Sebuah angka yang beredar di kalangan praktisi bisnis global seharusnya membuat siapa pun yang bekerja di bidang pemasaran dan keberlanjutan berhenti sejenak. Sebuah laporan terbaru mencatat bahwa 78 persen pemimpin bisnis di Inggris mengakui secara terbuka bahwa upaya keberlanjutan perusahaan mereka lebih banyak digerakkan oleh kepentingan citra merek daripada tindakan nyata. Angka itu bukan tuduhan dari luar — itu adalah pengakuan dari dalam. Di sinilah paradoks terbesar ekonomi hijau modern menemukan bentuknya: semakin keras sebuah merek berteriak soal keberlanjutan, semakin layak kita bertanya tentang apa yang sebenarnya ada di baliknya.
Yang membuat temuan ini lebih dari sekadar statistik adalah konteksnya. Kita sedang hidup di era ketika laporan ESG dicetak dengan kertas daur ulang, kampanye “net zero” diluncurkan bersamaan dengan ekspansi lini produk berbasis plastik, dan label “eco-friendly” ditempel pada kemasan yang belum pernah menjalani audit jejak karbon independen. Pengakuan bahwa motivasi utamanya adalah citra — bukan perubahan — bukan sekadar permasalahan etika korporasi. Ini adalah permasalahan sistemik yang berdampak langsung pada seberapa cepat dunia benar-benar bergerak menuju ekonomi rendah karbon.
- 78% pemimpin bisnis di Inggris mengakui bahwa keberlanjutan di perusahaan mereka lebih didorong oleh citra merek daripada tindakan nyata — berdasarkan laporan yang dikutip dalam sumber industri.
- L’Oréal melaporkan peningkatan hampir empat kali lipat dalam pilihan produk yang dapat diisi ulang (refillable) sebagai bagian dari program L’Oréal for the Future.
- YSL Beauty mendorong standar baru kemasan refillable di segmen kosmetik mewah.
- Earthlite meluncurkan platform Intentional Wellness Brands® sebagai sinyal baru dari sektor wellness.
- Indonesia masuk dalam lima besar negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia, menjadikan reformasi kemasan sebagai isu lokal yang kritis.
- Komitmen L’Oréal for the Future menargetkan 100% kemasan plastik mereka bersifat refillable, dapat digunakan ulang, dapat didaur ulang, atau dapat dikompos pada 2025.
Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara yang lebih luas, tren ini bergerak dalam kecepatan yang serupa — bahkan mungkin lebih cepat, karena tekanan regulasi yang jauh lebih longgar. Merek-merek multinasional dan lokal berlomba memasang identitas hijau: kemasan kraft berwarna cokelat, klaim “ramah lingkungan” di sisi botol, hingga halaman ESG yang panjang dalam laporan tahunan. Namun mekanisme akuntabilitas untuk memverifikasi klaim-klaim ini hampir tidak ada. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sejauh ini lebih berfokus pada keamanan produk daripada validasi klaim lingkungan, sementara regulasi pelabelan keberlanjutan yang setara dengan standar Uni Eropa masih jauh dari kenyataan di pasar domestik. Inilah mengapa data dari Inggris itu relevan secara langsung: ini bukan hanya cermin bagi bisnis Barat, tapi juga peta jalan bagi konsumen dan regulator di pasar berkembang untuk memahami apa yang sedang terjadi di balik layar.
Mengurai Angka 78 Persen
Statistik 78 persen bukan muncul dari survei akademis yang kering — ini adalah pengakuan dari para pelaku industri itu sendiri, sebuah fakta yang justru membuatnya lebih berat untuk diabaikan. Ketika mayoritas pemimpin bisnis di Inggris secara pribadi mengakui bahwa dorongan utama di balik program keberlanjutan mereka adalah manajemen citra, yang mereka gambarkan bukan tentang perusahaan lain. Mereka berbicara tentang operasional mereka sendiri. Dalam praktiknya, “keberlanjutan berbasis citra” memiliki wujud yang sangat dapat dikenali: janji net-zero tanpa peta jalan yang terperinci, laporan keberlanjutan yang penuh aspirasi tetapi miskin angka terverifikasi, atau program daur ulang yang diluncurkan dengan siaran pers besar tetapi infrastrukturnya tidak pernah dibangun. Ini adalah arsitektur narasi, bukan arsitektur perubahan.
Paralel dengan praktik korporasi Indonesia sangat jelas. Laporan keberlanjutan yang diterbitkan emiten bursa efek Indonesia kini memang semakin tebal, didorong sebagian oleh kewajiban pelaporan dari Otoritas Jasa Keuangan. Namun kualitas isinya sangat bervariasi. Sebagian besar menyertakan data emisi Scope 1 dan 2, tetapi pengungkapan Scope 3 — yang mencakup rantai pasok dan penggunaan produk oleh konsumen, dan seringkali merupakan porsi emisi terbesar — masih sangat jarang. Tanpa Scope 3, gambaran emisi yang disajikan secara fundamental tidak lengkap. Artinya, merek yang mengklaim sudah “berkelanjutan” berdasarkan laporan tersebut mungkin hanya memotret sebagian kecil dari jejak lingkungan mereka yang sesungguhnya. Seperti yang diulas lebih dalam dalam analisis tentang bagaimana merek berkelanjutan tumbuh lewat sistem, bukan sekadar label hijau, perbedaan antara merek yang benar-benar bertransformasi dan yang sekadar mengelola narasi justru terletak pada kedalaman data yang mereka ungkap ke publik.
Kemasan yang Dapat Diisi Ulang sebagai Ujian Nyata
Di tengah kebisingan narasi hijau, gerakan kemasan refillable atau kemasan yang dapat diisi ulang muncul sebagai salah satu tolok ukur paling konkret untuk memisahkan klaim dari tindakan. Logikanya bersifat struktural: ketika seorang konsumen mengisi ulang wadah yang sama, produksi plastik perawan berkurang secara langsung. Ini berbeda secara fundamental dari klaim “kemasan dapat didaur ulang” yang efektivitasnya bergantung sepenuhnya pada perilaku konsumen dan ketersediaan infrastruktur daur ulang — dua variabel yang di Indonesia masih sangat tidak merata. Kemasan yang dapat diisi ulang memindahkan beban perubahan dari individu ke perusahaan, dan itulah yang membuat langkah ini secara sistemik lebih kuat.
L’Oréal menjadi salah satu pemain global yang paling vokal dalam ruang ini. Melalui program L’Oréal for the Future yang diluncurkan pada 2020, perusahaan menetapkan target bahwa pada 2025, seluruh kemasan plastik mereka harus bersifat refillable, dapat digunakan ulang, dapat didaur ulang, atau dapat dikompos. Komitmen ini didukung oleh kerja metodologis yang dimulai jauh sebelum program ini — termasuk pengembangan SPOT Methodology (Sustainable Product Optimization Tool) pada 2016 dan co-foundation dari inisiatif SPICE (Sustainable Packaging Initiative for CosmEtics) pada 2018, yang melibatkan kolaborasi lintas industri. Ini bukan narasi yang lahir dalam semalam untuk menjawab tekanan publik — ada infrastruktur kebijakan internal yang dibangun selama bertahun-tahun.
Peta Perbandingan: Klaim vs. Tindakan
| Merek | Klaim Keberlanjutan | Tindakan Terverifikasi | Cakupan Dampak | Verifikasi Independen Tersedia? |
|---|---|---|---|---|
| L’Oréal | 100% kemasan plastik refillable/recyclable/compostable pada 2025 | Peningkatan hampir 4x lipat pilihan produk refillable; pengembangan metodologi SPOT sejak 2016; co-founder inisiatif SPICE | Lintas portofolio global (termasuk La Roche-Posay, Garnier) | Ya — program L’Oréal for the Future dengan target terukur dan jadwal publik |
| YSL Beauty | Mendorong standar baru refillable di segmen kosmetik mewah | Pengembangan sistem kemasan refillable untuk lini produk mewah | Terbatas pada segmen premium/luxury | Terbatas — detail audit pihak ketiga belum dipublikasikan secara luas |
| Earthlite / Intentional Wellness Brands® | Platform wellness yang “intentional” dan berkelanjutan | Peluncuran platform branding Intentional Wellness Brands® | Sektor wellness; cakupan geografis dan SKU belum dipublikasikan secara rinci | Belum tersedia secara publik |
| Arketipe “Citra Merek Saja” (berdasarkan temuan laporan 78%) |
Klaim net-zero umum, label eco-friendly tanpa definisi, janji tanpa timeline | Tidak ada perubahan struktural yang terukur — laporan ESG ada, eksekusi tidak bisa diverifikasi | Permukaan — lebih banyak pada komunikasi publik daripada operasional | Tidak — tidak ada audit pihak ketiga atau KPI publik |
L’Oréal: Pertumbuhan Nyata atau Teater Skala?
Peningkatan hampir empat kali lipat dalam pilihan produk refillable yang dilaporkan L’Oréal memang terdengar impresif. Namun dalam analisis yang jujur, angka relatif tanpa angka absolut hanya bercerita setengah. Empat kali lipat dari basis yang kecil tetap kecil. Pertanyaan yang lebih relevan adalah: berapa persen dari total SKU (unit penyimpanan stok) L’Oréal di seluruh portofolionya yang kini tersedia dalam format refillable? Data spesifik ini tidak dipublikasikan secara terbuka dalam sumber yang tersedia. Yang lebih penting lagi untuk pasar seperti Indonesia adalah pertanyaan distribusi: apakah opsi refillable ini tersedia di gerai ritel Asia Tenggara, atau hanya di jaringan distribusi Eropa Barat dan Amerika Utara yang infrastruktur pasca-konsumsinya jauh lebih matang? Tanpa aksesibilitas di pasar berkembang, skala ekspansi ini tidak bermakna bagi miliaran konsumen yang justru paling terpapar dampak sampah kemasan.
Yang menjadi kekuatan nyata dari narasi L’Oréal adalah fondasi metodologisnya yang dapat dilacak. Pengembangan SPOT Methodology pada 2016, kemitraan industri melalui SPICE pada 2018, dan penetapan target yang terikat pada batas-batas planet (planetary boundaries) dalam program L’Oréal for the Future memberikan arsitektur yang lebih dari sekadar komunikasi pemasaran. Philippe Bonningue, Global Director of Sustainable Packaging L’Oréal, dalam wawancara dengan Beauty Packaging menggambarkan komitmen ini sebagai kesinambungan dari strategi kemasan berkelanjutan yang sudah dimulai sejak 2007 — bukan respons reaktif terhadap tekanan konsumen terkini. Konteks historis seperti inilah yang membedakan komitmen jangka panjang dari janji musiman.
YSL Beauty dan Pertanyaan tentang Keberlanjutan untuk Siapa
YSL Beauty mendorong apa yang mereka sebut sebagai standar baru refillable di segmen kosmetik mewah — sebuah langkah yang secara teknis merupakan sinyal positif, tetapi mengundang pertanyaan yang lebih dalam tentang arsitektur keberlanjutan itu sendiri. Apakah ini sistem yang dikembangkan secara internal sebagai keunggulan kompetitif proprietary, atau apakah ini bagian dari koalisi industri yang lebih luas yang berupaya mendefinisikan ulang standar kemasan mewah secara kolektif? Dan apakah ini didorong oleh kesadaran lingkungan tulus, atau merupakan langkah antisipatif menghadapi regulasi kemasan Uni Eropa yang semakin ketat? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat menentukan apakah standar yang mereka dorong akan membawa dampak sistemik atau sekadar membangun posisi kompetitif.
Ada juga ketegangan yang lebih fundamental di sini: ketika keberlanjutan dikemas dalam estetika kemewahan dengan titik harga premium, ia secara inheren membatasi aksesnya hanya pada konsumen kelas atas. Botol parfum refillable seharga jutaan rupiah memang mengurangi sampah kemasan — tetapi juga secara efektif menciptakan kelas dua konsumsi hijau: mereka yang mampu membayar untuk menjadi berkelanjutan, dan mereka yang tidak. Ini bukan argumen untuk menolak inovasi di segmen mewah, tetapi ini adalah pengingat bahwa keberlanjutan yang hanya dapat diakses oleh sebagian kecil masyarakat memiliki keterbatasan struktural yang serius dalam menghadapi krisis lingkungan yang skalanya jauh melampaui segmen premium.
Earthlite dan Sinyal dari Industri Wellness
Peluncuran platform Intentional Wellness Brands® oleh Earthlite membawa pertanyaan serupa tetapi dengan nuansa berbeda. Industri wellness — yang secara global bernilai triliunan dolar — sudah lama akrab dengan apa yang bisa disebut sebagai lifestyle-washing: penggunaan bahasa alam, kesadaran, dan keaslian sebagai daya tarik estetika tanpa substansi lingkungan yang terukur. Kata “intentional” dalam branding Earthlite mengandung janji implisit tentang kesadaran dan tujuan yang melampaui bisnis biasa. Namun apakah Intentional Wellness Brands® merupakan standar sertifikasi yang memiliki kriteria terverifikasi secara independen, ataukah ini lebih kepada arsitektur payung merek yang memberikan halo hijau kepada produk-produk yang berada di bawahnya tanpa audit eksternal yang ketat?
Detail teknis tentang platform ini — termasuk apakah ada pihak ketiga yang terlibat dalam verifikasinya dan apa kriteria inklusnya — tidak tersedia dalam sumber yang dapat dikonfirmasi saat artikel ini ditulis. Ketidaktersediaan informasi ini sendiri sudah merupakan sinyal. Merek yang sungguh-sungguh berkomitmen pada standar berkelanjutan yang terverifikasi biasanya memublikasikan metodologi mereka secara transparan, justru karena transparansi itu sendiri adalah bagian dari nilainya. Ketika informasi tersebut tidak mudah diakses, ruang antara klaim dan kenyataan tetap terbuka — dan konsumen yang cerdas akan memperhatikan itu.
“78% of UK business leaders believe sustainability is driven more by brand image than genuine action.”
— Laporan Industri Keberlanjutan Global (dikutip dalam sumber #sustainablebrand)
Angka itu berdiri sendiri dengan keras. Di sisi lain, L’Oréal melaporkan hampir empat kali lipat peningkatan opsi produk refillable. Kedua fakta ini hidup berdampingan dalam industri yang sama, di era yang sama — dan jarak antara keduanya adalah gambaran paling jujur dari di mana industri keberlanjutan global sebenarnya berada saat ini: sadar akan masalahnya, tetapi bergerak dalam kecepatan yang tidak seragam.
Lensa Indonesia: Ketika Akuntabilitas Belum Menjadi Norma
Di pasar Indonesia, dinamika ini memiliki bobot yang lebih besar karena taruhannya lebih tinggi secara lingkungan. Indonesia adalah salah satu dari lima negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia, dan sektor kecantikan serta perawatan pribadi adalah kontributor signifikan dalam aliran sampah kemasan ini. Namun regulasi yang mengharuskan klaim keberlanjutan diverifikasi sebelum dipasarkan kepada konsumen hampir tidak ada. BPOM sebagai lembaga pengawas utama di industri kosmetik berfokus pada keamanan bahan aktif, bukan pada validitas klaim lingkungan yang tertera di kemasan. Ini berarti merek dapat menggunakan label “eco-friendly”, “sustainable”, atau “green” tanpa definisi standar yang mengikat dan tanpa konsekuensi regulasi.
Dari sisi permintaan konsumen, kesadaran mulai tumbuh, tetapi masih berada dalam fase awal. Konsumen Indonesia yang aktif mencari informasi tentang klaim lingkungan produk adalah segmen yang relatif kecil, meskipun berkembang — terutama di kalangan urban muda yang semakin terhubung dengan diskursus global tentang keberlanjutan. Dalam ketiadaan regulasi yang kuat, tekanan konsumen inilah yang seharusnya menjadi mekanisme akuntabilitas utama. Masalahnya, tekanan itu baru efektif ketika konsumen memiliki alat untuk membedakan klaim yang substantif dari yang kosong — dan itulah celah yang perlu diisi oleh jurnalisme, pendidikan konsumen, dan kebijakan publik secara bersamaan. Isu ini sejajar dengan tantangan yang dihadapi dalam mengidentifikasi klaim palsu dalam industri fashion berkelanjutan, di mana pola yang sama berulang lintas sektor.
Membedakan Transformasi dari Manajemen Narasi
Pada titik ini, pertanyaan praktisnya adalah: apa yang sebenarnya membedakan keberlanjutan struktural dari keberlanjutan berbasis citra? Para peneliti, jurnalis, dan konsumen yang berpengalaman biasanya mencari beberapa penanda kunci. Target yang terukur dengan batas waktu yang dipublikasikan secara publik adalah satu. Pengungkapan emisi Scope 3 — bukan hanya Scope 1 dan 2 — adalah dua. Transparansi rantai pasok yang menunjukkan dari mana bahan baku berasal dan kondisi sosial-lingkungan dari proses produksinya adalah tiga. Sertifikasi pihak ketiga yang independen — bukan label yang dikeluarkan sendiri oleh perusahaan — adalah empat. Dan yang paling jarang dilakukan tetapi paling bermakna: laporan kemajuan yang mengakui di mana perusahaan gagal memenuhi target, bukan hanya merayakan pencapaian.
Ketika sebuah merek memenuhi kriteria-kriteria ini, ceritanya berbeda secara kualitatif. Data perjalanan L’Oréal — dengan target yang telah ditetapkan sejak 2007, metodologi yang dibangun sejak 2016, dan program global yang memiliki tonggak terukur — memberikan jejak yang bisa dievaluasi. Ini tidak berarti L’Oréal sempurna atau bahwa semua targetnya akan tercapai. Tetapi ini berarti ada material yang cukup untuk melakukan evaluasi yang nyata, dan itulah standar minimum yang seharusnya menjadi ekspektasi dasar dari setiap klaim keberlanjutan korporasi. Pertanyaan yang relevan bukan apakah sebuah merek sempurna — tetapi apakah mereka memberikan cukup transparansi sehingga ketidaksempurnaan mereka pun bisa dilihat dan dipertanggungjawabkan.
Panduan Diagnostik: Hijau Nyata vs. Hijau Performatif
| Indikator | ✅ Tanda Positif (Tindakan Nyata) | ⚠️ Tanda Peringatan (Manajemen Citra) |
|---|---|---|
| Penetapan Target | Target spesifik, terukur, dengan batas waktu yang dipublikasikan | Pernyataan aspiratif umum tanpa angka atau jadwal |
| Transparansi Pelaporan | Mengakui kegagalan memenuhi target; melaporkan kemajuan dan kemunduran | Laporan hanya berisi pencapaian; tidak ada diskusi tentang target yang terlewat |
| Pengungkapan Rantai Pasok | Data Scope 3 dipublikasikan; asal bahan baku dan kondisi sosial dapat dilacak | Hanya data Scope 1 dan 2; rantai pasok tidak transparan |
| Cakupan Produk | Perubahan mencakup porsi signifikan dari total portofolio produk | Satu lini produk “hijau” berdiri sendiri di tengah portofolio konvensional yang besar |
| Verifikasi Pihak Ketiga | Sertifikasi dari lembaga independen yang diakui; audit eksternal dipublikasikan | Label atau sertifikasi yang dikeluarkan sendiri tanpa standar eksternal yang jelas |
| Aksesibilitas Konsumen | Pilihan berkelanjutan tersedia di semua segmen harga dan pasar, termasuk emerging markets | Opsi hijau hanya tersedia di segmen premium atau di pasar tertentu saja |
Pasar Kini Punya Catatannya Sendiri
Pengakuan 78 persen itu bukan skandal yang perlu direspons dengan kemarahan — ini adalah momen kejernihan. Untuk pertama kalinya, kesenjangan antara narasi keberlanjutan dan tindakan struktural bukan lagi spekulasi dari luar, tetapi pengakuan dari dalam industri itu sendiri. Ini berarti celah itu kini terdokumentasi, terukur, dan semakin terlihat oleh tiga kekuatan yang paling tidak bisa diabaikan oleh merek mana pun: konsumen yang semakin terdidik, investor yang semakin memasukkan risiko ESG ke dalam perhitungan mereka, dan regulator — terutama di Uni Eropa — yang semakin memperketat standar klaim lingkungan secara hukum.
Gerakan kemasan refillable — dengan segala keterbatasan aksesibilitasnya — menunjukkan bahwa perubahan struktural bukan hanya mungkin, tetapi sudah mulai terjadi di beberapa sektor. Merek yang bergerak lebih cepat untuk menutup celah antara klaim dan kenyataan akan membangun kepercayaan jangka panjang yang nilainya jauh melampaui kampanye pemasaran mana pun. Merek yang memilih untuk tetap tinggal di lapisan narasi akan menghadapi risiko reputasi dan regulasi yang tumbuh setiap tahunnya. Dalam lanskap di mana konsumen Indonesia pun mulai mengajukan pertanyaan yang lebih tajam — seperti yang tercermin dalam tumbuhnya gerakan konsumsi sadar di tingkat lokal, dari pasar karbon yang sedang diuji hingga inisiatif kemasan di tingkat kota — tekanan untuk lebih dari sekadar terlihat hijau akan terus meningkat. Pertanyaannya bukan lagi apakah akuntabilitas akan datang, tetapi merek mana yang akan siap ketika ia tiba.
🌱 Trivia: Apa itu Scope 3 Emissions dan mengapa penting?
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










