Selama bertahun-tahun, perbincangan tentang universitas terbaik di Indonesia berkisar pada akreditasi, jumlah paten, atau serapan kerja lulusan. Tapi ada pertanyaan yang jauh lebih mendesak dan semakin diajukan oleh komunitas ilmiah global: seberapa dalam sebuah institusi pendidikan berinvestasi pada keberlanjutan planet? Times Higher Education (THE) Sustainability Impact Rankings 2026 hadir bukan sebagai daftar prestise biasa, melainkan sebagai audit sistemik atas dampak nyata universitas terhadap lingkungan dan masyarakat. Dan Indonesia, untuk pertama kalinya, mulai muncul dengan bobot yang tidak bisa diabaikan.
Universitas Padjadjaran (Unpad) mencatatkan posisi kelima secara nasional sekaligus masuk jajaran 100 besar dunia — sebuah pencapaian yang berbicara lebih dari sekadar angka. Di luar Unpad, 34 perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia juga berhasil tercantum dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026, sementara Universitas Syiah Kuala (USK) turut berpartisipasi dalam Global Sustainable Development Congress 2026. Gelombang ini bukan kebetulan. Ini adalah sinyal bahwa ekosistem inovasi berkelanjutan Indonesia sedang bertransisi — dari pinggiran wacana global ke arus utamanya.
- Unpad meraih peringkat ke-5 nasional dan masuk jajaran top 100 dunia di THE Sustainability Impact Rankings 2026.
- 34 perguruan tinggi swasta (PTS) Indonesia tercantum dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026.
- Universitas Syiah Kuala (USK) berpartisipasi dalam Global Sustainable Development Congress 2026.
- THE Sustainability Impact Rankings mengukur kontribusi universitas terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB melalui empat dimensi: riset, tata kelola, keterlibatan masyarakat, dan pengajaran.
- Indonesia termasuk negara Asia Tenggara dengan pertumbuhan partisipasi universitas tercepat dalam peringkat ini.
Bukan Sekadar Peringkat Akademik Biasa
THE Sustainability Impact Rankings berbeda secara fundamental dari indikator universitas yang selama ini kita kenal. Metodologinya tidak mengukur jumlah makalah ilmiah yang dikutip atau rasio dosen-mahasiswa. Ia mengevaluasi empat dimensi yang jauh lebih kompleks: pertama, research — seberapa banyak riset universitas secara langsung berkontribusi pada topik-topik yang relevan dengan 17 SDGs PBB; kedua, stewardship — bagaimana universitas mengelola operasional kampusnya sendiri, dari konsumsi energi hingga pengelolaan limbah; ketiga, outreach — sejauh mana institusi terlibat dengan komunitas, pemerintah, dan industri di luar pagar kampus; dan keempat, teaching — apakah prinsip-prinsip keberlanjutan benar-benar terintegrasi ke dalam kurikulum pengajaran.
Dengan kata lain, ini adalah audit dampak yang menyeluruh. Sebuah universitas bisa memiliki reputasi riset yang gemilang secara global, tetapi gagal di dimensi stewardship karena kampusnya masih bergantung penuh pada energi fosil. Sebaliknya, universitas yang mungkin tidak masuk jajaran riset elite bisa tampil kuat jika program keterlibatan komunitasnya mampu menggerakkan perubahan nyata di lapangan. Kerangka ini yang membuat pencapaian Unpad menjadi lebih bermakna — karena masuk top 100 dunia berarti institusi ini dinilai kompeten bukan hanya di satu dimensi, tapi secara keseluruhan sistem.
Peta Universitas Indonesia di Panggung Global
| Nama Universitas | Peringkat Nasional | Peringkat Dunia | Status | Keterangan |
|---|---|---|---|---|
| Universitas Padjadjaran (Unpad) | 5 | Top 100 | PTN | Pencapaian tertinggi universitas Indonesia di THE Sustainability 2026 |
| Universitas Syiah Kuala (USK) | Data belum dirilis | Dalam peringkat | PTN | Berpartisipasi di Global Sustainable Development Congress 2026 |
| 34 PTS Indonesia (Gabungan) | Variatif | Dalam peringkat | PTS | Representasi PTS yang signifikan, meski rincian peringkat individual belum seluruhnya terpublikasi |
*Data berdasarkan informasi yang tersedia per publikasi THE Sustainability Impact Rankings 2026. Detail lengkap peringkat individual masing-masing PTS belum tersedia secara publik pada saat artikel ini ditulis.
Apa yang Mendorong Unpad ke Jajaran 100 Besar Dunia
Masuk jajaran 100 besar dunia dalam THE Sustainability Impact Rankings bukan perkara mudah, apalagi bagi universitas dari negara berkembang yang secara historis tertinggal dalam pendanaan riset dibanding institusi-institusi dari Eropa atau Amerika Utara. Pencapaian Unpad ini mencerminkan konsistensi investasi institusional — bukan dalam satu atau dua tahun terakhir, melainkan dalam kerangka jangka panjang yang mencakup riset berbasis SDGs, tata kelola kampus yang lebih terukur, serta keterlibatan aktif dengan komunitas lokal di Jawa Barat. Yang membedakan Unpad dari banyak universitas Indonesia lainnya adalah kemampuannya membangun evidence trail yang bisa diverifikasi oleh panel evaluasi THE — mulai dari dokumentasi program pengelolaan energi kampus hingga kemitraan riset yang bisa ditelusuri dampaknya.
Keberhasilan Unpad ini juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: ia membuktikan bahwa universitas Indonesia mampu berkompetisi di panggung keberlanjutan global ketika ada komitmen institusional yang serius, bukan sekadar kampanye citra. Pencapaian bersejarah kampus Indonesia di peringkat keberlanjutan THE 2026 ini membuka preseden penting — bahwa investasi pada riset dan tata kelola berbasis SDGs adalah jalur yang bisa ditempuh, bukan hanya aspirasi yang tertulis di rencana strategis.
Dari Ruang Kuliah ke Lantai Pabrik: Ketika Akademisi Bicara ke Industri
Di tengah dinamika ini, muncul nama-nama akademisi yang mulai menjembatani dua dunia yang selama ini sering berjalan paralel tanpa pernah benar-benar bertemu: laboratorium riset dan lantai produksi industri. Prof. Maria Anityasari, dengan fokusnya pada manufaktur berkelanjutan, adalah salah satu contoh bagaimana akademisi Indonesia mulai mempengaruhi wacana global — bukan hanya menulis makalah untuk jurnal internasional, tapi juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang relevan langsung bagi industri: bagaimana proses produksi bisa dirancang ulang agar menghasilkan lebih sedikit limbah, mengonsumsi lebih sedikit energi, dan tetap kompetitif secara ekonomi?
Relevansi pertanyaan-pertanyaan itu terasa sangat nyata ketika kita melihat apa yang sedang terjadi di sektor industri Indonesia. PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk, salah satu produsen pipa baja terbesar nasional, kini memasang instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di fasilitas produksinya — sebuah langkah konkret yang menunjukkan bahwa tekanan untuk bertransisi ke energi bersih sudah menembus sektor manufaktur berat, bukan hanya perusahaan teknologi atau ritel. Sementara itu, Telkom Indonesia melakukan restorasi ekosistem pesisir melalui penanaman mangrove di Nusa Tenggara Barat, dan IKEA Indonesia terus memperluas program keberlanjutannya. Ketiga entitas ini bergerak bukan semata karena nilai-nilai lingkungan — mereka bergerak karena tekanan dari investor institusional dan konsumen yang semakin melek keberlanjutan adalah tekanan yang sangat nyata secara finansial.
Tiga pilar yang idealnya saling memperkuat — dan di mana celah terbesar saat ini berada:
🎓 Pilar 1: Akademia
Unpad (top 100 dunia), USK (Global Sustainable Development Congress), dan 34 PTS yang masuk THE Sustainability Ratings membentuk engine riset dan pengembangan SDM. Gap saat ini: Mayoritas universitas Indonesia belum memiliki sistem dokumentasi dampak keberlanjutan yang cukup kuat untuk diverifikasi oleh panel internasional.
🏭 Pilar 2: Industri
PT Steel Pipe Industry (PLTS di pabrik), Telkom Indonesia (restorasi mangrove NTB), dan IKEA Indonesia (perluasan program keberlanjutan) adalah implementor yang mulai mendanai dan mempraktikkan transisi hijau. Gap saat ini: Kemitraan riset antara industri dan universitas masih bersifat sporadis dan tidak sistematis — belum ada kerangka formal yang mendorong kolaborasi berkelanjutan.
📋 Pilar 3: Kebijakan
Kemendikbudristek, Rencana Aksi Nasional SDGs, dan komitmen Indonesia dalam Paris Agreement membentuk kerangka regulatoris. Gap saat ini: Integrasi SDGs ke dalam kurikulum nasional masih tidak merata, dan pendanaan riset inovasi hijau dari APBN belum mencapai skala yang dibutuhkan untuk mendorong lompatan representasi Indonesia di peringkat global.
34 PTS di Peta Global: Angka yang Menjanjikan, Tapi Belum Cukup
Kehadiran 34 perguruan tinggi swasta dalam THE Sustainability Impact Ratings 2026 adalah pencapaian yang patut diakui — ini menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan tidak lagi monopoli universitas negeri besar. Namun, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara, angka ini masih menempatkan Indonesia dalam posisi yang perlu dicermati lebih dalam. Malaysia, dengan ekosistem universitas riset yang lebih terfokus dan didukung pendanaan pemerintah yang konsisten, secara historis mengirimkan lebih banyak institusi ke berbagai peringkat internasional berbasis keberlanjutan. Singapura, meski secara total jumlah universitas lebih sedikit, memiliki representasi yang jauh lebih dalam di tier-tier atas peringkat global.
| Negara | Estimasi Jumlah Universitas di THE Sustainability Ratings 2026 | Universitas Tertinggi (Contoh) | Catatan Konteks |
|---|---|---|---|
| Indonesia | 35+ (termasuk Unpad dan 34 PTS) | Universitas Padjadjaran (Unpad) | Pertumbuhan partisipasi cepat, tetapi distribusi tidak merata (dominasi Jawa) |
| Malaysia | 40+ | Universiti Malaya (UM) | Pendanaan riset pemerintah lebih konsisten; jaringan penelitian internasional lebih luas |
| Thailand | 30+ | Mahidol University | Kuat di SDG kesehatan dan lingkungan; kemitraan riset internasional aktif |
| Filipina | 20+ | University of the Philippines | Pertumbuhan partisipasi stabil; kuat di SDG ketahanan iklim |
| Vietnam | 15+ | Vietnam National University | Partisipasi masih berkembang; infrastruktur riset dalam fase ekspansi |
| Singapura | 5–8 | National University of Singapore (NUS) | Jumlah sedikit tetapi konsisten di tier atas global; investasi per institusi sangat tinggi |
*Data estimasi berdasarkan tren historis dan informasi yang tersedia. Angka resmi lengkap THE Sustainability Impact Rankings 2026 per negara dapat berubah seiring pembaruan dari Times Higher Education.
Yang menarik dari tabel di atas bukan hanya soal angka absolut, tapi soal kualitas representasi. Indonesia memiliki lebih dari 4.000 perguruan tinggi yang terdaftar di Kemendikbudristek — salah satu basis universitas terbesar di Asia. Namun hanya sekitar 35 institusi yang mampu masuk radar penilaian THE Sustainability. Ini berarti tingkat partisipasinya, jika dihitung proporsional, masih sangat rendah. Tantangan strukturalnya bukan hanya soal kualitas riset, tapi juga soal kapasitas dokumentasi, kemampuan pelaporan dampak, dan — yang paling krusial — ketimpangan antara universitas di Jawa yang memiliki akses sumber daya lebih besar versus universitas di luar Jawa yang sering kali memiliki dampak komunitas yang lebih kuat di lapangan, tapi kurang mampu mengartikulasikannya dalam format yang dikenali oleh panel internasional.
Langkah Konkret Menuju 2027: Dari Pencapaian ke Sistem
Meningkatkan representasi Indonesia di THE Sustainability Impact Rankings 2027 membutuhkan lebih dari sekadar semangat institusional. Dibutuhkan tiga perubahan struktural yang bekerja bersamaan. Pertama, kolaborasi antara universitas dan industri harus diformalkan — bukan dalam bentuk nota kesepahaman yang kemudian terlupakan di laci birokrasi, melainkan dalam bentuk program riset bersama yang bisa menghasilkan data yang terukur dan berdampak langsung. Model yang dilakukan industri seperti Telkom dan Steel Pipe Industry dalam merespons transisi keberlanjutan adalah pintu masuk yang bisa dijembatani oleh universitas sebagai mitra riset strategis, seperti yang juga diulas dalam analisis mendalam tentang apakah peringkat keberlanjutan kampus Indonesia adalah pencapaian nyata atau sekadar citra.
Kedua, integrasi SDGs ke dalam kurikulum nasional harus bergerak dari sekadar mata kuliah pilihan menjadi komponen sistematis di berbagai program studi — dari teknik, ekonomi, hingga kesehatan masyarakat. Ketiga, dan mungkin yang paling menentukan, adalah soal pendanaan. Riset inovasi hijau membutuhkan investasi jangka panjang yang tidak bisa sepenuhnya bergantung pada skema hibah kompetitif yang bersifat tahunan. Diperlukan komitmen dari APBN maupun dari sektor swasta melalui mekanisme yang lebih terstruktur — sesuatu yang saat ini masih menjadi celah terbesar dalam ekosistem inovasi berkelanjutan Indonesia. Perkembangan sektor keberlanjutan yang lebih luas, termasuk sinyal-sinyal pertumbuhan keberlanjutan Indonesia yang kini semakin nyata, menunjukkan bahwa momentum ini ada — yang dibutuhkan adalah infrastruktur pendanaan yang bisa menangkapnya.
Sinyal, Bukan Garis Akhir
Pada akhirnya, peringkat adalah sinyal — bukan tujuan itu sendiri. Angka “top 100 dunia” yang dicapai Unpad, atau nama Indonesia yang mulai muncul lebih konsisten dalam daftar THE Sustainability Impact, adalah indikator bahwa arah perjalanan sudah benar. Tapi yang lebih penting untuk dipertanyakan adalah: apakah inovasi yang lahir di kampus-kampus ini benar-benar mengubah cara Indonesia memproduksi energi, mengelola wilayah pesisir, dan membangun industri? Apakah riset tentang manufaktur berkelanjutan yang dipresentasikan dalam konferensi internasional benar-benar menemukan jalannya ke kebijakan produksi? Apakah instalasi PLTS di pabrik baja adalah awal dari tren, atau sekadar proyek percontohan yang berdiri sendiri?
Dari laboratorium Unpad hingga pabrik baja yang kini bersolar panel, dari hutan mangrove yang ditanam Telkom di tepi pesisir NTB hingga ruang kelas di Banda Aceh yang mendiskusikan agenda pembangunan global — narasi keberlanjutan Indonesia sedang ditulis ulang. Universitas adalah salah satu penulis paling penting dalam narasi itu. Tapi tulisan itu baru bermakna jika ia meninggalkan bekas di dunia nyata, bukan hanya di halaman jurnal atau papan peringkat.
🌱 Trivia: Apa SDG yang paling banyak berkontribusi pada skor universitas di THE Sustainability Rankings?
Frequently Asked Questions
QS World University Rankings mengukur reputasi akademik, produktivitas riset secara umum, dan hasil kerja lulusan. THE Sustainability Impact Rankings secara khusus mengukur kontribusi universitas terhadap 17 SDGs PBB — dari pengelolaan energi kampus hingga dampak riset pada isu-isu lingkungan dan sosial. Keduanya berguna, tapi mengukur hal yang sangat berbeda.
Mengapa Unpad bisa masuk top 100 dunia sementara universitas Indonesia lain belum?
Selain kualitas riset, kuncinya adalah konsistensi dokumentasi dan kemampuan melaporkan dampak dalam format yang dikenali sistem evaluasi THE. Universitas yang berhasil masuk peringkat atas umumnya sudah membangun sistem pelaporan keberlanjutan internal yang kuat dan bisa diverifikasi secara independen.
Apakah perguruan tinggi swasta bisa bersaing dengan PTN di peringkat ini?
Ya. THE Sustainability Impact Rankings tidak mendiskriminasi status PTN atau PTS. Fakta bahwa 34 PTS Indonesia sudah masuk daftar ini menunjukkan bahwa keberlanjutan adalah arena yang bisa dimasuki oleh institusi mana pun — yang diperlukan adalah komitmen institusional, sistem dokumentasi yang baik, dan program keterlibatan komunitas yang bisa dibuktikan dampaknya.
Apa yang dimaksud dengan ‘stewardship’ dalam metodologi THE?
Stewardship mengukur bagaimana universitas mengelola operasional kampusnya sendiri sebagai cerminan komitmen keberlanjutan. Ini mencakup target pengurangan emisi karbon, kebijakan energi terbarukan di kampus, pengelolaan air dan limbah, serta kebijakan investasi yang mempertimbangkan faktor lingkungan dan sosial.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










