilih untuk menyentuh isu ini secara langsung di lapangan, itu merepresentasikan tren yang lebih besar: perusahaan-perusahaan teknologi generasi baru mulai memahami bahwa legitimasi sosial mereka bergantung pada kontribusi nyata, bukan hanya pada pertumbuhan valuasi. Ini relevan dengan diskursus infrastruktur berkelanjutan yang sedang dibangun di Indonesia—karena paradigma AHY dan ekosistem SAF Pertamina hanya akan bermakna jika di level paling bawah, kebutuhan dasar warga seperti air bersih juga terpenuhi.

Tiga Lapis yang Harus Saling Terhubung

Cara paling sistemik untuk membaca semua sinyal ini adalah melalui kerangka tiga lapisan yang saling bergantung. Lapisan pertama adalah kebijakan makro—pernyataan AHY, regulasi Kementerian ESDM tentang transisi energi, dan komitmen NDC Indonesia yang mengikat di tingkat internasional. Lapisan ini menetapkan arah dan legitimasi regulasi bagi semua aktor di bawahnya. Tanpa kebijakan yang kuat di lapisan ini, inisiatif industri tidak akan memiliki kepastian hukum, dan insentif pasar tidak akan terbentuk.

Lapisan kedua adalah industri dan lembaga meso—di mana Pertamina, ekosistem SAF, dan pemeringkatan UI GreenMetric bekerja. Ini adalah lapisan yang mengubah kebijakan menjadi produk, standar, dan infrastruktur nyata. Pertamina membangun kapasitas produksi, UI GreenMetric membangun standar akuntabilitas, dan keduanya berfungsi sebagai jembatan antara niat kebijakan dan kenyataan di lapangan. Lapisan ketiga adalah komunitas dan individu—di mana program air bersih AdaKami di Dusun Banjarsari beroperasi. Ini adalah lapisan di mana keberlanjutan dirasakan secara langsung oleh manusia, bukan hanya dicatat dalam laporan. Masalah struktural yang sering terjadi di Indonesia—dan di banyak negara berkembang lainnya—adalah ketiga lapisan ini bekerja secara terputus-putus. Kebijakan makro tidak selalu menginformasikan keputusan investasi industri, dan program komunitas sering berjalan sebagai inisiatif terpisah tanpa koneksi ke ekosistem yang lebih besar. Seperti yang bisa disimak dalam analisis tujuh sinyal keberlanjutan yang sedang mengubah wajah Indonesia, tantangan utama bukan pada kurangnya inisiatif, melainkan pada lemahnya koordinasi antar lapisan.

Kesenjangan yang Tidak Boleh Diabaikan

Membaca semua sinyal positif ini secara jujur membutuhkan pengakuan atas kesenjangan yang masih ada. Regulasi SAF Indonesia belum memiliki mandate yang sekuat Singapura—tanpa kewajiban blending yang terukur, permintaan pasar untuk SAF tidak akan cukup kuat untuk mendorong investasi produksi ke skala komersial. Harga SAF yang masih tiga hingga lima kali lipat avtur konvensional bukan sekadar masalah teknis produksi; ia adalah masalah struktural yang membutuhkan intervensi fiskal—baik berupa subsidi produksi, keringanan pajak bahan baku, maupun skema blending credit yang memberikan nilai ekonomi nyata bagi produsen SAF. Tanpa instrumen ini, Pertamina akan terus beroperasi di zona demonstration project, bukan di zona produksi komersial yang bisa mengubah emisi sektor penerbangan secara material.

Sementara itu, UI GreenMetric Sustainable Corporate Rankings, semenarik apapun konsepnya, belum memiliki mekanisme enforcement yang jelas. Pemeringkatan yang tidak memiliki konsekuensi regulasi atau finansial berisiko menjadi penghargaan simbolik yang dikejar untuk keperluan PR, bukan untuk mendorong perubahan operasional nyata. Dan program air bersih AdaKami di Dusun Banjarsari, sekonyata apapun dampaknya di tingkat lokal, memerlukan replikasi sistematis—bukan hanya oleh satu perusahaan fintech, melainkan sebagai bagian dari program nasional yang terhubung dengan agenda infrastruktur AHY. Pendanaan infrastruktur hijau Indonesia juga masih sangat bergantung pada pinjaman luar negeri dan skema pembiayaan multilateral, yang membawa risiko keberlanjutan fiskal tersendiri jika tidak diimbangi dengan pengembangan instrumen pembiayaan domestik seperti green bonds dan blended finance.

Dari Momentum ke Konsistensi

Indonesia saat ini berada pada titik di mana bahan-bahannya tersedia: sumber daya alam untuk SAF, BUMN yang berambisi menjadi pemimpin ekosistem, lembaga akademik yang membangun standar akuntabilitas, dan perusahaan-perusahaan yang mulai mengintegrasikan ESG ke dalam operasi nyata. Yang menjadi penentu apakah momentum ini akan bertahan atau menguap seperti banyak inisiatif keberlanjutan sebelumnya adalah dua hal: konsistensi regulasi dan koordinasi lintas sektor. Blending mandate SAF yang konkret dan terjadwal perlu ditetapkan—bukan sekadar disebutkan dalam forum. Pemeringkatan UI GreenMetric perlu dihubungkan dengan kriteria pengadaan pemerintah sehingga ia memiliki gigi enforcement.

Insentif fiskal untuk produsen SAF lokal perlu dirancang secara spesifik, bukan menunggu sampai harga SAF turun dengan sendirinya—karena itu tidak akan terjadi tanpa intervensi kebijakan. Dan program komunitas seperti yang dilakukan AdaKami perlu menjadi bagian dari arsitektur program nasional yang terkonsolidasi, bukan tetap sebagai inisiatif CSR yang tersebar. ASEAN SAF Workshop 2026 di Bali adalah momen yang tepat untuk membuktikan bahwa Indonesia memimpin bukan hanya dalam retorika, tetapi dalam kesediaan untuk membuat komitmen yang terukur dan mengikat. Paradigma infrastruktur berkelanjutan yang diusung AHY akan menemukan maknanya bukan dari pernyataan, melainkan dari regulasi yang lahir setelah pernyataan itu diucapkan.

Frequently Asked Questions
Apa itu SAF dan mengapa penting bagi Indonesia?
SAF atau Sustainable Aviation Fuel adalah bahan bakar penerbangan yang diproduksi dari sumber-sumber terbarukan seperti minyak jelantah, limbah pertanian, atau tanaman energi seperti jatropha. SAF penting bagi Indonesia karena negara ini memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah—terutama dari sektor kelapa sawit—sekaligus menghadapi tekanan global untuk menurunkan emisi dari sektor penerbangan yang terus tumbuh.

Apakah SAF sudah bisa digunakan di pesawat komersial yang ada sekarang?
Ya. SAF yang telah memenuhi standar ASTM D7566 dapat dicampur dengan avtur konvensional dan digunakan di mesin pesawat yang ada tanpa modifikasi apapun. Inilah keunggulan utama SAF dibanding teknologi alternatif seperti hydrogen aviation atau electric aircraft yang memerlukan perubahan fundamental pada desain pesawat.

Mengapa harga SAF jauh lebih mahal dari avtur biasa?
Proses produksi SAF lebih kompleks dan mahal dibanding penyulingan minyak bumi konvensional. Belum adanya skala ekonomi yang memadai—karena permintaan masih rendah—membuat biaya per liter tetap tinggi. Tanpa blending mandate atau insentif fiskal dari pemerintah, situasi ini sulit berubah dalam waktu dekat.

Apa yang dimaksud dengan UI GreenMetric Sustainable Corporate Rankings?
Ini adalah sistem pemeringkatan keberlanjutan korporasi yang dikembangkan oleh Universitas Indonesia melalui lembaga UI GreenMetric—yang sebelumnya lebih dikenal untuk pemeringkatan universitas hijau. Sistem ini mengevaluasi korporasi berdasarkan indikator keberlanjutan yang terverifikasi secara independen, bukan hanya dari laporan yang ditulis sendiri oleh perusahaan.

Apa hubungan antara program air bersih AdaKami dan infrastruktur berkelanjutan?
Infrastruktur berkelanjutan tidak terbatas pada energi atau transportasi. Akses terhadap air bersih dan sanitasi adalah bagian dari SDG 6 dan merupakan komponen fundamental dari pembangunan yang berkelanjutan. Ketika perusahaan fintech seperti AdaKami mengambil peran aktif di domain ini, itu mencerminkan perluasan tanggung jawab korporasi di luar sektor bisnis inti mereka—sebuah tren yang semakin relevan dalam ekosistem ESG Indonesia.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?