Perjalanan Keberlanjutan IKEA: Sudah Sejauh Mana?

Fakta Cepat
  • ~90% kebutuhan listrik operasional toko-toko Ingka Group secara global kini dipasok dari sumber energi terbarukan, berdasarkan Ingka Group Annual Summary and Sustainability Report FY25.
  • Lebih dari 1 juta panel surya terpasang di atap fasilitas IKEA di seluruh dunia, menjadikannya salah satu pengguna energi surya rooftop terbesar di sektor ritel global.
  • Target “climate positive” sebelum 2030—artinya IKEA bertujuan menyerap lebih banyak karbon daripada yang dihasilkannya. Namun, emisi Scope 3 (dari rantai pasok dan penggunaan produk oleh konsumen) masih menjadi tantangan terbesar yang belum terselesaikan.
  • Lebih dari 98% kayu yang digunakan IKEA bersumber dari hutan bersertifikat FSC atau kayu daur ulang, menurut Inter IKEA Group Sustainability Statement FY25.
  • Program buyback dan Second Life sudah berjalan di puluhan negara, termasuk Indonesia melalui layanan Pemindahan dan Daur Ulang yang bermitra dengan organisasi nirlaba lokal.

Mengapa Ini Penting: Setiap Lemari adalah Sebuah Suara

Bayangkan setiap kali Anda membeli sebuah lemari pakaian, Anda sedang memberikan suara—bukan di kotak suara, tapi di pasar global yang jauh lebih berpengaruh. IKEA melayani lebih dari 800 juta kunjungan pelanggan per tahun. Ketika perusahaan sebesar ini mengubah cara mereka merancang, memproduksi, dan mengolah kembali produknya, efek dominonya terasa hingga ke standar industri furnitur global—dan pada akhirnya, ke pilihan yang tersedia bagi konsumen di sebuah apartemen di Jakarta atau rumah di Surabaya.

Industri furnitur global bukan pemain kecil dalam krisis iklim. Secara keseluruhan, sektor ini berkontribusi signifikan terhadap deforestasi tropis—kayu ilegal masih menjadi bahan baku yang umum di banyak rantai pasok furnitur yang kurang transparan. Untuk konteks Indonesia, ini sangat relevan: negara kita adalah salah satu pemasok kayu tropis terbesar di dunia, dan tekanan terhadap hutan kita sering kali bermula dari permintaan furnitur global yang tidak bertanggung jawab. Memahami bagaimana hutan kita yang berfungsi sebagai paru-paru dunia terhubung langsung dengan pilihan furnitur yang kita buat adalah titik awal yang penting.

Di sinilah komitmen IKEA menjadi relevan secara sistemik. Berdasarkan Inter IKEA Group Sustainability Statement FY25, perusahaan ini telah menetapkan kerangka kerja berbasis sains untuk mengurangi emisi absolut di seluruh rantai nilainya. Namun tantangan terbesarnya bukan di pabrik atau toko mereka—melainkan di Scope 3: emisi yang dihasilkan oleh pemasok bahan baku, proses pengiriman, dan cara konsumen menggunakan serta membuang produk IKEA setelah pembelian. Inilah area yang paling sulit dikendalikan, dan paling mahal untuk diubah—baik secara finansial maupun reputasi.

Implikasi finansial dari kegagalan di area ini sangat nyata. Regulasi ESG Uni Eropa yang semakin ketat—termasuk Corporate Sustainability Reporting Directive (CSRD) yang mulai berlaku penuh pada 2025–2026—mewajibkan pelaporan emisi Scope 3 secara transparan. Perusahaan yang gagal memenuhi standar ini menghadapi risiko denda, hambatan akses pasar Eropa, dan yang paling mahal: erosi kepercayaan konsumen yang nilainya tidak bisa dihitung dengan mudah.

Kesimpulan Kunci: Pilihan furnitur rumah tangga bukan hanya soal estetika atau anggaran—ia adalah keputusan iklim yang memiliki dampak finansial dan lingkungan yang terukur, baik bagi konsumen maupun bagi industri.

Insight Utama

Intinya: IKEA telah membangun fondasi keberlanjutan yang lebih kuat dari rata-rata industri furnitur global, namun pertumbuhan volume penjualan yang terus meningkat dan emisi rantai pasok yang belum terkendali sepenuhnya adalah ujian sesungguhnya dari keseriusan komitmen iklim mereka menjelang 2030.

Langkah Nyata: Apa yang Bisa Anda Lakukan Hari Ini

Berita baiknya: Anda tidak harus menunggu kebijakan global untuk mengambil tindakan. Berikut adalah langkah-langkah konkret yang bisa Anda mulai sekarang, terutama jika Anda berdomisili di Indonesia:

1. Manfaatkan Seksi As-Is di Toko IKEA Indonesia

Setiap toko IKEA memiliki area “As-Is”—tempat produk dengan kemasan rusak atau item display dijual dengan harga lebih rendah. Membeli dari sini berarti Anda memperpanjang umur produk yang sudah ada, bukan mendorong produksi baru. Ini adalah salah satu cara paling mudah dan hemat biaya untuk berbelanja lebih bertanggung jawab.

2. Gunakan Layanan Pemindahan dan Daur Ulang IKEA Indonesia

IKEA Indonesia telah memperkenalkan layanan Pemindahan dan Daur Ulang yang bermitra dengan organisasi nirlaba lokal. Alih-alih membuang furnitur lama ke tempat sampah, Anda bisa menghubungi layanan ini untuk memastikan produk Anda mendapat penanganan yang tepat—apakah itu didaur ulang atau dialihkan ke mereka yang membutuhkan. Ini relevan dengan gerakan ekonomi sirkular yang sedang berkembang di Indonesia.

3. Cari Label FSC dan OEKO-TEX Saat Berbelanja

Dua sertifikasi ini adalah penanda paling mudah untuk furnitur dan tekstil yang lebih bertanggung jawab:

  • FSC (Forest Stewardship Council): Menjamin kayu berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab.
  • OEKO-TEX Standard 100: Menjamin tekstil (seperti sarung bantal atau selimut IKEA) bebas dari zat kimia berbahaya.

Produk IKEA yang memenuhi standar ini biasanya tercantum jelas di label atau halaman produk online mereka.

4. Pilih Produk dari Lini Daur Ulang IKEA

Beberapa lini produk IKEA—seperti KUNGSBACKA (terbuat dari botol PET daur ulang) dan RÅSKOG (baja daur ulang)—dirancang dengan prinsip ekonomi sirkular. Memilih produk-produk ini secara langsung mendukung permintaan pasar untuk material daur ulang, yang pada gilirannya mendorong investasi industri ke arah yang lebih baik.

5. Rawat dan Perbaiki, Bukan Ganti

IKEA menyediakan suku cadang pengganti untuk sebagian besar produknya—dari sekrup hingga engsel pintu lemari. Sebelum memutuskan membeli furnitur baru, cek dulu apakah ada suku cadang yang tersedia. Memperpanjang umur produk yang sudah ada adalah tindakan iklim yang paling langsung dan paling hemat biaya.

“Kami percaya bahwa cara terbaik untuk mencapai masa depan yang positif bagi iklim adalah dengan mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam inti model bisnis kami—bukan sebagai tambahan, tapi sebagai cara kami beroperasi setiap hari.”
— Ingka Group, Annual Summary and Sustainability Report FY25

Tabel Perbandingan: IKEA vs Standar Industri

Metrik Keberlanjutan IKEA (Ingka Group) Rata-Rata Industri Furnitur Global Kompetitor Lokal Indonesia (Umum)
Energi Terbarukan ~90% kebutuhan listrik operasional dari energi terbarukan Di bawah 30% (mayoritas masih bergantung pada listrik berbasis batu bara/gas) Data terbatas; sebagian besar belum melaporkan secara transparan
Program Daur Ulang / Buyback Ada di puluhan negara, termasuk Indonesia (program Pemindahan & Daur Ulang) Sangat terbatas; sebagian besar tanpa program formal Mulai ada inisiatif thrifting lokal, namun belum terstandardisasi
Transparansi Laporan ESG Laporan tahunan terperinci sesuai standar ESRS (EU); mencakup Scope 1, 2, dan 3 Pelaporan Scope 3 masih jarang dan tidak konsisten Pelaporan ESG formal masih sangat awal di kebanyakan merek lokal
Target Net-Zero / Climate Positive Target “climate positive” sebelum 2030 Sebagian besar tidak memiliki target berbasis sains yang terverifikasi Belum ada komitmen net-zero yang dipublikasikan secara luas
Sertifikasi Bahan Baku >98% kayu bersertifikat FSC atau daur ulang Bervariasi; banyak yang tidak memiliki sertifikasi pihak ketiga Sebagian menggunakan kayu lokal tanpa sertifikasi yang jelas

Perspektif Sistem: Ketika Pertumbuhan Bisnis Berbenturan dengan Janji Iklim

Di sinilah analisis harus jujur dan kritis. Ada ketegangan mendasar yang tidak bisa diabaikan dalam model bisnis IKEA: perusahaan ini dirancang untuk tumbuh—lebih banyak toko, lebih banyak produk, lebih banyak pelanggan. Namun keberlanjutan sejati, dalam banyak interpretasinya, menuntut konsumsi yang lebih sedikit, bukan lebih banyak.

Sisi kritisnya: Emisi Scope 3 IKEA—yang mencakup seluruh rantai pasok dari pemasok bahan baku hingga bagaimana konsumen menggunakan dan membuang produk—jauh lebih besar dari emisi operasional langsung mereka. Berdasarkan Inter IKEA Group Sustainability Statement FY25, ini adalah area yang paling kompleks dan paling lambat mengalami penurunan. Pertumbuhan volume penjualan yang konsisten setiap tahun berarti lebih banyak produk baru yang diproduksi, lebih banyak bahan baku yang dieksploitasi, dan lebih banyak emisi yang harus dikompensasi. Biaya finansial dari kegagalan mencapai target climate positive sebelum 2030 juga tidak kecil—mulai dari denda regulasi ESG di pasar Eropa, hingga potensi kehilangan segmen konsumen muda yang semakin kritis terhadap greenwashing.

Sisi solusinya: Regulasi CSRD Uni Eropa yang berlaku penuh pada 2025–2026 justru bisa menjadi katalis positif. Dengan kewajiban pelaporan yang lebih ketat dan transparan, perusahaan seperti IKEA tidak lagi bisa menyembunyikan emisi Scope 3 di balik laporan yang selektif. Ini adalah tekanan eksternal yang, secara paradoks, bisa mendorong perubahan yang lebih nyata daripada komitmen sukarela. Ingka Group sendiri telah mulai menyesuaikan laporan mereka dengan standar ESRS—sebuah langkah yang melampaui banyak kompetitor.

Untuk Indonesia, konteks ini relevan dari dua arah. Pertama, sebagai konsumen: tren thrifting dan pasar furnitur bekas yang tumbuh pesat di Indonesia adalah sinyal positif bahwa kesadaran sirkular sedang berkembang secara organik. Kedua, sebagai negara penghasil bahan baku: standar FSC yang diterapkan IKEA secara tidak langsung menciptakan insentif bagi pengelolaan hutan yang lebih bertanggung jawab di negara-negara pemasok, termasuk Indonesia. Ini terhubung langsung dengan upaya melawan deforestasi di Indonesia yang membutuhkan tekanan dari berbagai sisi, termasuk dari sisi permintaan pasar global.

Kesimpulan Kunci: IKEA bukan perusahaan yang sempurna secara lingkungan—tapi mereka adalah salah satu yang paling transparan dan paling terstruktur dalam agenda keberlanjutannya di industri furnitur global. Skeptisisme yang sehat dari konsumen bukan untuk menolak, melainkan untuk mendorong akuntabilitas yang lebih tinggi.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul

Apakah produk IKEA benar-benar ramah lingkungan, atau ini hanya greenwashing?

Jawabannya ada di tengah-tengah. IKEA memiliki komitmen yang terukur dan terverifikasi secara independen—seperti target FSC untuk kayu dan pelaporan emisi berbasis standar ESRS—yang melampaui banyak kompetitor di industri furnitur.

Namun, model bisnis volume tinggi mereka menciptakan ketegangan nyata dengan tujuan dekarbonisasi. Greenwashing terjadi ketika klaim jauh melampaui kenyataan. Dalam kasus IKEA, kemajuan nyata ada—tapi tantangan Scope 3 yang belum terselesaikan menandakan masih banyak pekerjaan rumah yang tersisa. Konsumen yang kritis mendorong perusahaan untuk terus maju, bukan mundur.

Apa yang terjadi dengan furnitur IKEA bekas yang dikembalikan melalui program buyback?

Furnitur yang dikembalikan melalui program buyback biasanya melalui beberapa jalur: dijual kembali dalam kondisi as-is di toko (lebih murah untuk pembeli baru), disumbangkan kepada organisasi sosial yang bermitra dengan IKEA, atau jika sudah tidak layak pakai, komponen-komponennya didaur ulang.

Di Indonesia, layanan Pemindahan dan Daur Ulang IKEA bermitra dengan organisasi nirlaba lokal untuk memastikan produk yang dikembalikan tidak berakhir di tempat pembuangan akhir. Ini adalah langkah konkret menuju ekonomi sirkular, meski skalanya masih perlu diperluas.

Apakah ada program keberlanjutan IKEA yang sudah hadir di Indonesia?

Ya. Selain layanan Pemindahan dan Daur Ulang yang bermitra dengan organisasi nirlaba, toko IKEA di Indonesia juga memiliki seksi As-Is (produk display atau kemasan rusak dengan harga lebih terjangkau), serta menyediakan suku cadang pengganti untuk memperpanjang umur produk.

Program-program ini mungkin belum sepopuler di Eropa, namun tersedia dan bisa dimanfaatkan sekarang. Langkah paling sederhana adalah bertanya langsung kepada staf toko tentang produk As-Is dan opsi daur ulang yang tersedia saat ini.

Bagaimana regulasi ESG Eropa memengaruhi IKEA dan konsumen Indonesia?

Regulasi CSRD Uni Eropa mewajibkan perusahaan besar seperti IKEA untuk melaporkan emisi Scope 1, 2, dan 3 secara transparan dan terverifikasi. Artinya, IKEA tidak bisa lagi hanya melaporkan emisi yang mudah dikelola sambai mengabaikan yang kompleks.

Dampaknya bagi konsumen Indonesia: standar transparansi yang lebih tinggi berarti Anda bisa mengakses data yang lebih jujur tentang kinerja lingkungan produk yang Anda beli. Ini juga menciptakan tekanan yang sehat bagi merek-merek lain—lokal maupun global—untuk meningkatkan standar mereka agar tetap relevan di pasar yang semakin sadar lingkungan.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?