Di lantai perdagangan Wall Street, satu kata biasanya mendominasi setiap peluncuran saham baru: disruption. Tapi ada sebuah minggu ketika kata yang justru paling banyak disebut para analis adalah sustainability. Reformation Inc., merek pakaian wanita yang membangun seluruh identitas bisnisnya di atas prinsip keberlanjutan, resmi melantai di bursa saham dan berhasil menghimpun dana sebesar $210,9 juta — angka yang tidak kecil bahkan untuk ukuran merek fashion konvensional. Hampir di saat yang bersamaan, eBay mengumumkan akuisisi Depop, platform jual-beli pakaian bekas yang sangat populer di kalangan anak muda. Dua peristiwa ini muncul dalam satu siklus berita yang sama, dan bagi siapa pun yang masih menganggap fashion berkelanjutan sebagai ceruk kecil yang idealistis, inilah momen untuk mempertimbangkan ulang.
Bagi pembaca Indonesia — salah satu negara dengan populasi konsumen fashion terbesar di Asia Tenggara dan generasi milenial yang semakin sadar lingkungan — apa yang terjadi di New York dan Silicon Valley ini bukan sekadar berita luar negeri. Ini adalah sinyal tentang ke mana uang besar sedang mengalir, dan ke mana industri yang kita ikuti setiap harinya sedang bergerak.
Reformation bukan nama yang asing di kalangan pecinta mode yang melek lingkungan. Merek ini lahir dengan satu premis yang sederhana namun radikal: bahwa pakaian yang indah dan produksi yang bertanggung jawab bukan dua hal yang harus dikorbankan salah satunya. Mereka membuat pakaian wanita — dari gaun hingga celana — menggunakan bahan-bahan yang dipilih dengan pertimbangan dampak lingkungan, dan mereka tidak segan mempublikasikan data jejak karbon setiap produk langsung di website mereka. IPO senilai $210,9 juta ini bukan hanya pencapaian finansial; ini adalah argumen paling kuat yang pernah ada bahwa model bisnis seperti Reformation layak untuk diskalakan.
- Reformation Inc. berhasil menghimpun $210,9 juta dalam penawaran saham perdana (IPO) mereka.
- Saham Reformation ditutup flat pada hari pertama perdagangan — sebuah tanda stabilitas di tengah pasar yang bergejolak.
- Hasil IPO direncanakan untuk digunakan dalam rangka menggandakan jumlah toko fisik Reformation.
- Reformation adalah merek pakaian wanita berkelanjutan yang dikenal dengan transparansi rantai pasok dan pilihan bahan ramah lingkungan.
- eBay mengakuisisi Depop, platform jual-beli pakaian bekas berbasis komunitas, sebagai bagian dari strategi mereka di ranah fashion sirkular.
Yang membuat Reformation berbeda dari merek fashion lain yang pernah melantai di bursa adalah bahwa label “berkelanjutan” bukan sekadar dekorasi kampanye pemasaran mereka. Ini adalah arsitektur operasional mereka. Reformation dikenal memilih kain-kain yang dampak lingkungannya lebih rendah dibanding bahan konvensional — seperti Tencel, linen, dan kain daur ulang — dan transparansi bukan sekadar janji: mereka mempublikasikan data penggunaan air, emisi karbon, dan jejak limbah per produk secara terbuka. Mereka juga mengelola sebagian proses produksi secara in-house, memberikan kontrol lebih besar atas kondisi kerja dan kualitas produk. Ketika sebuah merek seperti ini masuk bursa saham, investor tidak hanya membeli saham di perusahaan fashion — mereka membeli argumen bahwa bisnis yang bertanggung jawab secara lingkungan bisa menghasilkan keuntungan yang nyata dan berkelanjutan.
Soal saham yang ditutup flat di hari pertama perdagangan — ini adalah detail yang perlu dipahami dengan benar, bukan disalahartikan. Dalam konteks IPO, “flat” bukanlah kegagalan. Kenaikan harga saham yang dramatis di hari pertama memang terdengar lebih menggembirakan, tapi sering kali mencerminkan spekulasi jangka pendek, bukan keyakinan investor pada fundamental bisnis. Saham yang stabil pada harga penawaran justru bisa dibaca sebagai tanda bahwa penjamin emisi menetapkan harga dengan tepat, dan bahwa pasar menerima valuasi tersebut sebagai sesuatu yang masuk akal — bukan hype. Untuk merek berbasis nilai seperti Reformation, yang investor-nya lebih mungkin adalah mereka yang percaya pada visi jangka panjang, stabilitas awal ini bisa jadi fondasi yang lebih sehat daripada lonjakan satu hari yang kemudian diikuti koreksi tajam.
Rencana penggunaan dana IPO — yakni menggandakan jumlah toko fisik — mungkin terdengar paradoks di era digital-first pasca pandemi. Tapi justru di sinilah logika Reformation menjadi menarik. Toko fisik untuk merek berkelanjutan bukan sekadar tempat jual-beli; ia berfungsi sebagai ruang edukasi dan pengalaman merek yang tidak bisa direplikasi oleh layar ponsel. Masuk ke dalam sebuah toko Reformation berarti melihat langsung bagaimana pakaian dibuat, material apa yang digunakan, dan mengapa pilihan desain tertentu dibuat dengan pertimbangan lingkungan. Ekspansi ritel ini adalah investasi pada kesadaran konsumen — membangun komunitas pembeli yang bukan hanya loyal, tapi juga paham mengapa mereka memilih merek ini. Di dunia di mana kepercayaan konsumen adalah aset paling berharga, toko fisik menjadi titik sentuh yang tidak ternilai.
Sementara Reformation mewakili sisi produksi baru yang dilakukan dengan benar, akuisisi Depop oleh eBay berbicara tentang sisi lain dari ekosistem fashion berkelanjutan yang sama pentingnya: konsumsi sirkular. Depop adalah platform di mana jutaan pengguna — mayoritas besar dari kalangan Gen Z — membeli dan menjual kembali pakaian bekas. eBay, yang selama ini identik dengan lelang barang lama, melihat akuisisi ini sebagai cara untuk menempatkan diri di jantung ekonomi resale yang sedang meledak. Dua langkah ini — IPO Reformation dan akuisisi Depop — secara bersama-sama menggambarkan bahwa fashion berkelanjutan kini beroperasi di beberapa lapisan ekonomi sekaligus: dari produksi yang bertanggung jawab hingga sirkulasi produk yang sudah ada. Ini bukan lagi gerakan pinggiran; ini adalah infrastruktur industri yang sedang dibangun ulang. Untuk pembaca yang ingin memahami lebih luas bagaimana inovasi fashion berkelanjutan global terus berkembang, gambaran besar ini adalah titik awal yang baik.
🌱 Trivia: Seberapa Besar Pasar Fashion Bekas Dunia?
Ketika institusi investasi terbesar di dunia mulai mendanai fashion berkelanjutan di skala IPO, ada sesuatu yang berubah secara fundamental dalam cara industri ini bekerja. Ini bukan lagi soal memilih antara “etis” dan “terjangkau” — ini tentang kenyataan bahwa merek yang membangun model bisnis di atas transparansi, efisiensi sumber daya, dan kepercayaan konsumen ternyata mampu menarik modal serius. Bagi konsumen biasa, termasuk para pembeli fashion di Indonesia, ini adalah validasi dari pilihan-pilihan yang mungkin sudah mereka pertimbangkan: membeli lebih sedikit tapi lebih berkualitas, memilih merek yang bisa dipertanggungjawabkan, atau menjajal platform resale alih-alih berbelanja koleksi baru setiap musim. Keberlanjutan bukan lagi pengorbanan — ia sedang menjadi premium baru yang paling banyak dicari.
Di Indonesia sendiri, benih-benih pergerakan ini sudah terasa. Pasar preloved dan thrift lokal tumbuh subur di berbagai kota besar, dari Pasar Santa di Jakarta hingga komunitas preloved di Bandung dan Surabaya. Sejumlah desainer dan label lokal mulai serius menggarap produksi etis — menggunakan bahan alami, memberdayakan pengrajin lokal, dan membangun narasi merek di atas kejujuran proses. Platform digital lokal yang mirip Depop pun mulai bermunculan, menjawab hasrat generasi muda untuk berbelanja cerdas tanpa harus melepas gaya. Pertanyaan yang kemudian wajar muncul adalah: apakah momen IPO seperti yang dilakukan Reformation bisa menginspirasi investor dan wirausahawan Indonesia untuk serius mendukung ekosistem fashion berkelanjutan lokal? Jawabannya mungkin bergantung pada seberapa jelas kita melihat bahwa ini bukan tren — ini adalah arah pasar yang sudah terbukti. Untuk konteks yang lebih luas, perlu dicatat bahwa IPO Reformation senilai Rp3,4 triliun ini sendiri sudah menjadi bukti nyata bahwa fashion berkelanjutan telah dewasa sebagai kategori investasi.
Pada akhirnya, dua berita ini — Reformation yang melantai di bursa dan eBay yang merangkul Depop — bukan dua kisah terpisah tentang dua perusahaan yang kebetulan peduli lingkungan. Mereka adalah dua sisi koin yang sama: bahwa fashion berkelanjutan kini bukan lagi ekonomi alternatif. Ia adalah ekonomi itu sendiri, yang sedang membentuk ulang cara produksi dilakukan, cara produk bersirkulasi, dan cara uang mengalir dalam industri ini. Setiap pakaian yang kamu beli dari merek yang transparan, setiap item bekas yang kamu jual atau beli di platform resale, dan setiap keputusan untuk melewatkan koleksi musiman demi sesuatu yang lebih tahan lama — semuanya adalah bagian dari sistem yang sama yang sedang ditopang oleh modal Wall Street. Pilihan konsumen dan headline berita hari ini ternyata berbicara dalam bahasa yang sama. Dan bahasa itu semakin keras terdengar. Semua ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan brand berkelanjutan kini hadir dalam wajah yang semakin beragam dan nyata — bukan hanya di panggung global, tapi juga di kehidupan sehari-hari kita.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










