Dari Kampus hingga Papua, Ekosistem Keberlanjutan Indonesia Bergerak Serentak

Dalam jangka waktu yang hampir bersamaan, seorang akademisi Indonesia berbicara tentang keberlanjutan sebagai fondasi daya saing di panggung bisnis global, anak muda bersiap memimpin agenda pembangunan berkelanjutan, dan di ujung timur nusantara, infrastruktur dasar mulai menyentuh wilayah yang selama ini jauh dari sorotan. Bukan kebetulan — ini adalah potret Indonesia yang sedang bergerak dari banyak arah sekaligus. Gelombang keberlanjutan itu tidak datang dari satu sumber. Ia tumbuh dari kampus, forum internasional, gerakan pemuda, lembaga negara, hingga pembangunan fisik di tanah Papua Selatan.

Yang menarik bukan hanya skala gerakannya, tapi kecepatannya. Sinyal-sinyal ini muncul hampir bersamaan, dan jika dibaca bersama, mereka membentuk gambaran ekosistem keberlanjutan nasional yang sedang menemukan momentumnya.

Fakta Cepat
  • Akademisi Rm. Thomas Ulun Ismoyo, Ph.D., CHRP menyebut keberlanjutan sebagai kunci utama daya saing bisnis di era global.
  • Universitas Diponegoro (Undip) berpartisipasi dalam Global Sustainable Business Summit, membawa suara akademisi Indonesia ke forum internasional.
  • ICE BSD ditetapkan sebagai tuan rumah GSDC 2026 — Global Sustainable Development Conference bertaraf internasional.
  • IYSDGS 2026 (Indonesia Youth SDGs Summit) berfokus pada SDG 2 (ketahanan pangan) dan SDG 6 (air bersih dan sanitasi), dengan anak muda sebagai penggerak utama.
  • Badan Karantina Indonesia (Barantin) mendorong penguatan biosekuriti sebagai instrumen perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati nasional.
  • Pembangunan infrastruktur jalan dan akses air bersih mulai berjalan di Wanam, Papua Selatan — membuktikan bahwa keberlanjutan inklusif bukan sekadar wacana.

Rm. Thomas Ulun Ismoyo, S.S., M.M., M.Hum., Ph.D., CHRP, adalah satu dari sedikit akademisi Indonesia yang secara lantang menghubungkan agenda keberlanjutan dengan logika bisnis yang sangat praktis. Dalam pandangannya, keberlanjutan bukan sekadar tanggung jawab moral perusahaan — ia adalah faktor pembeda di tengah persaingan global yang semakin ketat. Bisnis yang mengabaikan prinsip keberlanjutan, menurut pemikiran ini, bukan hanya merusak lingkungan; mereka juga sedang membangun fondasi yang rapuh untuk bertahan jangka panjang. Partisipasi Universitas Diponegoro di Global Sustainable Business Summit memperkuat argumen ini: institusi akademik Indonesia tidak lagi sekadar mengamati percakapan global dari jauh. Mereka kini duduk di meja yang sama, membawa perspektif lokal ke dalam diskusi yang menentukan arah bisnis dunia. Pencapaian ini juga sejalan dengan rekam jejak Undip di kancah internasional — universitas-universitas Indonesia kini semakin serius mengejar pengakuan global dalam agenda keberlanjutan, dan hasilnya mulai terlihat nyata.

Sementara itu, Indonesia juga bersiap memainkan peran tuan rumah yang lebih besar. ICE BSD dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan GSDC 2026 — Global Sustainable Development Conference — sebuah forum yang mempertemukan pelaku bisnis, pembuat kebijakan, dan inovator dari berbagai penjuru dunia. Pilihan Indonesia sebagai tuan rumah bukan tanpa makna. Ini adalah sinyal bahwa negara ini dipandang sebagai pemain relevan dalam percakapan pembangunan berkelanjutan global, bukan hanya sebagai objek pembahasan soal deforestasi atau emisi karbon. Bagi ekosistem bisnis hijau nasional, forum ini membuka peluang nyata: jaringan, komitmen investasi, dan pertukaran praktik terbaik yang bisa langsung diterapkan di lapangan.

Di sisi lain, ada energi berbeda yang datang dari generasi yang lebih muda. IYSDGS 2026 — Indonesia Youth SDGs Summit — menempatkan anak muda bukan sebagai penonton agenda pembangunan, melainkan sebagai arsitek solusinya. Forum ini secara khusus menyoroti dua SDG yang paling mendesak bagi Indonesia: SDG 2 tentang ketahanan pangan (Zero Hunger) dan SDG 6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak. Kedua isu ini bukan abstraksi kebijakan — keduanya adalah kenyataan sehari-hari jutaan keluarga Indonesia, dari petani kecil di Jawa hingga komunitas yang masih mengandalkan sumber air tidak layak di berbagai pelosok. Ketika generasi muda diajak masuk sebagai penggerak solusi, bukan sekadar peserta diskusi, ada perubahan paradigma yang sedang terjadi: keberlanjutan mulai diperlakukan sebagai tanggung jawab kolektif lintas generasi, bukan monopoli para ahli atau pejabat. Ini adalah fondasi gerakan yang jauh lebih tahan lama.

Sementara forum-forum itu bergerak di level wacana dan strategi, Badan Karantina Indonesia (Barantin) bekerja di level yang lebih teknis namun tidak kalah krusial. Barantin mendorong penguatan biosekuriti sebagai salah satu instrumen perlindungan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia. Ancaman yang melatarbelakangi kebijakan ini nyata: spesies invasif, penyakit tanaman lintas batas, dan organisme asing yang masuk melalui jalur perdagangan dan perjalanan internasional dapat merusak ekosistem hutan tropis yang sudah bertahun-tahun menjadi paru-paru dunia. Langkah yang didorong Barantin adalah memperketat protokol pemeriksaan di titik-titik masuk, memperkuat kapasitas laboratorium karantina, dan meningkatkan koordinasi lintas lembaga. Dalam konteks yang lebih luas, ini adalah pengakuan bahwa menjaga hutan Indonesia bukan hanya soal menghentikan penebangan — ia juga soal membangun dinding pertahanan biologis yang tidak kasat mata namun sangat menentukan.

Dua sinyal terakhir datang dari sektor publik dan menyentuh sesuatu yang sering terlupakan dalam diskusi keberlanjutan: keadilan dan pemerataan. Di Wanam, Papua Selatan, pembangunan infrastruktur jalan dan akses air mulai berjalan — sebuah langkah yang tampak sederhana, tapi memiliki implikasi besar bagi komunitas yang selama ini terisolasi dari layanan dasar. Keberlanjutan yang hanya menyentuh kota-kota besar bukan keberlanjutan yang sesungguhnya; ia baru bermakna penuh ketika juga menjangkau wilayah terpencil. Di Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI mendukung perluasan program Sekolah Rakyat — sebuah investasi sumber daya manusia yang dalam jangka panjang adalah bahan bakar terpenting bagi masa depan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, transisi menuju Indonesia yang lebih hijau dan adil membutuhkan generasi yang terdidik, terkoneksi, dan percaya bahwa perubahan itu mungkin. Gerakan keberlanjutan Indonesia memang sedang tumbuh dari berbagai penjuru — dari laboratorium kampus, dari panggung forum internasional, dari tangan anak muda, dan dari jalan baru yang pertama kali membelah tanah Papua Selatan. Semua sinyal ini bergerak bersamaan, dan itu adalah alasan yang cukup untuk optimis.

Frequently Asked Questions

Apa itu GSDC 2026 dan mengapa Indonesia menjadi tuan rumahnya?
GSDC 2026 adalah Global Sustainable Development Conference, sebuah forum internasional yang mempertemukan pelaku bisnis, pembuat kebijakan, dan inovator untuk membahas agenda pembangunan berkelanjutan. Indonesia, melalui venue ICE BSD, dipilih sebagai tuan rumah — sebuah pengakuan atas peran strategis Indonesia dalam diskusi keberlanjutan global.

Apa itu IYSDGS 2026?
IYSDGS 2026 adalah Indonesia Youth SDGs Summit, sebuah forum yang menempatkan anak muda Indonesia sebagai penggerak solusi untuk agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Forum ini secara khusus berfokus pada SDG 2 (ketahanan pangan) dan SDG 6 (air bersih dan sanitasi).

Mengapa biosekuriti penting untuk perlindungan hutan Indonesia?
Biosekuriti adalah sistem pertahanan untuk mencegah masuknya spesies invasif, penyakit tanaman, dan organisme berbahaya dari luar negeri yang dapat merusak ekosistem hutan tropis Indonesia. Barantin (Badan Karantina Indonesia) mendorong penguatan sistem ini sebagai bagian dari strategi perlindungan keanekaragaman hayati nasional.

Apa hubungan antara Sekolah Rakyat dan keberlanjutan?
Investasi pendidikan adalah fondasi jangka panjang keberlanjutan. Perluasan Sekolah Rakyat yang didukung DKI Jakarta adalah upaya membangun sumber daya manusia yang kelak menjadi pelaku utama transisi hijau Indonesia — dari pemimpin kebijakan hingga inovator di lapangan.

Apa yang dimaksud dengan keberlanjutan inklusif di Papua Selatan?
Keberlanjutan inklusif berarti pembangunan yang tidak hanya terpusat di kota besar, tetapi juga menjangkau wilayah terpencil. Pembangunan infrastruktur jalan dan akses air di Wanam, Papua Selatan, adalah contoh nyata bagaimana keberlanjutan harus beriringan dengan pemerataan dan keadilan sosial.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?