Ketika ribuan universitas dari seluruh penjuru dunia bersaing membuktikan komitmen nyata mereka terhadap masa depan bumi, nama-nama kampus Indonesia kembali muncul di daftar bergengsi Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Ratings 2026. Ini bukan sekadar angka di atas kertas — pemeringkatan ini mengukur seberapa besar sebuah universitas benar-benar berkontribusi pada 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB, mulai dari ketahanan pangan, energi bersih, hingga kesetaraan dan kemitraan global. Dan tahun ini, Indonesia punya banyak alasan untuk bangga.
Yang membuat pencapaian 2026 ini terasa berbeda adalah sebarannya. Bukan hanya satu atau dua kampus dari kota besar — melainkan enam nama dari berbagai penjuru nusantara, dari Bogor, Yogyakarta, Jakarta, Malang, hingga Medan, semuanya hadir di panggung yang sama.
- UGM — Peringkat 41 Dunia (naik signifikan dari tahun sebelumnya)
- IPB University — Peringkat 62 Global
- Universitas Bakrie — Tertinggi ketiga di Jakarta dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026
- Universitas Negeri Malang (UM) — Peringkat 601–800 Dunia
- UIN Sumatera Utara — Peringkat 1001–1500 Dunia
- UMSU — Tampil di Global Sustainable Development Congress 2026
- Catatan: THE Sustainability Impact Ratings mengevaluasi universitas berdasarkan kontribusi nyata terhadap 17 SDGs PBB.
Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi bintang utama dalam daftar ini. Bertengger di peringkat 41 dunia, UGM kini masuk dalam jajaran elite global — sebuah lompatan yang bukan hanya soal prestise, tapi juga sinyal kuat bahwa ekosistem penelitian dan kebijakan kampus Yogyakarta itu sudah beroperasi di standar internasional tertinggi. Artinya, program-program UGM di bidang lingkungan hidup, energi, kesehatan masyarakat, dan tata kelola kampus dinilai setara dengan universitas-universitas terkemuka di Eropa, Amerika, dan Asia Timur. Bagi mahasiswa Indonesia yang selama ini memilih UGM, ini adalah konfirmasi nyata dari pilihan mereka.
Tepat di belakangnya, IPB University mengamankan posisi ke-62 global — pencapaian yang sangat konsisten dengan identitas kampus ini sebagai pusat riset pertanian dan lingkungan hidup terdepan di Asia Tenggara. IPB bukan baru kemarin membangun reputasi ini; selama puluhan tahun, riset-riset IPB tentang ketahanan pangan, agroforestri, dan pengelolaan sumber daya alam telah menjadi tulang punggung kebijakan nasional. Dalam konteks SDGs, kontribusi IPB paling kentara di tujuan-tujuan seperti SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 13 (Penanganan Iklim), dan SDG 15 (Ekosistem Daratan) — tiga pilar yang justru paling kritis bagi Indonesia sebagai negara agraris dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Seperti yang sudah mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir, kampus berbasis riset seperti IPB semakin menemukan relevansinya di panggung keberlanjutan global.
Narasi keberlanjutan kampus Indonesia di 2026 terasa jauh lebih kaya justru karena tidak berpusat di satu titik saja. Universitas Bakrie mencatat posisi sebagai kampus swasta dengan capaian tertinggi ketiga di Jakarta — hasil yang tidak datang dari kebetulan, melainkan dari investasi jangka panjang dalam program-program berbasis dampak sosial dan lingkungan. Di sisi lain, Universitas Negeri Malang (UM) masuk dalam kelompok peringkat 601–800 dunia, membuktikan bahwa kota-kota di luar pusat konsentrasi akademik nasional pun mampu bersaing di level global. Lebih jauh ke utara Pulau Sumatra, UIN Sumatera Utara mengamankan posisi di band 1001–1500 dunia — sebuah kehadiran yang berarti bagi universitas Islam negeri yang selama ini mungkin belum banyak disebut dalam konteks keberlanjutan. Dan UMSU, juga dari Medan, membawa dimensi berbeda: kehadirannya di Global Sustainable Development Congress 2026 merupakan bentuk pengakuan internasional yang tidak datang dari algoritma pemeringkatan, melainkan dari undangan langsung komunitas akademik global untuk duduk dan berbagi gagasan. Gambaran ini menegaskan bahwa gerakan keberlanjutan di kampus-kampus Indonesia bukan lagi monopoli Jawa — ini sudah menjadi fenomena nasional yang tumbuh dari berbagai arah sekaligus.
Bagi mahasiswa, calon mahasiswa, dan orang tua yang sedang menimbang pilihan, angka-angka ini layak dijadikan salah satu pertimbangan. Memilih kampus yang serius menggarap agenda keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan — ini soal mempersiapkan diri untuk bekerja di dunia yang semakin mensyaratkan pemahaman mendalam tentang iklim, sumber daya, dan tanggung jawab sosial. Riset, kurikulum, dan budaya kampus yang berpijak pada SDGs akan membentuk cara berpikir yang relevan untuk dekade-dekade mendatang. Untuk gambaran lengkap posisi kampus-kampus Indonesia dan bagaimana penilaian ini dilakukan, daftar resmi THE Sustainability Impact Ratings 2026 tersedia di situs Times Higher Education — dan daftarnya, tahun ini, cukup membanggakan untuk ditelusuri.
Frequently Asked Questions
THE Sustainability Impact Ratings adalah sistem pemeringkatan yang dikeluarkan oleh Times Higher Education untuk menilai kontribusi universitas di seluruh dunia terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Penilaian mencakup penelitian, pengajaran, pengelolaan kampus, hingga dampak pada masyarakat sekitar.
Mengapa peringkat UGM di posisi 41 dunia dianggap istimewa?
Masuk 50 besar dunia dalam pemeringkatan keberlanjutan berarti UGM kini setara dengan universitas-universitas ternama di Eropa dan Asia Timur dalam hal kontribusi nyata terhadap SDGs. Ini adalah lompatan signifikan yang mencerminkan komitmen jangka panjang UGM dalam riset lingkungan, kebijakan sosial, dan tata kelola kampus yang bertanggung jawab.
Apa bedanya THE Sustainability Impact Ratings dengan peringkat universitas biasa seperti QS atau THE World University Rankings?
Pemeringkatan umum seperti QS lebih menekankan reputasi akademik, publikasi ilmiah, dan rasio mahasiswa-dosen. THE Sustainability Impact Ratings secara khusus mengukur dampak nyata universitas terhadap isu-isu global seperti iklim, kemiskinan, kesetaraan gender, dan energi bersih — menjadikannya cermin yang berbeda dan semakin relevan di era SDGs.
Apakah semua kampus Indonesia yang masuk daftar ini adalah universitas negeri besar?
Tidak. Universitas Bakrie adalah universitas swasta, dan kehadirannya sebagai kampus dengan capaian tertinggi ketiga di Jakarta menunjukkan bahwa komitmen terhadap keberlanjutan tidak terbatas pada institusi negeri atau kampus berskala besar.
Bagaimana cara mengakses daftar lengkap THE Sustainability Impact Ratings 2026?
Daftar lengkap dapat diakses langsung melalui situs resmi Times Higher Education di timeshighereducation.com. Di sana tersedia filter berdasarkan negara, SDG tertentu, dan band peringkat.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










