Indonesia menghasilkan lebih dari 60 juta ton sampah setiap tahunnya — dan sebagian besar solusinya masih terpusat di kota-kota besar. Tapi di Pagerungan Besar, sebuah desa di Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, sesuatu yang berbeda sedang terjadi. Jauh dari pusat kota, di sebuah pulau yang secara geografis terisolasi, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) setempat mendorong berdirinya Recycle Center — sebuah pusat daur ulang berbasis komunitas yang menjadi jantung dari gerakan pengelolaan sampah berkelanjutan di wilayah kepulauan.
Yang membuat ini lebih menarik: motor penggeraknya bukan dinas pemerintah, bukan pula perusahaan besar. Melainkan Karang Taruna Laskar Obor — sekelompok pemuda lokal yang memilih mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai. Hampir bersamaan, di ujung timur Indonesia, PLN NTT merayakan HUT ke-24 Unit Pelaksana Pengatur Beban (UP2B) NTT bukan dengan acara seremonial semata, melainkan dengan aksi nyata: menjalankan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan menanam puluhan pohon produktif di lingkungan kantor pada Jumat, 19 Juni 2026. Dua institusi, dua wilayah, satu sinyal yang sama — bahwa keberlanjutan kini bergerak dari bawah ke atas.
- Lokasi: Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur — sebuah pulau terpencil di wilayah kepulauan
- Aktor komunitas: Karang Taruna Laskar Obor, diketuai oleh Imran
- Kegiatan inti: Pengembangan Recycle Center sebagai pusat daur ulang berbasis komunitas, didorong oleh DLH Sumenep
- Produk yang dihasilkan: Gantungan kunci dari sampah, dan paving yang sedang diproduksi secara terbatas menuju produksi massal
- Momen paralel: PLN NTT UP2B merayakan HUT ke-24 dengan program 3R dan penanaman pohon produktif
- Tanggal aksi PLN NTT: Jumat, 19 Juni 2026
- Pendekatan bersama: Prinsip 3R — Reduce, Reuse, Recycle — sebagai kerangka aksi nyata
Mengelola sampah di wilayah kepulauan bukan perkara mudah. Pagerungan Besar bukan hanya jauh dari daratan Sumenep secara jarak — ia terisolasi secara logistik. Tidak ada truk sampah yang bisa datang setiap hari, tidak ada TPA besar yang bisa menampung volume pembuangan rutin. Inilah mengapa Recycle Center yang didorong DLH menjadi relevan secara struktural: alih-alih mengirim sampah keluar pulau, warga didorong untuk mengolah sampah di tempat — memilah, memproses, dan mengubahnya menjadi barang yang berguna. Prinsipnya sederhana, tapi efeknya terhadap kebersihan lingkungan dan kemandirian komunitas pulau sangat nyata. Di sinilah konsep 3R menemukan bentuknya yang paling membumi — bukan sebagai teori kebijakan, melainkan sebagai kebutuhan hidup.
Karang Taruna Laskar Obor mengambil peran itu dengan serius. Mereka masuk ke ruang-ruang yang paling dekat dengan masyarakat: sekolah. Di MI Al-Kautsar Desa Pagerungan Besar, para siswa diajak praktik langsung mengolah sampah menjadi produk bernilai. Ketua Karang Taruna Laskar Obor, Imran, menjelaskan bahwa langkah ini bukan sekadar kegiatan ekstrakulikuler.
“Hal ini sebagai cara kami membangun gerakan kolektif dalam mengurangi penumpukan sampah di Kecamatan Sapeken dan bisa mengubah sampah menjadi memiliki nilai ekonomis.”
— Imran, Ketua Karang Taruna Laskar Obor Desa Pagerungan Besar
Saat ini, Karang Taruna Laskar Obor sudah memproduksi gantungan kunci dari bahan sampah yang telah didesain dengan beragam bentuk. Lebih jauh lagi, mereka juga tengah mengembangkan paving dari material sampah — yang kini masih diproduksi secara terbatas, namun direncanakan untuk diproduksi secara massal. Imran juga memastikan gerakan ini tidak berhenti di satu sekolah: demonstrasi langsung akan dilakukan ke sekolah-sekolah lain di Pagerungan Besar, agar gerakan ini tumbuh secara organik dan kolektif. Momentum kegiatan lepas pisah kelas akhir dimanfaatkan sebagai panggung edukasi publik, lengkap dengan stan bazar yang memperlihatkan hasil olahan sampah kepada masyarakat luas.
Sementara itu, di Nusa Tenggara Timur, PLN UP2B NTT memilih cara yang berbeda namun bertujuan serupa untuk memaknai hari jadinya yang ke-24. Alih-alih merayakan dengan acara internal biasa, unit ini menjalankan program 3R secara konkret di lingkungan kantor dan menanam puluhan pohon produktif — bukan pohon hias semata, melainkan jenis yang memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomis dalam jangka panjang. Pilihan pohon produktif ini mengandung pesan yang kuat: keberlanjutan bukan tentang terlihat hijau, tapi tentang memberi manfaat nyata. Sebuah perayaan yang justru bermakna karena berwujud tindakan.
Bila kita tarik keduanya dalam satu bingkai yang lebih luas, ada sebuah pola yang mulai terlihat jelas di Indonesia. Inisiatif Pagerungan datang dari level komunitas akar rumput yang difasilitasi pemerintah daerah; aksi PLN NTT datang dari institusi BUMN yang mengintegrasikan agenda lingkungan ke dalam perayaan korporatnya. Keduanya bukan program CSR yang dirancang untuk foto tahunan. Keduanya merefleksikan sebuah pergeseran: bahwa pengelolaan lingkungan kini mulai dianggap sebagai bagian dari operasi harian, bukan pelengkap laporan. Ini sejalan dengan semangat yang tumbuh dari kepulauan hingga Kalimantan — bahwa gerakan lingkungan Indonesia kini bergerak dengan energi yang jauh lebih terdesentralisasi dan nyata dari sebelumnya.
Yang bisa kita pelajari dari Pagerungan dan PLN NTT bukan sekadar tentang daur ulang. Ini tentang bukti bahwa keterbatasan infrastruktur tidak harus menjadi alasan untuk diam. Sebuah pulau terpencil tanpa akses logistik mudah justru melahirkan kreativitas: sampah diubah menjadi gantungan kunci, lalu paving, lalu mungkin sesuatu yang belum kita bayangkan. Jika komunitas di Pagerungan bisa membangun recycle center dengan sumber daya yang terbatas, maka pertanyaannya bagi kita yang tinggal di kota besar dengan fasilitas lebih lengkap menjadi sangat sederhana: apa yang sedang kita tunggu? Mulai dari memilah sampah rumah tangga, mendukung bank sampah di sekitar kita, hingga mendorong komunitas untuk menginisiasi gerakan serupa di lingkungan masing-masing — setiap langkah kecil itu adalah bagian dari perubahan yang nyata.
Frequently Asked Questions
Recycle Center di Pagerungan Besar adalah pusat daur ulang berbasis komunitas yang didorong oleh DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Sumenep. Pusatnya berfungsi sebagai tempat pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan sampah secara lokal — penting mengingat Pagerungan adalah pulau terpencil yang sulit dijangkau layanan pengangkutan sampah rutin.
Siapa Karang Taruna Laskar Obor?
Karang Taruna Laskar Obor adalah organisasi pemuda di Desa Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep, Jawa Timur. Diketuai oleh Imran, organisasi ini menjadi penggerak utama edukasi dan praktik pengolahan sampah di sekolah-sekolah dan komunitas lokal, termasuk memproduksi produk bernilai ekonomis dari sampah seperti gantungan kunci dan paving.
Apa yang dilakukan PLN NTT UP2B dalam peringatan HUT ke-24?
PLN NTT UP2B merayakan HUT ke-24 pada Jumat, 19 Juni 2026 dengan menjalankan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara konkret di lingkungan kantor, sekaligus menanam puluhan pohon produktif yang memberi manfaat ekologis dan ekonomis jangka panjang.
Apa itu prinsip 3R dan mengapa penting untuk pulau terpencil?
Prinsip 3R adalah Reduce (mengurangi), Reuse (menggunakan kembali), dan Recycle (mendaur ulang). Di wilayah kepulauan terpencil seperti Pagerungan, prinsip ini sangat krusial karena keterbatasan akses ke fasilitas pembuangan dan pengangkutan sampah mendorong komunitas untuk mengelola sampah secara mandiri di tempat.
Bagaimana masyarakat umum bisa mendukung gerakan ini?
Langkah paling sederhana adalah mulai memilah sampah dari rumah, mendukung bank sampah atau komunitas daur ulang di sekitar tempat tinggal, serta mendorong sekolah atau organisasi pemuda lokal untuk menginisiasi program edukasi lingkungan serupa dengan yang dilakukan Karang Taruna Laskar Obor.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










