Industri fashion pernah menduduki posisi yang tidak membanggakan: salah satu sektor paling merusak lingkungan di planet ini. Limbah tekstil, pewarna kimia yang mengalir ke sungai, dan rantai produksi yang mengeksploitasi tenaga kerja murah adalah bagian dari wajah industri yang selama ini tersembunyi di balik kemewahan etalase. Namun sesuatu tengah berubah — bukan secara perlahan, melainkan dalam gelombang yang datang dari banyak arah sekaligus. Desainer independen mulai membangun merek dengan fondasi etis yang sesungguhnya. Pekan mode paling bergengsi di dunia mengubah kebijakannya. Perusahaan kemasan mengakuisisi bisnis lain demi memperkuat rantai pasok yang lebih bertanggung jawab. Dan data persepsi merek global mulai membuktikan bahwa keberlanjutan bukan hanya soal moral — ia adalah strategi bisnis yang menguntungkan.
Untuk memahami pergeseran ini secara utuh, ada empat sinyal besar yang perlu diperhatikan. Pertama, kemunculan Siobhan McCarthy dan merek tas tangannya, Póchette, yang mendefinisikan ulang apa artinya kemewahan etis. Kedua, keputusan Milan Fashion Week untuk mengeluarkan bulu hewan dari panggung runway mereka. Ketiga, akuisisi RediBagUSA oleh ACR sebagai tanda bahwa keberlanjutan kini merambah hingga ke kemasan dan rantai pasok. Dan keempat, data dari Brand Finance Sustainability Perceptions Index yang menunjukkan bahwa merek-merek yang dipersepsikan berkelanjutan menuai keuntungan nyata dalam reputasi global. Bersama-sama, keempat sinyal ini bukan kebetulan — mereka adalah bukti bahwa fashion berkelanjutan sedang menuju arus utama.
- Pasar fashion berkelanjutan global diproyeksikan terus tumbuh secara signifikan memasuki pertengahan dekade 2020-an, didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen dan tekanan regulasi dari Eropa.
- Milan Fashion Week telah mendorong para desainer untuk menghapus penggunaan bulu hewan asli dari koleksi runway mereka, sebuah kebijakan yang mencerminkan pergeseran industri secara lebih luas.
- Jollibee Group menjadi perusahaan asal Filipina yang menempati posisi pertama dalam Brand Finance Sustainability Perceptions Index selama dua tahun berturut-turut — sebuah pencapaian yang menunjukkan betapa kuatnya persepsi publik terhadap komitmen keberlanjutan sebuah merek.
- Sejak 2020, ratusan merek fashion berkelanjutan baru bermunculan secara global, banyak di antaranya didirikan oleh desainer independen yang menolak model produksi massal konvensional.
- Survei konsumen global secara konsisten menunjukkan bahwa mayoritas pembeli, khususnya dari generasi milenial dan Gen Z, kini mempertimbangkan jejak lingkungan sebuah produk sebelum memutuskan untuk membeli.
Di kota kecil Naas, Irlandia, Siobhan McCarthy sedang membangun sesuatu yang terasa berbeda dari kebanyakan merek fashion yang mengklaim diri mereka “berkelanjutan.” Lewat mereknya, Póchette, ia merancang tas tangan yang dibuat secara etis — dengan bahan-bahan yang bersumber secara bertanggung jawab dan sentuhan keahlian pengrajin yang tidak bisa direplikasi oleh mesin. Yang membedakan McCarthy bukan hanya materialnya, melainkan filosofinya: ia memilih untuk tumbuh perlahan daripada memperbesar skala dengan cepat. Dalam industri yang kerap mengidentikkan kesuksesan dengan kecepatan ekspansi, keputusan itu sendiri sudah merupakan pernyataan. Póchette bukan sekadar produk — ia adalah argumen bahwa kemewahan sejati tidak harus memiliki biaya tersembunyi bagi manusia maupun lingkungan.
Kisah McCarthy mencerminkan gerakan yang lebih luas: para desainer independen yang mengisi celah yang ditinggalkan oleh rumah mode besar ketika janji keberlanjutan mereka tidak sejalan dengan praktik produksi nyata. Di Asia, termasuk Indonesia, fenomena serupa mulai tumbuh — mahasiswa UGM misalnya membawa teknik ecoprint ke IKN, membuktikan bahwa slow fashion bisa dimulai dari komunitas yang paling lokal sekalipun. Ini bukan gerakan yang lahir dari atas ke bawah — ia tumbuh dari keinginan yang sangat personal untuk membuat sesuatu dengan cara yang benar, dan dari konsumen yang mulai bisa membedakan mana merek yang benar-benar berkomitmen dan mana yang hanya menempel label hijau demi citra.
Dari atelier independen di Irlandia, pergeseran ini bergerak menuju panggung paling bergengsi di dunia. Milan Fashion Week — salah satu dari empat pekan mode utama global — telah mendorong para desainer untuk menghapus bulu hewan asli dari koleksi runway mereka. Kebijakan ini bukan sekadar gestur simbolik; ia mengirimkan sinyal yang sangat jelas ke seluruh industri bahwa standar etis mulai menjadi prasyarat untuk berpartisipasi di forum paling berpengaruh sekalipun. Tentu ada pertanyaan yang sah untuk diajukan: apakah larangan bulu ini cukup transformatif ketika kulit hewan dan material eksotis lainnya masih digunakan secara luas? Para aktivis kesejahteraan hewan dan kritikus industri menunjukkan bahwa konsistensi adalah tantangan terbesar — sebuah langkah maju tetap berarti, selama tidak dijadikan penutup untuk praktik-praktik bermasalah lainnya yang terus berlangsung di balik layar.
🌱 Trivia: Seberapa Besar Dampak Lingkungan Satu Tas Tangan?
Sementara perdebatan tentang runway berlangsung di Milano, di sisi lain ekosistem industri sedang terjadi sesuatu yang lebih struktural. ACR mengakuisisi RediBagUSA dalam sebuah kesepakatan yang menempatkan kemasan berkelanjutan sebagai aset bisnis strategis. Dalam dunia fashion dan ritel, kemasan adalah “lapisan terlupakan” dari keberlanjutan — konsumen melihat tas belanja atau kotak pengiriman selama beberapa detik sebelum membuangnya, namun dampak materialnya bertahan jauh lebih lama. Langkah ACR ini menandai tren yang lebih besar: merek-merek kini tidak lagi hanya mengaudit produk yang mereka jual, melainkan seluruh rantai nilai dari mana produk itu lahir hingga bagaimana ia sampai ke tangan konsumen. Keberlanjutan yang sesungguhnya, dalam pandangan ini, adalah keberlanjutan yang sistemik — bukan hanya label di bagian depan produk.
Dimensi sistemik inilah yang membuat data dari Brand Finance Sustainability Perceptions Index menjadi sangat menarik untuk dibaca. Jollibee Group, jaringan makanan cepat saji asal Filipina, berhasil menempati posisi pertama di antara perusahaan-perusahaan Filipina dalam indeks tersebut selama dua tahun berturut-turut. Yang menarik bukan hanya prestasinya, melainkan apa yang ia ungkapkan tentang bagaimana persepsi publik bekerja: sebuah merek makanan cepat saji mampu melampaui banyak konglomerat fashion dalam hal persepsi keberlanjutan. Ini mengundang pertanyaan penting — apakah indeks semacam ini mengukur kinerja lingkungan yang nyata, atau ia lebih banyak mencerminkan keberhasilan komunikasi merek? Jawabannya mungkin ada di tengah-tengah: persepsi dan realitas tidak selalu identik, tetapi dalam ekonomi kepercayaan, persepsi yang konsisten lama-kelamaan mendorong akuntabilitas yang lebih nyata.
Para pakar industri semakin tegas dalam satu hal: keberlanjutan bukan lagi sekadar soal kepatuhan terhadap regulasi — ia adalah strategi bisnis dengan imbal hasil yang terukur. Tekanan dari investor ESG, perubahan perilaku konsumen milenial dan Gen Z yang semakin kritis, serta pengetatan regulasi di Uni Eropa melalui berbagai kebijakan seperti Strategi Tekstil Berkelanjutan, semuanya bergerak ke arah yang sama. Laporan keberlanjutan kini bukan lagi formalitas, melainkan instrumen strategi yang nyata — merek yang mengabaikan dimensi ini bukan hanya kehilangan peluang pasar, tetapi juga menghadapi risiko reputasi yang berbiaya sangat tinggi. Di Asia Tenggara, dinamika ini mulai terasa: regulasi lingkungan di Indonesia dan negara-negara tetangga perlahan memperketat standar, dan konsumen urban semakin tidak toleran terhadap klaim yang tidak bisa dibuktikan.
Bagi industri fashion Indonesia, sinyal-sinyal global ini datang pada momen yang kritis. Di satu sisi, ada gelombang kreativitas yang nyata — dari desainer batik yang menggunakan pewarna alami hingga label-label muda yang mengeksplorasi material daur ulang. Di sisi lain, tantangan strukturalnya juga nyata: akses ke sertifikasi internasional yang mahal, rantai pasok lokal yang belum sepenuhnya transparan, dan konsumen yang masih belajar membedakan merek yang benar-benar berkelanjutan dari yang sekadar memanfaatkan tren. Merek-merek ramah lingkungan yang diam-diam mengubah industri mode dunia membuktikan bahwa perubahan tidak harus menunggu skala besar — ia dimulai dari pilihan yang diambil satu per satu oleh desainer, produsen, dan konsumen yang mau berpikir lebih jauh dari sekadar harga dan estetika.
Cara Memilih Brand Fashion Ramah Lingkungan
1. Cari Sertifikasi yang Bisa Diverifikasi
Sertifikasi bukan jaminan sempurna, tapi ia adalah titik awal yang solid. Label seperti GOTS (Global Organic Textile Standard) memastikan bahwa bahan organik benar-benar diproses tanpa bahan kimia berbahaya dari hulu ke hilir. Sertifikasi B Corp mengukur kinerja sosial dan lingkungan sebuah perusahaan secara holistik, bukan hanya produknya. Fair Trade memastikan pekerja di rantai produksi mendapat upah dan kondisi kerja yang adil. Ketika sebuah merek mengklaim “ramah lingkungan” tanpa satu pun dari sertifikasi ini — atau sertifikasi setara lainnya yang dapat diverifikasi secara independen — itu adalah sinyal untuk lebih berhati-hati.
2. Baca Pengungkapan Sumber Material dengan Teliti
Merek yang serius tentang keberlanjutan biasanya mau menceritakan dari mana bahan mereka berasal — nama pemasok, asal negara, dan proses pengolahannya. Jika sebuah merek hanya menyebut “menggunakan bahan alami” tanpa detail lebih lanjut, itu bukan transparansi. Perhatikan juga apakah mereka menyebutkan persentase material daur ulang atau bersertifikat organik dalam setiap produk, karena angka spesifik jauh lebih bermakna daripada klaim yang terdengar bagus tapi kosong.
3. Kenali Tanda-Tanda Klaim yang Menyesatkan
Beberapa pola patut diwaspadai: penggunaan warna hijau dan terminologi alam yang berlebihan tanpa data pendukung, klaim seperti “eco-friendly” atau “conscious collection” yang tidak dijelaskan lebih lanjut, serta merek yang meluncurkan satu lini “berkelanjutan” kecil sementara 90% produksinya tetap menggunakan praktik konvensional. Keberlanjutan yang sejati menyentuh seluruh model bisnis, bukan hanya satu koleksi musiman yang diluncurkan bersamaan dengan kampanye pemasaran besar.
4. Telusuri Rantai Pasok Merek Tersebut
Di era digital ini, informasi tentang sebuah merek jauh lebih mudah diakses dari sebelumnya. Platform seperti Good On You memberikan penilaian independen terhadap merek-merek fashion global berdasarkan standar lingkungan, tenaga kerja, dan kesejahteraan hewan. Untuk merek lokal Indonesia, coba cari apakah mereka pernah tampil di media terpercaya yang meliput keberlanjutan secara substantif, atau apakah mereka aktif dalam komunitas desainer berkelanjutan yang memiliki standar akuntabilitas internal.
5. Pertimbangkan Pasar Secondhand sebagai Pilihan Pertama
Dari sudut pandang lingkungan, pakaian atau aksesori secondhand berkualitas baik selalu mengalahkan produk baru — bahkan produk yang diproduksi secara berkelanjutan sekalipun, karena tidak ada proses produksi baru yang dibutuhkan. Platform thrift dan resale, baik global maupun lokal, kini menawarkan pilihan yang semakin beragam. Memilih secondhand adalah aksi paling langsung yang bisa diambil seorang konsumen untuk memutus siklus produksi berlebih yang menjadi akar masalah industri fashion.
6. Prioritaskan Kualitas di Atas Kuantitas
Filosofi “beli lebih sedikit, pilih lebih baik” bukan sekadar slogan estetika — ia adalah strategi keberlanjutan yang paling fundamental. Satu tas tangan yang bertahan sepuluh tahun jauh lebih berkelanjutan daripada sepuluh tas tangan murah yang masing-masing hanya bertahan setahun, berapa pun klaim lingkungan yang tercetak di labelnya. Merek seperti Póchette membangun argumen ini ke dalam DNA bisnisnya: keahlian pengrajin yang nyata menghasilkan produk yang ingin disimpan, dirawat, dan diwariskan — bukan produk yang mengantre untuk menjadi limbah.
7. Dukung Desainer Lokal dengan Praktik yang Bisa Diverifikasi
Di Indonesia, memilih produk lokal yang berkelanjutan bukan hanya keputusan lingkungan — ia juga keputusan ekonomi yang memperkuat ekosistem kreatif dalam negeri. Ketika kamu membeli dari pengrajin tenun yang menggunakan pewarna alam dan membayar upah adil, kamu sedang berinvestasi dalam model produksi yang ingin kamu lihat berkembang. Transparansi mungkin lebih mudah diverifikasi pada skala kecil ini: kamu bisa bertanya langsung, melihat prosesnya, dan membangun hubungan dengan produsen yang kamu dukung.
Apa yang terhubung antara Siobhan McCarthy di Naas, runway Milan, akuisisi kemasan oleh ACR, dan data Brand Finance tentang Jollibee? Semuanya mengisahkan hal yang sama dengan cara yang berbeda: bahwa keberlanjutan telah bergerak dari pinggiran menuju pusat — dari idealisme alternatif menjadi kalkulasi bisnis arus utama. Ini bukan konvergensi kebetulan. Ia adalah hasil dari tekanan yang datang bersamaan dari banyak arah: regulasi yang memperketat, investor yang menuntut, konsumen yang lebih cerdas, dan desainer yang membuktikan bahwa integritas dan keindahan bisa berjalan beriringan. Kita sedang berada di dalam momen struktural, dan pilihan yang kita buat hari ini — apa yang kita beli, dari siapa, dan mengapa — adalah bagian dari percakapan global yang jauh lebih besar.
Mulai dari mana tidak harus sempurna. Satu pembelian secondhand, satu kali memeriksa sertifikasi sebelum membeli, satu keputusan untuk memilih kualitas daripada kuantitas — semua itu sudah berarti. HidupHijau akan terus mengikuti perjalanan industri fashion dan gaya hidup berkelanjutan di Indonesia dan dunia, karena perubahan paling nyata selalu terjadi ketika pilihan-pilihan kecil itu bertemu dalam skala yang cukup besar untuk menggerakkan pasar.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










