Detrash: Jam Tangan dari Sampah Nyata

Kita jarang benar-benar memperhatikan benda yang melingkar di pergelangan tangan kita sendiri.

Jam tangan bukan sekadar penunjuk waktu — ia adalah pernyataan diam-diam tentang siapa kita, apa yang kita hargai, dan dari dunia mana kita berasal. Tapi pernahkah kita membaliknya, dan bertanya: dari mana benda ini datang? Dan setelah tidak lagi terpakai, ke mana ia akan pergi?

Sebagian besar jawaban untuk pertanyaan itu tidak nyaman untuk didengar. Komponen logam, tali plastik, dial yang dipoles — semuanya meninggalkan jejak yang panjang sebelum sampai ke toko, dan jejak yang sama panjangnya setelah dibuang. Dalam industri aksesori global, “berkelanjutan” seringkali hanya menjadi kata pada label, bukan pada proses.

Detrash hadir untuk membantah narasi itu — bukan dengan klaim, melainkan dengan material yang bisa kamu sentuh.

🌱 Trivia: Berapa banyak plastik yang sudah diselamatkan Detrash dari lautan?
Jawaban: Detrash menggunakan plastik daur ulang — termasuk material yang dipulihkan dari limbah laut dan daratan — sebagai bahan utama tali jam tangan dan komponen lainnya. Setiap unit yang diproduksi setara dengan menyelamatkan beberapa botol plastik dari berakhir di tempat pembuangan akhir atau lautan. Meskipun angka kumulatif pastinya terus berkembang, prinsip yang mereka pegang tetap sama: setiap jam tangan adalah bukti fisik bahwa sampah bisa menjadi sesuatu yang indah dan fungsional.

Detrash adalah brand aksesori asal Inggris yang secara eksplisit memosisikan diri sebagai “watches made with trash” — jam tangan yang dibuat dari sampah. Bukan metafora, bukan kampanye pemasaran musiman. Mereka benar-benar menggunakan bahan daur ulang sebagai fondasi produk mereka.

Yang membedakan Detrash dari deretan brand aksesori “hijau” lainnya adalah kejujuran yang tidak biasa. Di dunia di mana akar hitam industri mode berkelanjutan masih sering tersembunyi di balik narasi yang mengkilap, Detrash memilih untuk menjadikan kata “trash” — sampah — sebagai nama dan identitas mereka sendiri.

Itu bukan keberanian kecil.

Tantangan membangun supply chain berbasis bahan daur ulang memang nyata. Material yang konsisten secara kualitas sulit didapat dalam jumlah besar. Proses pengolahan membutuhkan presisi yang sama ketatnya dengan produksi jam tangan konvensional. Dan pasar yang mau membayar harga yang adil untuk produk semacam ini masih harus terus diedukasi.

Tapi itulah yang membuat perjalanan mereka menarik untuk diikuti — bukan karena sempurna, melainkan karena nyata.

Bayangkan sebuah tali jam tangan yang sebelumnya adalah botol plastik yang mengambang di lautan.

Plastik itu dikumpulkan, dibersihkan, dan diproses ulang menjadi benang atau komponen polimer yang kemudian dibentuk menjadi tali yang lentur, ringan, dan tahan air. Warnanya tidak seragam sempurna seperti plastik baru — ada gradasi halus, sedikit variasi tekstur, yang justru menjadi tanda bahwa bahan ini punya sejarah.

Pada beberapa lini produk, dial jam menggunakan material daur ulang yang dikompresi dan dipoles hingga memiliki tampilan yang hampir seperti marmer — namun asal-usulnya adalah sisa material industri yang seharusnya berakhir di tempat pembuangan.

Ada sesuatu yang intim dalam hal itu. Kamu tidak hanya memakai jam tangan — kamu memakai keputusan seseorang untuk tidak membuang sesuatu begitu saja.

“Saya sering mendapat banyak hate online: ‘Kenapa kamu menaruh kata trash di dial-nya?'”
— Pendiri Detrash

Pertanyaan itu — yang terasa seperti serangan — sebenarnya adalah bukti bahwa Detrash menyentuh sesuatu yang lebih dalam dari sekadar preferensi estetika.

Kata “trash” pada dial bukan kesalahan desain. Ia adalah pernyataan. Bahwa bahan yang kita buang bukan akhir dari cerita — ia bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih baik. Bahwa kebanggaan tidak harus datang dari kemewahan bahan baru, melainkan dari kecerdasan cara kita memperlakukan apa yang sudah ada.

Bagi sebagian orang, itu provokatif. Bagi yang lain, itulah tepatnya yang mereka cari.

Fakta Cepat
  • Material Utama: Plastik daur ulang (termasuk material dari limbah laut dan daratan), serta bahan-bahan sisa industri yang diolah ulang menjadi komponen fungsional.
  • Rentang Harga: Produk Detrash dijual dalam kisaran £60–£120 (sekitar Rp 1,2–2,4 juta), memosisikannya sebagai aksesori premium namun bukan segmen mewah.
  • Ketersediaan: Tersedia secara online melalui situs resmi detrash.com dengan pengiriman internasional (gratis untuk pembelian di atas £50), termasuk ke Indonesia.
  • Cicilan & Aksesibilitas: Detrash menawarkan opsi pembayaran cicilan dalam 3 tahap, mengakui bahwa harga yang adil untuk produk berkelanjutan perlu dibuat lebih terjangkau secara praktis.

Di sinilah pertanyaan yang jujur perlu diajukan.

Dengan harga di kisaran Rp 1,2–2,4 juta, Detrash jelas bukan pilihan yang bisa diakses semua kalangan — terutama di Indonesia, di mana daya beli konsumen muda yang peduli lingkungan masih sangat bervariasi. Ada ironi yang tidak bisa diabaikan: produk yang dibuat dari sampah, namun hanya bisa dijangkau oleh segmen tertentu.

Skala produksinya pun belum pada titik yang bisa secara sistemik mempengaruhi industri aksesori global. Dibandingkan jutaan unit jam tangan konvensional yang diproduksi setiap tahun, Detrash masih bermain di ruang yang relatif kecil. Kesimpulan Kunci: Dampak Detrash saat ini lebih kuat sebagai simbol budaya dan katalisator percakapan daripada sebagai solusi industri berskala besar — dan ada nilai tersendiri dalam peran itu, selama mereka sendiri tidak mengklaim lebih dari itu.

Dalam lanskap sustainable fashion yang mulai menemukan momentumnya di Indonesia, kehadiran brand seperti Detrash tetap relevan — karena mereka membuktikan bahwa estetika dan etika bisa duduk bersama, tanpa salah satunya harus berkompromi.

Kembali ke pertanyaan di awal: dari mana jam tangan ini datang, dan ke mana ia akan pergi?

Detrash menjawabnya dengan cara yang tidak banyak brand berani lakukan — mereka menunjukkan asalnya langsung di dial, dalam kata yang biasanya kita hindari: trash.

Ini bukan soal membeli jam tangan tertentu. Ini soal mempertanyakan apa yang selama ini kita anggap sebagai “bahan yang layak” dan “bahan yang tidak layak.” Setiap kali kita memilih sesuatu yang dibuat dari apa yang orang lain buang, kita sedang menulis ulang sedikit demi sedikit nilai-nilai yang menentukan bagaimana industri berjalan.

Pilihan itu tidak selalu besar, tidak selalu mahal, dan tidak selalu sempurna.

Tapi ia selalu bermakna — jika kita memilihnya dengan kesadaran, bukan sekadar karena trennya sedang bagus. Seperti yang juga berlaku dalam percakapan lebih luas tentang apa yang sebenarnya membuat sebuah merek layak disebut ramah lingkungan — bukan klaim di label, melainkan keberanian untuk konsisten bahkan ketika tidak sedang dilihat.

Jam tangan di pergelangan tanganmu bisa menjadi penunjuk waktu saja.

Atau ia bisa menjadi pengingat harian bahwa masa depan yang lebih baik sering dimulai dari sesuatu yang hampir kita buang begitu saja.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah Detrash brand Indonesia atau luar negeri?

Detrash adalah brand asal Inggris yang berbasis di Eropa, bukan brand lokal Indonesia.

Meski demikian, mereka melayani pengiriman internasional termasuk ke Indonesia melalui situs resmi mereka, dan relevansinya sebagai referensi dalam percakapan global soal aksesori berkelanjutan tetap kuat bagi konsumen Indonesia yang ingin mengeksplorasi nilai-nilai serupa.

Apakah jam tangan dari bahan daur ulang cukup kuat dan tahan lama?

Ya — proses daur ulang modern tidak berarti kualitas yang lebih rendah.

Plastik yang dipulihkan dari limbah laut, misalnya, diolah ulang melalui proses yang ketat sebelum menjadi komponen aksesori. Hasilnya memiliki daya tahan yang sebanding dengan material baru, dengan jejak lingkungan yang jauh lebih kecil.

Apakah ada brand aksesori daur ulang lokal Indonesia yang serupa?

Ekosistem sustainable fashion lokal Indonesia terus berkembang, meski fokus utamanya masih pada tekstil dan pakaian.

Brand seperti Pijak Bumi dan Setali Indonesia menunjukkan bahwa ada pasar yang siap untuk produk fungsional yang dibuat dengan prinsip berkelanjutan. Segmen aksesori daur ulang seperti jam tangan masih merupakan ruang yang terbuka lebar untuk inovasi lokal.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?