- 40% lebih hemat — Ericsson telah mencapai target penurunan konsumsi energi di lokasi base station radio baru sebesar 40% pada tahun 2025, dan kini menargetkan 50% pada 2027.
- 21% dari pendapatan — Ericsson mengalokasikan hampir 21% dari total pendapatannya untuk riset dan pengembangan (R&D) pada 2025, memastikan inovasi efisiensi energi terus berlanjut.
- 6 tahun berturut-turut — Berdasarkan laporan Frost Radar™: 5G Network Infrastructure 2026 oleh Frost & Sullivan, Ericsson memimpin pasar infrastruktur 5G global selama enam tahun berturut-turut dalam aspek pertumbuhan dan inovasi.
- Konteks Indonesia — Industri digital global — termasuk jaringan telekomunikasi — berkontribusi sekitar 2-4% emisi CO₂ global, setara dengan emisi sektor penerbangan; efisiensi jaringan adalah kunci dekarbonisasi digital.
- Target net-zero 2040 — Ericsson menargetkan operasional net-zero di seluruh rantai nilai (value chain) pada tahun 2040, dengan tonggak pengurangan emisi Scope 1 dan 2 yang sudah berjalan aktif sejak 2020.
Mengapa Ini Penting: Ketika Sinyal Ponselmu Ikut Menghangatkan Bumi
Bayangkan sebuah kota besar yang seluruh gedungnya masih memakai ribuan lampu pijar tua — boros listrik, panas berlebih, tagihan mencekik. Lalu, dalam satu malam, semua diganti dengan lampu LED cerdas yang hanya menyala penuh ketika benar-benar dibutuhkan. Penghematan energinya bukan lagi hitungan satu-dua rumah, melainkan skala kota.
Itulah persis yang sedang terjadi di infrastruktur jaringan seluler kita. Setiap kali Anda mengunggah video, melakukan video call, atau sekadar memeriksa media sosial, ada ribuan menara BTS (Base Transceiver Station) yang bekerja tanpa henti di balik layar. Di Indonesia saja, terdapat ratusan ribu BTS yang beroperasi sepanjang waktu. Jika setiap menara mengonsumsi energi secara tidak efisien, dampak karbonnya setara dengan mengoperasikan ribuan mesin industri sekaligus.
Konteks ini menjadi sangat relevan dengan target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060. Trafik data 5G diproyeksikan melonjak berlipat ganda setiap tahunnya hingga 2030 — artinya, tanpa inovasi efisiensi yang serius, jejak karbon sektor telekomunikasi akan ikut meledak. Inovasi yang dilakukan Ericsson bukan sekadar urusan bisnis korporat; ini adalah bagian langsung dari solusi perubahan iklim yang bisa kita rasakan dampaknya setiap kali sinyal 5G muncul di layar ponsel kita. Dan perubahan ini membuktikan bahwa, seperti halnya gerakan mengubah sampah menjadi energi, setiap langkah efisiensi di level infrastruktur menghasilkan dampak yang jauh melampaui skala individualnya.
Intinya: Jaringan seluler yang lebih hemat energi bukan hanya soal tagihan listrik operator yang lebih murah — ini adalah kontribusi infrastruktur digital langsung terhadap target dekarbonisasi nasional dan global.
Langkah Nyata: Bagaimana Ericsson Membangun Jaringan yang Lebih Hijau
Ericsson tidak hanya membuat janji di atas kertas. Ada serangkaian inovasi konkret yang sudah berjalan dan menghasilkan penghematan energi yang bisa diukur. Berikut adalah pendekatan bertahap yang mereka terapkan:
-
AI-Driven Sleep Mode (Mode Tidur Cerdas)
Ini adalah “kunci lampu otomatis” versi jaringan seluler. Ketika trafik data di suatu area rendah — misalnya dini hari — sistem AI Ericsson secara otomatis menonaktifkan sebagian komponen radio yang tidak diperlukan. Begitu trafik naik lagi, sistem langsung aktif kembali dalam hitungan milidetik. Operator yang sudah mengaktifkan fitur ini melaporkan penghematan energi yang signifikan tanpa penurunan kualitas layanan. -
Modernisasi Perangkat Keras dengan Prosesor Generasi Terbaru
Ericsson Radio System generasi terbaru menggunakan prosesor yang jauh lebih efisien dibanding generasi sebelumnya. Ini seperti mengganti mesin mobil lama dengan mesin hybrid — tenaga sama, bahan bakar jauh lebih irit. Pada solusi 5G Core mereka, pembaruan prosesor terbukti menekan konsumsi daya secara substansial. -
Intent-Driven Software Optimization
Melalui pembaruan perangkat lunak berbasis AI, Ericsson memungkinkan jaringan “belajar” pola trafik di suatu wilayah dan mengoptimalkan distribusi energi secara real-time. Artinya, efisiensi terus meningkat seiring waktu — jaringan yang sama akan semakin hemat seiring berjalannya bulan. -
Open RAN dan Virtualisasi Jaringan
Dengan mendorong arsitektur Open RAN, Ericsson memungkinkan operator untuk mengonsolidasikan fungsi jaringan ke dalam perangkat lunak, mengurangi kebutuhan perangkat keras fisik, dan pada akhirnya memangkas konsumsi energi keseluruhan infrastruktur. -
Massive MIMO dengan Efisiensi Tinggi
Teknologi Massive MIMO (Multiple Input Multiple Output) generasi terbaru Ericsson mengirimkan data ke lebih banyak pengguna secara bersamaan dengan konsumsi energi per GB yang lebih rendah — persis seperti bus kota yang lebih efisien dibanding puluhan mobil pribadi.
Setiap operator yang mengadopsi fitur-fitur ini — termasuk operator di Indonesia yang bermitra dengan Ericsson — sedang mencatat “kemenangan kecil” yang nyata dalam perjalanan panjang dekarbonisasi. Dan seperti yang bisa kita pelajari dari perkembangan pasar karbon Indonesia, kemenangan-kemenangan kecil di level korporat inilah yang pada akhirnya membentuk sistem yang lebih besar.
Tabel Perbandingan: Vendor Infrastruktur Jaringan dan Komitmen Efisiensi Energi
| Vendor | Klaim Penghematan Energi | Teknologi Kunci | Status Sertifikasi & Target Hijau |
|---|---|---|---|
| Ericsson | Penurunan 40% konsumsi energi base station baru (2025); target 50% pada 2027 | AI Sleep Mode, Massive MIMO, Intent-Driven Software, Open RAN | Target net-zero 2040; peringkat teratas Frost Radar™ 2026; Science Based Targets (SBTi) aktif |
| Nokia | Klaim pengurangan konsumsi energi hingga 30-35% pada RAN terbaru dibanding generasi sebelumnya | Nokia AirScale, AI-powered network optimization, liquid cooling | Target net-zero 2040; komitmen SBTi; laporan keberlanjutan tahunan aktif |
| Huawei | Klaim efisiensi energi hingga 20-30% lebih baik per bit data pada produk RAN terbarunya | PowerStar solution, AI energy saving, MetaAAU antenna | Komitmen karbon netral 2045; tantangan verifikasi independen di beberapa pasar |
| Samsung | Penghematan energi 30% pada produk RAN generasi terbaru untuk jaringan 5G mmWave | AI-based energy saving features, advanced semiconductor pada chipset RAN | Target net-zero 2050 untuk seluruh operasi; aktif di pasar Korea Selatan, AS, Jepang |
*Catatan: Data klaim vendor berdasarkan laporan publik masing-masing perusahaan dan laporan analis industri. Angka aktual dapat bervariasi tergantung kondisi jaringan dan konfigurasi spesifik deployment.
Perspektif Sistem: Antara Klaim Hijau dan Akuntabilitas Nyata
Inovasi Ericsson patut diapresiasi — arahnya jelas benar dan progresnya terukur. Namun, pendekatan yang jujur mengharuskan kita juga melihat gambaran yang lebih lengkap.
Yang berjalan baik: Komitmen Ericsson bukan sekadar narasi pemasaran. Target 40% efisiensi yang dicapai pada 2025 adalah angka yang dapat diverifikasi oleh operator mitra. Posisi mereka sebagai pemimpin pasar selama enam tahun di Frost Radar™ mencerminkan kepercayaan industri yang dibangun dari bukti nyata di lapangan. Di Indonesia, keterlibatan Ericsson dalam forum seperti Indotelko Forum 2026 juga menunjukkan komitmen terhadap ekosistem telekomunikasi nasional dan visi konektivitas digital yang berkelanjutan.
Pertanyaan yang perlu terus diajukan: Ada kesenjangan yang perlu diperhatikan antara efisiensi operasional (Scope 1 dan 2) dengan emisi rantai pasok (Scope 3). Produksi perangkat keras jaringan — mulai dari penambangan mineral untuk komponen elektronik hingga proses manufaktur — masih menyimpan jejak karbon yang signifikan. Daur ulang perangkat keras jaringan lama yang digantikan oleh generasi baru juga menjadi tantangan logistik yang belum terpecahkan sepenuhnya di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia. Selain itu, dari sisi regulasi, standar efisiensi energi BTS dari SDPPI/Kemkominfo Indonesia masih dalam tahap pengembangan, sehingga insentif untuk adopsi teknologi lebih hijau belum sekuat di Eropa atau Jepang.
Implikasi finansial yang tidak boleh diabaikan: Transisi menuju jaringan yang lebih efisien memiliki dimensi ekonomi yang nyata. Operator telekomunikasi yang lebih awal mengadopsi teknologi hemat energi ini akan menikmati penghematan biaya operasional (OPEX) yang signifikan dalam jangka panjang — terutama karena listrik adalah komponen biaya terbesar infrastruktur jaringan. Sebaliknya, operator yang terlambat beradaptasi berisiko menanggung biaya karbon yang semakin besar seiring ketatnya regulasi lingkungan ke depan. Ini bukan hanya soal planet yang lebih sehat, tetapi juga tentang keunggulan kompetitif finansial.
Tren kebijakan global — dari standar efisiensi energi Uni Eropa hingga tekanan investor ESG — semakin mendorong seluruh industri telekomunikasi ke arah yang benar. Sama seperti bagaimana jejak karbon tersembunyi dalam aktivitas keseharian mulai mendapat perhatian lebih luas, kesadaran publik terhadap jejak karbon infrastruktur digital juga akan terus meningkat — dan ini akan menjadi tekanan positif bagi industri untuk bergerak lebih cepat.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul
Apakah jaringan yang lebih hemat energi berarti sinyal saya akan lebih lemah?
Tidak. Ini adalah salah satu kesalahpahaman yang paling umum. Teknologi hemat energi Ericsson, seperti AI Sleep Mode, hanya menonaktifkan komponen yang tidak aktif ketika trafik rendah — misalnya tengah malam. Begitu trafik naik, sistem langsung aktif penuh dalam milidetik, jauh lebih cepat dari yang bisa dirasakan pengguna.
Bahkan, dalam banyak kasus, jaringan yang lebih modern justru memberikan kualitas sinyal yang lebih baik karena efisiensi pemrosesan yang meningkat. Hemat energi dan kualitas tinggi bukan trade-off — keduanya bisa dicapai bersama dengan teknologi yang tepat.
Siapa yang menanggung biaya transisi ke jaringan yang lebih hijau ini — operator atau konsumen?
Dalam jangka pendek, investasi awal (capital expenditure/capex) untuk modernisasi jaringan ditanggung oleh operator telekomunikasi. Ini adalah keputusan bisnis strategis, bukan beban yang langsung diteruskan ke tarif pelanggan.
Yang menarik, dalam jangka panjang, penghematan biaya operasional dari efisiensi energi justru dapat membantu operator mempertahankan tarif yang kompetitif. Artinya, transisi hijau ini secara tidak langsung menguntungkan konsumen juga. Regulasi yang mendukung — seperti insentif pajak untuk adopsi teknologi hijau — dapat mempercepat transisi ini tanpa membebani tarif pelanggan.
Bagaimana saya sebagai pengguna biasa bisa mendukung adopsi teknologi jaringan yang lebih hijau?
Lebih banyak dari yang Anda kira! Pertama, pilihlah operator yang secara transparan mengungkapkan komitmen keberlanjutan dan laporan emisi mereka — “suara” konsumen sebagai pelanggan adalah tekanan pasar yang nyata. Kedua, dukung kebijakan publik yang mendorong standar efisiensi energi untuk infrastruktur digital.
Di level pribadi, menggunakan Wi-Fi di rumah untuk aktivitas data berat (seperti streaming video) lebih efisien dibanding menggunakan data seluler terus-menerus, karena jaringan Wi-Fi rumahan umumnya memiliki efisiensi energi per bit yang lebih baik. Setiap GB yang dialihkan ke Wi-Fi adalah sedikit beban yang berkurang dari menara BTS.
Apakah klaim “hijau” Ericsson bisa dipercaya, atau ini hanya greenwashing?
Ini pertanyaan yang tepat untuk diajukan. Berdasarkan data yang tersedia, klaim efisiensi energi Ericsson memiliki dasar yang cukup kuat: angka 40% penurunan konsumsi energi di base station baru adalah target terukur yang diverifikasi oleh operator mitra, bukan sekadar proyeksi. Komitmen SBTi (Science Based Targets initiative) mereka juga diaudit pihak ketiga.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan — terutama terhadap emisi Scope 3 dari rantai pasok manufaktur yang belum setransparan emisi operasional. Standar akuntabilitas yang lebih ketat dari regulator Indonesia dan tekanan investor ESG global akan menjadi penjaga agar klaim ini terus dibuktikan dengan data nyata, bukan hanya narasi pemasaran.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










