Kampus dan Daerah Indonesia Bergerak Nyata Wujudkan Keberlanjutan

Di sebuah sudut kampus Universitas Negeri Semarang, mahasiswa menancapkan bibit ke tanah — bukan sebagai seremonial, melainkan sebagai bagian dari program monitoring yang terstruktur. Hampir bersamaan, ribuan kilometer jauhnya di Enschede, Belanda, Rektor Universitas Islam Malang menandatangani kesepahaman dengan salah satu universitas riset terkemuka di Eropa. Dua momen ini terpisah jarak, tetapi membaca arah yang sama: gerakan keberlanjutan Indonesia tidak lagi tumbuh dari satu titik, melainkan mekar serentak dari kampus, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha kecil di kepulauan terpencil. Ini bukan lonjakan tren sesaat yang akan meredup dalam satu musim — ini adalah pola sistemik yang sedang menguat dan semakin terstruktur.

Yang membuat tren ini berbeda dari gelombang hijau sebelumnya adalah adanya akuntabilitas yang terukur. Universitas Brawijaya membagikan 52 penghargaan kepada fakultas-fakultasnya berdasarkan pencapaian 17 poin Sustainable Development Goals (SDGs). Wakatobi, sebuah kabupaten kepulauan di Sulawesi Tenggara, memiliki Bupati dan Ketua TP PKK yang secara bersamaan turun tangan mendukung riset green sustainability untuk UMKM lokal. Ketika institusi pendidikan tinggi dan pemerintah daerah mulai menggunakan bahasa dan metrik yang sama — yaitu SDGs — maka keberlanjutan bukan lagi wacana; ia menjadi sistem.

“Kami melihat University of Twente sebagai salah satu model yang mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, dan kewirausahaan. Pengalaman Prof. Dave Blank dalam membangun ekosistem NanoLab dan DesignLab menjadi inspirasi penting bagi UNISMA dalam mengembangkan pusat riset dan inovasi yang berdampak bagi masyarakat.”
— Prof. Junaidi Mistar, Rektor UNISMA

Fakta Cepat
  • UNNES aktif menjalankan program monitoring penanaman bibit BSPTH sebagai bagian dari agenda penghijauan dan konservasi kampus jangka panjang.
  • UNISMA bermitra dengan University of Twente (Belanda) dan CLM Nano Energy untuk membangun Sustainable Green Campus dan R&D Design Lab multidisiplin.
  • Universitas Brawijaya memberikan 52 penghargaan kepada fakultas berdasarkan pencapaian 17 poin SDGs — menjadikan SDGs sebagai tolok ukur kinerja institusional.
  • Bupati dan Ketua TP PKK Wakatobi sama-sama memberikan dukungan resmi terhadap riset green sustainability untuk UMKM lokal di kawasan kepulauan.
  • Kampanye kebersihan dan keberlanjutan lingkungan menjadi benang merah yang menghubungkan inisiatif lintas institusi di Indonesia.
  • Model kolaborasi kampus–industri–pemerintah daerah kini muncul sebagai pendekatan baru untuk mempercepat pencapaian SDGs di Indonesia.

Program BSPTH — Bibit Satuan Penghijauan dan Tata Hijau — yang dijalankan UNNES bukan sekadar kegiatan tanam-menanam. Monitoring aktif yang dilakukan kampus ini dirancang untuk memastikan setiap bibit yang ditanam benar-benar tumbuh dan berkontribusi pada target keanekaragaman hayati kampus. Pendekatan ini penting karena penanaman tanpa tindak lanjut kerap menjadi titik lemah program penghijauan di berbagai institusi. Dengan sistem monitoring yang terstruktur, UNNES menempatkan dirinya bukan hanya sebagai kampus yang peduli lingkungan, tetapi sebagai institusi yang bisa membuktikan dampaknya secara kuantitatif — sebuah standar yang idealnya direplikasi oleh kampus-kampus lain di seluruh Indonesia.

Di kota Malang, UNISMA mengambil langkah yang lebih ambisius dengan melampaui batas geografis. Kunjungan delegasi yang dipimpin langsung oleh Rektor Prof. Junaidi Mistar ke University of Twente di Enschede menghasilkan kesepahaman konkret untuk membangun R&D Design Lab — sebuah pusat kolaborasi yang mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, teknologi, dan kewirausahaan dalam satu ekosistem. Kemitraan ini melibatkan Prof. Dr. Ing. Dave H.A. Blank, pakar nanoteknologi kelas dunia dari MESA+ Institute for Nanotechnology, sekaligus mantan Chief Scientific Ambassador Belanda. Di sisi industri, CLM Nano Energy masuk sebagai mitra teknologi dengan fokus pada penyimpanan energi hijau dan solusi baterai generasi baru. Relevansinya bagi Indonesia sangat nyata: negara ini memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, tetapi ekosistem riset baterai domestik masih dalam tahap awal, dan kolaborasi semacam inilah yang bisa mempercepat prosesnya.

Mr. Christian Kraft dari CLM Nano Energy menegaskan bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri adalah kunci untuk mengubah hasil penelitian menjadi produk yang benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat. Pernyataan ini bukan sekadar diplomasi akademik — ia mencerminkan kesenjangan nyata yang selama ini menghambat inovasi keberlanjutan di Indonesia, yaitu jarak antara laboratorium dan lapangan. Dengan R&D Design Lab yang direncanakan UNISMA, jarak itu berpotensi dipangkas secara signifikan. Bagi kampus-kampus lain yang tengah membangun program ekosistem keberlanjutan Indonesia, langkah UNISMA ini bisa menjadi cetak biru yang sangat relevan.

Universitas Brawijaya memilih pendekatan yang berbeda namun sama-sama kuat: mendorong akuntabilitas dari dalam. Dengan memberikan 52 penghargaan kepada fakultas berdasarkan capaian 17 poin SDGs, UB secara efektif mengubah SDGs dari dokumen aspiratif PBB menjadi kartu rapor internal yang konkret. Setiap poin — mulai dari kesetaraan gender, pendidikan berkualitas, energi bersih, hingga ekosistem daratan — menjadi kategori yang bisa diukur dan dihargai. Pesan yang dikirimkan kepada sesama institusi pendidikan tinggi sangat jelas: keberlanjutan bukan hanya tanggung jawab rektorat, melainkan kinerja kolektif seluruh unit. Ini adalah pergeseran paradigma yang signifikan dalam tata kelola universitas Indonesia, dan keberlanjutan yang bergerak serentak dari kampus semacam inilah yang paling mungkin menghasilkan dampak jangka panjang.

Sementara itu, narasi keberlanjutan yang paling mengejutkan justru datang dari Wakatobi. Kabupaten kepulauan yang lebih dikenal sebagai destinasi wisata selam kelas dunia ini ternyata menyimpan gerakan yang jauh lebih dalam dari permukaan lautnya. Bupati dan Ketua TP PKK Wakatobi secara bersamaan memberikan dukungan resmi terhadap riset green sustainability yang difokuskan pada penguatan ekonomi UMKM lokal. Ini adalah dimensi yang sering absen dari diskusi keberlanjutan perkotaan: bahwa pelaku usaha kecil di daerah pesisir dan kepulauan — penjual hasil laut, pengrajin lokal, pengelola homestay berbasis komunitas — memiliki kepentingan langsung terhadap ekosistem yang sehat. Ketika pemimpin daerah merespons kebutuhan ini dengan riset yang terstruktur, bukan sekadar kampanye kebersihan, maka keberlanjutan benar-benar menyentuh akar ekonomi komunitas.

Dari bibit mangrove yang dipantau di Semarang, laboratorium nano yang dirancang di Malang, kartu rapor SDGs di Brawijaya, hingga riset UMKM di Wakatobi — polanya semakin terang. Indonesia sedang mengalami pergeseran dari keberlanjutan sebagai slogan menjadi keberlanjutan sebagai sistem yang terukur, terstruktur, dan melibatkan banyak pihak sekaligus. Bagi siapa pun yang tinggal di sekitar kampus, bekerja di UMKM, atau sekadar peduli pada lingkungan sekitar, momen ini adalah undangan untuk terlibat: perhatikan inisiatif yang sudah berjalan, dukung riset yang relevan, dan jadikan agenda SDGs sebagai bagian dari keseharian. Gerakan ini sudah mulai, dan semakin banyak yang bergabung, semakin cepat ia mengakar. Langkah yang sama bisa dimulai dari hal-hal kecil — termasuk gerakan 3R yang terbukti berdampak nyata dari komunitas lokal.

Frequently Asked Questions
Apa itu program BSPTH yang dijalankan UNNES?
BSPTH adalah singkatan dari Bibit Satuan Penghijauan dan Tata Hijau, yaitu program penanaman bibit yang dilakukan UNNES sebagai bagian dari agenda konservasi dan penghijauan kampus. Yang membedakannya dari program tanam biasa adalah adanya monitoring aktif untuk memastikan bibit benar-benar tumbuh dan berkontribusi pada target keanekaragaman hayati kampus jangka panjang.

Apa yang dimaksud dengan R&D Design Lab yang direncanakan UNISMA?
R&D Design Lab adalah pusat kolaborasi multidisiplin yang dirancang UNISMA bersama mitra internasionalnya — University of Twente dan CLM Nano Energy dari Belanda. Lab ini akan mengintegrasikan pendidikan, penelitian, inovasi, teknologi hijau, dan kewirausahaan dalam satu ekosistem, dengan tujuan mempercepat hilirisasi hasil riset menjadi produk dan teknologi yang bisa dimanfaatkan masyarakat dan industri.

Mengapa Universitas Brawijaya memberikan penghargaan berdasarkan 17 poin SDGs?
UB menggunakan 17 poin SDGs — kerangka pembangunan berkelanjutan yang ditetapkan PBB — sebagai tolok ukur kinerja internal setiap fakultas. Dengan 52 penghargaan yang dibagikan, UB mengubah SDGs dari dokumen aspiratif menjadi sistem akuntabilitas yang nyata, mendorong setiap unit kampus untuk berkontribusi aktif pada agenda keberlanjutan global.

Bagaimana UMKM di Wakatobi terhubung dengan agenda keberlanjutan?
Wakatobi adalah kabupaten kepulauan yang ekonominya sangat bergantung pada ekosistem laut yang sehat — mulai dari perikanan, pariwisata, hingga kerajinan lokal. Riset green sustainability yang didukung Bupati dan Ketua TP PKK Wakatobi bertujuan memperkuat ketangguhan ekonomi UMKM lokal sekaligus menjaga kelestarian lingkungan yang menjadi sumber penghidupan mereka.

Apakah tren ini hanya terjadi di kampus besar dan kota-kota besar Indonesia?
Tidak. Justru salah satu temuan menarik dari tren ini adalah cakupannya yang luas — dari kampus di Semarang dan Malang, hingga pemerintah daerah di kepulauan Wakatobi. Ini menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan kini bergerak lintas skala dan geografi, bukan hanya milik kota-kota besar.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?