Mercy Tahitoe: Wajah Inovasi Hijau Indonesia

Ada satu pertanyaan yang terus-menerus menghantui ruang-ruang rapat korporat Indonesia: siapa yang berani mengangkat tangan pertama? Bukan untuk memamerkan pencapaian, tapi untuk menunjuk masalah yang semua orang pura-pura tidak lihat. Mercy Tahitoe, Partner di Praxis Indonesia, adalah salah satu dari sedikit orang yang mengangkat tangannya — dan tidak menurunkannya.

Di tengah lanskap bisnis yang masih sering memperlakukan keberlanjutan sebagai kampanye pemasaran ketimbang komitmen struktural, Mercy memilih jalur yang lebih sunyi tapi jauh lebih dalam: mendorong perubahan dari dalam sistem itu sendiri.

🌱 Trivia: Berapa persen pemimpin inovasi berkelanjutan di Indonesia yang perempuan?
Jawaban: Menurut data UN Women dan ILO (2024), perempuan hanya mewakili sekitar 28% posisi kepemimpinan di sektor lingkungan dan keberlanjutan di Asia Tenggara — jauh di bawah paritas, meski angka ini terus tumbuh seiring meningkatnya gerakan hijau di tingkat akar rumput.

Dari Mana Semua Ini Dimulai

Mercy bukan tipe orang yang tiba-tiba “tersadar” setelah menonton dokumenter alam. Perjalanannya lebih organik dari itu — dan justru karena itulah, lebih kuat.

Latar belakangnya mengombinasikan disiplin yang tidak biasa: sertifikasi marketing dari San Diego State University bertemu dengan Lean Six Sigma Green Belt dari Performance Excellence INC. Ini bukan kombinasi yang biasa kamu temukan di profil seorang inovator hijau. Tapi justru di sana letak kuncinya.

Lean Six Sigma — sebuah metodologi yang lahir dari industri manufaktur untuk menghilangkan pemborosan — mengajarkan satu hal yang sangat relevan untuk keberlanjutan: setiap inefisiensi adalah masalah yang bisa dipecahkan secara sistematis. Mercy membawa logika itu ke dalam konteks yang lebih besar: bagaimana organisasi bisa beroperasi lebih efisien, lebih bertanggung jawab, dan lebih sadar dampak — bukan karena diminta regulasi, tapi karena itu masuk akal secara bisnis.

Di Praxis, sebuah firma konsultan strategis, ia tidak sekadar memberikan saran. Ia membantu klien-kliennya memetakan ulang cara mereka berpikir tentang pertumbuhan — dari yang semata mengejar angka, menuju model yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial sebagai bagian dari strategi inti.

Perjalanan semacam ini mengingatkan pada apa yang pernah ditulis di platform ini tentang bagaimana perubahan hijau selalu dimulai dari satu pilihan berani — bukan dari momentum besar, tapi dari keputusan kecil yang diambil berulang kali.

Mendorong Sistem dari Dalam

Bekerja dari dalam sistem selalu lebih rumit daripada mengkritiknya dari luar. Mercy tahu ini. Dan inilah yang membuat profilnya jujur, bukan hanya inspiratif.

Tantangan terbesar bukan datang dari kurangnya ide atau niat. Inersia institusional — keengganan organisasi besar untuk mengubah cara kerja yang sudah “berhasil” secara finansial — adalah tembok yang nyata. Banyak inisiatif berkelanjutan kandas bukan karena idenya buruk, tapi karena tidak ada yang cukup sabar atau cukup strategis untuk menjelaskannya dalam bahasa yang dimengerti oleh dewan direksi.

Di sinilah pendekatan Mercy relevan: ia berbicara dua bahasa sekaligus — bahasa nilai dan bahasa bisnis. Tapi bahkan dengan keahlian itu, tekanan untuk menghasilkan dampak nyata di tengah prioritas jangka pendek klien tetap menjadi tantangan yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Konteks ini bukan untuk melemahkan apa yang ia bangun. Justru sebaliknya — ia menunjukkan bahwa gerakan inovasi hijau Indonesia membutuhkan lebih banyak orang seperti Mercy: yang bersedia duduk di meja negosiasi yang tidak nyaman, dan tetap di sana. Dinamika serupa juga terlihat dalam bagaimana sustainability di Indonesia perlahan berhenti menjadi wacana membosankan dan mulai masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan nyata.

FAKTA HIJAU
  • Indonesia menargetkan pengurangan emisi karbon sebesar 31,89% secara mandiri (atau hingga 43,2% dengan dukungan internasional) pada 2030, berdasarkan NDC terbaru yang diperbarui pada 2022.
  • Menurut laporan UNDP 2024, Asia Tenggara membutuhkan investasi hijau sebesar USD 210 miliar per tahun hingga 2030 untuk mencapai target iklim — dan sebagian besar gap itu harus diisi oleh sektor swasta melalui konsultan dan inovator strategis seperti yang bekerja di ekosistem Praxis.
  • Jumlah startup dan firma konsultan dengan fokus keberlanjutan di Indonesia tumbuh lebih dari 40% antara 2021 dan 2024, menandakan bahwa pasar untuk inovasi hijau kini semakin dewasa (sumber: Google for Startups SEA Sustainability Report, 2024).

Apa yang Bisa Kita Pelajari

Yang paling menarik dari perjalanan Mercy bukan hanya apa yang ia capai — tapi cara ia sampai ke sana.

Ia tidak menunggu mandat dari atas. Ia tidak menunggu momentum sosial yang sempurna. Ia mengambil keahlian yang ada di tangannya — pemahaman tentang sistem, tentang efisiensi, tentang komunikasi strategis — dan mengarahkannya ke persoalan yang paling penting.

Ini adalah pelajaran yang berlaku jauh melampaui dunia konsultansi. Keberlanjutan bukan monopoli aktivis atau ilmuwan iklim. Ia bisa dimulai oleh seorang manajer keuangan yang mulai mempertanyakan rantai pasok perusahaannya. Oleh seorang desainer yang menolak memesan bahan dari vendor yang tidak transparan. Oleh siapa saja yang memilih untuk tidak berpura-pura tidak tahu.

Seperti yang digambarkan dalam laporan tentang bahan ramah lingkungan yang diam-diam mengubah dunia, perubahan paling nyata sering kali tidak datang dengan pengumuman besar — ia datang dari keputusan sehari-hari yang diambil oleh orang-orang biasa yang menolak kompromi.

Mercy Tahitoe masih dalam proses membangun. Pertanyaan-pertanyaan yang ia bawa ke meja negosiasi belum semuanya terjawab. Tapi mungkin itulah bagian terpentingnya — bahwa ia terus bertanya, dan terus hadir, di ruang-ruang yang paling membutuhkan suara seperti miliknya.

FAQ & Key Takeaways

Key Takeaways

  • Keberanian individu adalah katalis sistem. Perubahan struktural dalam organisasi sering dimulai dari satu orang yang bersedia mengajukan pertanyaan tidak nyaman — dan terus mengajukannya.
  • Keahlian teknis bisa menjadi alat keberlanjutan. Metodologi seperti Lean Six Sigma, yang lahir dari industri, bisa diarahkan ulang untuk membangun bisnis yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
  • Indonesia membutuhkan lebih banyak “penerjemah” antara nilai dan bisnis. Tantangan terbesar inovasi hijau di Indonesia bukan kekurangan ide, tapi kekurangan orang yang bisa menyampaikan ide itu dalam bahasa yang dimengerti pemangku kepentingan korporat.
  • Kamu tidak perlu menunggu posisi sempurna untuk mulai mendorong perubahan. Dari posisi manapun — konsultan, karyawan, atau individu biasa — ada selalu celah untuk memilih lebih sadar dan mendorong lingkungan sekitar ke arah yang lebih baik.

FAQ

Siapa sebenarnya Mercy Tahitoe dan apa latar belakangnya?

Mercy Tahitoe adalah Partner di Praxis, sebuah firma konsultan strategis di Indonesia. Ia memiliki latar belakang di bidang marketing dan metodologi Lean Six Sigma, yang ia kombinasikan untuk membantu organisasi membangun strategi yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Apa pendekatan paling signifikan yang ia bawa dalam inovasi berkelanjutan?

Mercy dikenal karena pendekatannya yang menjembatani bahasa nilai lingkungan dengan logika bisnis — membantu klien melihat keberlanjutan bukan sebagai beban regulasi, tapi sebagai strategi pertumbuhan jangka panjang yang masuk akal secara finansial maupun etis.

Bagaimana saya bisa terlibat dalam gerakan inovasi berkelanjutan di Indonesia?

Mulai dari lingkaran terdekatmu — pertanyakan praktik di tempat kerja, dukung bisnis lokal yang transparan soal dampak lingkungannya, dan cari komunitas atau firma seperti Praxis yang membuka ruang dialog tentang perubahan sistemik. Setiap langkah kecil di dalam sistem adalah kontribusi nyata.

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?