Di tengah panggung Global Sustainability Development Congress (GSDC) yang digelar di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, nama dua kampus negeri Indonesia muncul dalam daftar bergengsi yang tidak banyak orang bicarakan — namun seharusnya. Times Higher Education (THE) mengumumkan hasil Sustainable Impact Ratings 2026, dan Universitas Negeri Semarang (UNNES) mencatat kenaikan signifikan yang menempatkannya di antara kampus-kampus paling berpengaruh di dunia dalam hal keberlanjutan. Ini bukan sekadar prestasi administratif. Ini sinyal bahwa perguruan tinggi Indonesia mulai dilihat dunia bukan hanya dari kualitas akademik, tapi dari seberapa serius mereka membangun masa depan yang lebih baik.
Bersamaan dengan UNNES, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) berhasil menembus kluster peringkat 401–600 dunia — sebuah pencapaian yang tidak bisa diremehkan mengingat betapa kompetitifnya lanskap pemeringkatan ini di tingkat global. Momen pengumuman di GSDC menjadi lebih dari sekadar seremoni: ia menjadi cermin dari arah baru yang sedang diambil pendidikan tinggi Indonesia.
Frequently Asked Questions
Ini adalah pemeringkatan tahunan yang dikeluarkan oleh Times Higher Education (THE) untuk mengukur kontribusi perguruan tinggi terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB — bukan hanya kualitas akademik semata.
Apa pencapaian UNNES di THE Impact Rankings 2026?
UNNES mencatat kenaikan signifikan di THE Sustainable Impact Ratings 2026 yang diumumkan pada Global Sustainability Development Congress (GSDC) di ICE BSD.
Bagaimana posisi Unesa di pemeringkatan ini?
Unesa berhasil menembus peringkat 401–600 dunia pada THE Sustainable Impact Ratings 2026 — sebuah pencapaian penting bagi ekosistem pendidikan tinggi Jawa Timur.
Di mana pengumuman ini disampaikan?
Hasil pemeringkatan ini diumumkan di Global Sustainability Development Congress (GSDC), yang diselenggarakan di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD.
Apa saja dimensi yang dinilai dalam pemeringkatan ini?
THE mengukur empat dimensi utama: penelitian (research), pengelolaan institusi (stewardship), keterlibatan masyarakat (outreach), dan pembelajaran (teaching) — semuanya dikaitkan langsung dengan SDGs PBB.
THE Sustainable Impact Ratings berbeda dari peringkat universitas konvensional yang biasanya mengutamakan publikasi ilmiah dan rasio dosen-mahasiswa. Pemeringkatan ini dirancang khusus untuk mengukur seberapa jauh sebuah kampus berkontribusi nyata terhadap 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) PBB. Ada empat pilar utama yang dievaluasi: penelitian yang relevan dengan isu keberlanjutan, tata kelola institusi yang bertanggung jawab, keterlibatan aktif bersama komunitas, serta praktik pembelajaran yang menanamkan kesadaran lingkungan dan sosial. Di kawasan Asia Tenggara, kompetisi untuk masuk dalam daftar ini semakin ketat — universitas dari Malaysia, Thailand, dan Filipina sudah lama bermain di kategori atas. Kehadiran UNNES dan Unesa dalam kluster tersebut menjadikan Indonesia semakin diperhitungkan dalam percakapan global soal pendidikan berkelanjutan.
UNNES bukan nama baru dalam percakapan kampus hijau. Sejak lama institusi ini membangun identitasnya sebagai “universitas konservasi” — sebuah komitmen yang tidak berhenti di jargon, tapi tercermin dalam tata kelola kampus, program studi, hingga keterlibatan mahasiswanya dengan isu-isu lingkungan lokal. Kenaikan signifikan di THE Impact Rankings 2026 adalah buah dari pendekatan jangka panjang itu. Ketika kampus lain baru mulai menyesuaikan kurikulum dengan agenda SDGs, UNNES sudah mengintegrasikannya ke dalam DNA institusinya — dari pengelolaan energi kampus hingga program pengabdian masyarakat yang menyentuh langsung isu-isu lingkungan di sekitar Semarang. Inilah yang membuat kenaikan mereka bukan sekadar angka, melainkan bukti dari konsistensi yang dibangun bertahun-tahun. Seperti yang pernah dibahas dalam laporan GSDC 2026 tentang posisi keberlanjutan dalam transformasi Indonesia, forum ini menjadi titik temu di mana komitmen institusi diuji di depan audiens internasional.
Sementara itu, pencapaian Unesa menembus kluster 401–600 dunia layak dibaca sebagai lompatan yang patut dicatat. Bagi banyak kampus, sekadar masuk dalam radar THE Impact Rankings sudah merupakan prestasi tersendiri — apalagi langsung mendarat di kluster ratusan teratas dari ribuan universitas yang berpartisipasi di seluruh dunia. Bagi ekosistem pendidikan tinggi Jawa Timur, ini adalah sinyal kuat bahwa Surabaya bukan hanya pusat ekonomi dan industri, tapi juga sedang tumbuh menjadi pusat pemikiran keberlanjutan. Tren ini pun konsisten dengan pola yang lebih besar: semakin banyak kampus Indonesia yang berhenti melihat agenda SDGs sebagai kewajiban administratif, dan mulai memperlakukannya sebagai misi inti. Pertanyaannya bukan lagi apakah kampus-kampus Indonesia bisa bersaing — tapi seberapa cepat ekosistem pendukungnya bisa tumbuh bersama.
Pencapaian kedua kampus ini tidak berdiri sendiri. Dalam periode yang sama, sinyal keberlanjutan dari sektor lain juga datang bersamaan — membentuk gambaran yang lebih besar tentang arah Indonesia. Ferrero Group, misalnya, merilis Sustainability Report untuk tahun fiskal 2024/25 yang mencatat keterlacakan di atas 95% untuk komoditas kakao dan minyak sawit yang mereka gunakan. Di sisi energi, PTBA dan Pertamina NRE tengah mengeksplorasi pengembangan pembangkit listrik tenaga surya di lahan pasca-tambang — sebuah pendekatan yang mengubah bekas luka industri menjadi sumber energi bersih. Konteks ini penting: keberlanjutan di Indonesia bukan lagi wacana yang hidup di ruang kelas atau laporan tahunan korporasi. Ia sedang bergerak lintas sektor, dari kampus ke ladang tambang, dari riset akademik ke rantai pasok global. Untuk memahami lebih lanjut bagaimana sektor energi Indonesia bergerak, tren revolusi panel surya yang menyentuh ladang hingga atap rumah memberikan gambaran yang relevan.
Peringkat adalah awal, bukan tujuan akhir. Prestasi UNNES dan Unesa di THE Sustainable Impact Ratings 2026 membuka pintu — tapi pintu itu hanya bernilai jika yang ada di baliknya adalah aksi nyata yang berkelanjutan. Kampus-kampus Indonesia kini punya momentum: mereka diakui dunia, mereka punya rekam jejak, dan mereka beroperasi di tengah ekosistem nasional yang semakin serius mengintegrasikan keberlanjutan ke dalam strategi jangka panjang. Yang diharapkan bukan sekadar mempertahankan posisi di 2027, tapi memperdalam kualitas kontribusinya — lebih banyak riset yang langsung berdampak pada komunitas, lebih banyak kurikulum yang melahirkan pemimpin masa depan yang paham akar masalah lingkungan, dan lebih banyak kampus lain yang terinspirasi untuk melakukan hal yang sama. Indonesia punya bahan bakunya. Sekarang giliran sistem pendidikannya untuk benar-benar mengolahnya. Dan sebagaimana ditunjukkan oleh pencapaian Unpad yang masuk top 100 dunia, potensi kampus Indonesia di kancah global jauh dari sekadar simbolis.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










