TPS3R Banyuwangi Didukung UEA, Bukti Nyata Gerakan 3R Menguat

Indonesia menghasilkan lebih dari 70 juta ton sampah setiap tahunnya — dan sebagian besar masih berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa pemilahan. Di tengah angka itu, sebuah fasilitas baru di Banyuwangi, Jawa Timur, mulai mencuri perhatian. Pemerintah kabupaten setempat tengah membangun TPS3R Kertosari dengan kapasitas pengolahan 50 ton sampah per hari, didukung secara internasional oleh Uni Emirat Arab. Ini bukan sekadar proyek infrastruktur biasa — ini sinyal bahwa pengelolaan sampah Indonesia kini masuk dalam radar kerjasama antarnegara.

Fakta Cepat
  • TPS3R Kertosari berlokasi di Banyuwangi, Jawa Timur
  • Kapasitas pengolahan sampah: 50 ton per hari
  • Mendapat dukungan dari Uni Emirat Arab
  • Beroperasi berdasarkan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (3R)
  • Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) tengah merevisi aturan Extended Producer Responsibility (EPR) yang mewajibkan perusahaan menarik kembali kemasan produk mereka

TPS3R — singkatan dari Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle — berbeda mendasar dari tempat pembuangan sampah konvensional. Alih-alih sekadar menampung, fasilitas ini dirancang untuk memilah, mengolah, dan memaksimalkan nilai dari setiap jenis sampah sebelum ada yang benar-benar terbuang sebagai limbah akhir. Di Kertosari, sampah organik akan dipisahkan untuk dijadikan kompos, sementara material yang masih bernilai seperti plastik, kertas, dan logam akan masuk jalur daur ulang. Pendekatan berlapis ini yang membuat TPS3R menjadi standar baru pengelolaan sampah, bukan sekadar solusi tambal sulam. Keterlibatan Uni Emirat Arab dalam proyek ini pun bukan tanpa konteks — UEA dalam beberapa tahun terakhir aktif mendanai program lingkungan dan iklim di negara-negara berkembang sebagai bagian dari komitmen mereka pascaKTT iklim COP28 yang mereka tuan rumahi pada 2023.

Yang menarik, prinsip 3R yang sama kini tidak hanya dijalankan di tingkat komunitas. PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Tengah tercatat telah mengimplementasikan program Reduce, Reuse, Recycle di level operasional internal mereka. Langkah sebuah BUMN sebesar PLN mengadopsi kerangka kerja ini secara aktif menunjukkan bahwa gerakan 3R sedang bergerak dari pinggiran masuk ke inti sistem. Ini bukan lagi tentang kepatuhan di atas kertas — ini tentang mengubah cara kerja institusi besar dari dalam. Ketika perusahaan negara mulai memimpin dengan teladan, tekanan terhadap sektor swasta untuk mengikuti pun otomatis meningkat. Pola perubahan seperti inilah yang sudah terbukti bekerja di berbagai daerah, dari Banyuwangi hingga Badung.

Perubahan perilaku yang tahan lama, bagaimanapun, sering bermula di kampus. Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) menjadi salah satu contoh nyata bagaimana institusi akademik bisa berfungsi sebagai inkubator gaya hidup hijau. Melalui inisiatif Green Campus, FKH UB aktif mendorong budaya Zero Waste berbasis 3R di kalangan mahasiswa dan civitas akademika — mulai dari edukasi pemilahan sampah hingga praktik langsung pengurangan limbah di lingkungan kampus. Mahasiswa yang terbiasa berpikir dan bertindak dalam kerangka 3R hari ini adalah manajer, perencana kota, dan pembuat kebijakan di masa mendatang. Ekosistem perubahan tidak bisa hanya menunggu regulasi; ia butuh generasi yang sudah terdidik untuk menjalankannya. Ini juga mengapa gerakan daur ulang Indonesia semakin kuat karena dimulai dari aksi nyata di akar rumput, bukan hanya dari atas ke bawah.

Praktik-praktik baik yang sudah berjalan di lapangan itu kini mulai mendapat kerangka hukumnya. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sedang dalam proses merevisi aturan Extended Producer Responsibility, atau EPR — sebuah kebijakan yang mewajibkan produsen untuk bertanggung jawab atas kemasan produk mereka bahkan setelah produk itu dibeli konsumen. Artinya, perusahaan tidak bisa lagi berhenti pada titik penjualan; mereka harus memastikan kemasan mereka ditarik kembali, dikelola, atau didaur ulang. Bagi industri, ini berarti investasi baru dalam sistem logistik terbalik dan kemitraan dengan pengelola sampah. Bagi konsumen, ini berarti tekanan pada merek favorit mereka untuk beroperasi lebih bertanggung jawab. Revisi aturan EPR ini, bila berjalan efektif, akan menjadi payung hukum yang menyatukan semua lapisan gerakan 3R — dari TPS3R di Banyuwangi, program internal PLN, hingga edukasi di kampus-kampus — menjadi sebuah ekosistem yang terstruktur dan punya gigi. Hierarki zero waste Indonesia memang masih dalam perjalanan panjang, tapi arahnya semakin jelas.

Frequently Asked Questions

Apa itu TPS3R dan apa bedanya dengan TPA biasa?
TPS3R adalah Tempat Pengolahan Sampah berbasis Reduce, Reuse, Recycle. Berbeda dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang hanya menampung sampah, TPS3R aktif memilah dan mengolah sampah sehingga volume limbah yang benar-benar terbuang jauh lebih kecil. Sampah organik bisa dijadikan kompos, sementara material bernilai masuk jalur daur ulang.

Mengapa Uni Emirat Arab mendukung pembangunan TPS3R di Banyuwangi?
UEA dalam beberapa tahun terakhir aktif mendanai program lingkungan di negara-negara berkembang, terutama setelah menjadi tuan rumah KTT iklim COP28 pada 2023. Dukungan untuk proyek Kertosari merupakan bagian dari komitmen internasional tersebut, sekaligus memperkuat kerjasama bilateral di bidang lingkungan hidup.

Apa itu Extended Producer Responsibility (EPR)?
EPR adalah kebijakan yang mewajibkan produsen — bukan konsumen atau pemerintah — untuk bertanggung jawab atas pengelolaan kemasan produk mereka setelah digunakan. Perusahaan harus memastikan kemasan tersebut ditarik kembali, dikelola, atau didaur ulang. KLH Indonesia saat ini sedang merevisi aturan EPR agar lebih ketat dan mengikat.

Apa peran kampus dalam gerakan 3R?
Kampus berfungsi sebagai inkubator perubahan perilaku jangka panjang. Inisiatif seperti Green Campus di FKH Universitas Brawijaya mendidik mahasiswa untuk memahami dan mempraktikkan Zero Waste berbasis 3R sejak dini. Mahasiswa ini kelak akan membawa kebiasaan dan pola pikir tersebut ke dunia kerja dan pengambilan keputusan.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?