Ada sesuatu yang terasa berat ketika sebuah merek yang kamu percaya — yang kamu pilih justru karena ia mencoba melakukan hal yang benar — tiba-tiba mengumumkan penutupan. Day Owl, merek tas punggung berkelanjutan yang lahir di Maret 2020 tepat saat dunia sedang berhenti bernapas akibat pandemi, kini menutup bisnisnya. Bukan karena produknya buruk. Bukan karena misinya salah. Melainkan, menurut laporan ASI (Advertising Specialty Institute), karena volatilitas yang dipicu oleh tekanan tarif perdagangan yang terus bergolak. Kisah ini terasa familier bagi siapa pun yang pernah menaruh harapan pada merek kecil berjiwa besar — dan kemudian menyaksikannya tidak mampu bertahan melawan arus ekonomi yang jauh lebih besar dari dirinya.
Namun penutupan Day Owl bukan satu-satunya sinyal yang sedang dikirim oleh ekosistem merek berkelanjutan global saat ini. Di saat yang hampir bersamaan, Adidas menduduki posisi teratas peringkat keberlanjutan konsumen versi Kantar, brand fashion berkelanjutan Reformation mempersiapkan IPO yang bisa masuk pasar secepatnya Juli ini, merek biji-bijian TOP SEEDZ mengumumkan ekspansi produksi terbesar dalam sejarahnya sambil memperkenalkan kemasan ramah lingkungan baru, laporan The Business Case for Regenerative mendorong pertanian gandum bersertifikat regeneratif ke dalam percakapan bisnis utama, dan McCormick — perusahaan rempah raksasa — mencapai tonggak 100% pengadaan berkelanjutan untuk bahan-bahan prioritas utamanya. Enam sinyal. Satu panorama industri yang sedang berubah bentuk.
- Day Owl diluncurkan Maret 2020 dan kini menutup bisnis tas berkelanjutannya akibat tekanan tarif perdagangan.
- Adidas menduduki peringkat ke-3 secara keseluruhan dan tertinggi untuk kategori fashion/olahraga dalam Kantar’s Sustainability Consumer-led Brand Ranking edisi pertama (Juni 2026), yang mensurvei lebih dari 18.000 responden di 12 negara.
- TOP SEEDZ mengumumkan ekspansi terbesar dalam sejarah perusahaan, menggandakan kapasitas produksi dan memperkenalkan kemasan berkelanjutan baru (Juni 2026).
- Laporan The Business Case for Regenerative mendorong gandum bersertifikat Regenerative Organic Certified (ROC) masuk ke percakapan bisnis mainstream.
- Reformation menargetkan IPO secepatnya Juli 2026, dengan proyeksi pendapatan lebih dari $500 juta tahun ini — naik lebih dari 40% dari angka 2023.
- McCormick mencapai 100% pengadaan berkelanjutan untuk lebih dari 20 bahan prioritas utamanya.
- Enam sinyal pasar yang membentuk ulang wajah merek berkelanjutan global.
Day Owl bukan sekadar toko online yang menjual tas. Ia lahir dengan komitmen: membuat produk yang tahan lama, estetis, dan bertanggung jawab secara lingkungan — di tengah momen ketika konsumen global justru sedang paling rentan dan paling reflektif soal konsumsi mereka. Meluncur di Maret 2020, merek ini masuk ke pasar tepat ketika narasi “beli lebih sedikit, tapi lebih baik” sedang mencapai momentum kulturalnya. Namun momentum budaya tidak selalu berujung pada kelangsungan bisnis. Yang meruntuhkan Day Owl, menurut laporan ASI, adalah volatilitas yang disebabkan oleh tekanan tarif — sebuah variabel makroekonomi yang sama sekali berada di luar kendali merek sekecil itu. Ini bukan cerita tentang kegagalan produk atau salah baca pasar. Ini cerita tentang betapa rentannya merek-merek kecil berjiwa besar ketika berhadapan dengan guncangan sistem yang lebih besar — dan betapa mahalnya biaya finansial mempertahankan rantai pasokan yang etis ketika harga impor dan bea cukai berubah dalam semalam. Dinamika ini bukan hal baru di ekosistem merek berkelanjutan Indonesia maupun global.
Kontras dengan kepergian Day Owl, Adidas justru sedang berada di puncak. Dalam edisi pertama Kantar’s Sustainability Consumer-led Brand Ranking yang dipublikasikan Juni 2026 — sebuah studi yang menilai lebih dari 2.160 merek di 12 negara berdasarkan survei terhadap lebih dari 18.000 orang pada Januari 2026 — Adidas menempatkan diri di peringkat ke-3 secara keseluruhan, dan menjadi merek fashion serta olahraga tertinggi dalam daftar tersebut. Penting untuk dipahami apa yang sebenarnya diukur oleh Kantar: bukan audit lingkungan independen, melainkan seberapa kredibel konsumen menilai merek tersebut dalam hal keberlanjutan. Ini adalah persepsi, bukan sertifikasi. Kantar sendiri menegaskan bahwa ini bukan pemeriksaan ESG. Namun angkanya tetap bermakna — karena persepsi konsumen adalah yang menggerakkan dompet. Adidas, misalnya, dipuji karena telah memproduksi lebih dari 30 juta pasang sepatu menggunakan plastik daur ulang dari laut (Parley Ocean Plastic) hingga akhir 2020. Ketika merek berskala raksasa mampu menerjemahkan komitmen lingkungan menjadi angka yang nyata dan terasa di kehidupan sehari-hari, persepsi konsumen pun ikut bergerak.
Namun ada pertanyaan yang lebih dalam yang layak diajukan: apa artinya ketika merek “paling berkelanjutan” dalam benak konsumen global adalah korporasi senilai puluhan miliar euro, bukan startup yang dibangun dari bawah dengan misi murni? Kantar sendiri menemukan bahwa 57% orang secara global pernah menemukan informasi yang salah atau menyesatkan tentang upaya keberlanjutan merek. Hanya 15% yang merasa benar-benar tahu apa yang dilakukan merek-merek tersebut secara nyata. Ruang ketidaktahuan ini adalah tempat di mana komunikasi pemasaran yang terampil dari korporasi besar bisa jauh lebih efektif daripada transparansi sungguh-sungguh yang dilakukan merek kecil dengan anggaran terbatas. Bagi konsumen Indonesia yang semakin melek keberlanjutan, ini adalah pengingat bahwa nama besar di podium tidak selalu berarti dampak terbesar di lapangan.
Di antara kisah penutupan dan peringkat persepsi, ada satu narasi yang lebih senyap namun sama kuatnya: TOP SEEDZ, merek produk biji-bijian, mengumumkan ekspansi terbesar dalam sejarah perusahaan pada Juni 2026 — menggandakan kapasitas produksi sekaligus memperkenalkan kemasan berkelanjutan baru. Ini adalah cerita tentang tumbuh dan menghijau secara bersamaan, sesuatu yang jauh lebih sulit daripada kedengarannya. Karena skala dan keberlanjutan sering kali berada dalam ketegangan: semakin besar produksimu, semakin besar pula tekanan untuk memotong biaya — dan kemasan ramah lingkungan hampir selalu lebih mahal dari kemasan konvensional. Fakta bahwa TOP SEEDZ memilih untuk melakukan keduanya sekaligus adalah sinyal bahwa ada merek-merek yang menolak dikotomi “berkembang atau bertanggung jawab” dan memilih membuktikan bahwa keduanya bisa berjalan beriringan. Untuk industri makanan Indonesia, di mana sampah kemasan plastik dari produk makanan sehari-hari adalah masalah lingkungan yang nyata dan mendesak, langkah seperti ini relevan untuk diperhatikan.
🌱 Trivia: Apa Itu Gandum Bersertifikat Regeneratif?
Laporan The Business Case for Regenerative membawa percakapan tentang pertanian regeneratif dari lingkaran aktivis ke meja ruang rapat. Regenerative Organic Certified (ROC) adalah standar yang melampaui pertanian organik konvensional — ia tidak hanya menghindari bahan kimia berbahaya, tetapi secara aktif mensyaratkan praktik yang memulihkan kesehatan tanah dan menangkap karbon. Gandum dipilih sebagai komoditas percontohan bukan tanpa alasan: ini adalah salah satu bahan pangan paling ditanam secara masif di dunia, yang artinya pergeseran kecil dalam praktik bertaninya bisa berdampak sistemik secara besar. Yang mendorong percakapan ini bukan hanya petani atau aktivis lingkungan — melainkan merek-merek besar dan investor yang mulai melihat integritas rantai pasokan sebagai faktor risiko bisnis yang nyata. Untuk pembaca Indonesia, ini relevan secara langsung: bayangkan jika komoditas seperti beras, jagung, atau kedelai lokal suatu hari bisa membawa sertifikasi serupa. Pertanyaan “dari mana tepungmu berasal?” mungkin akan segera menjadi pertanyaan yang sama pentingnya dengan “apakah kemasannya bisa didaur ulang?”
Dari ladang gandum, kita melompat ke lantai bursa. Reformation — merek womenswear berkelanjutan asal Los Angeles yang selama ini dikenal karena keterbukaannya melacak dampak lingkungan dari setiap produk yang dijualnya — sedang mempersiapkan pengajuan IPO secara rahasia, dengan rencana masuk pasar secepatnya Juli 2026, berdasarkan laporan Wall Street Journal yang dikutip oleh The Industry Fashion (19 Juni 2026). Angkanya impresif: Reformation diproyeksikan menghasilkan pendapatan lebih dari $500 juta tahun ini, melompat lebih dari 40% dari angka 2023. Perusahaan ini telah mengklaim profitabilitas setiap tahun sejak 2016, mengoperasikan lebih dari 70 toko di seluruh dunia, dan mayoritas sahamnya dipegang oleh Permira sejak 2019. Reformation juga menyatakan tengah dalam jalur untuk memenuhi target berbasis sains (science-based targets) pada 2030, termasuk pengurangan emisi Scope 1 dan 2 sebesar 42% serta emisi Scope 3 sebesar 48% dari baseline tahun 2021.
Namun IPO selalu menghadirkan pertanyaan yang lebih dari sekadar angka pendapatan. Ketika sebuah merek yang identitasnya dibangun di atas transparansi dan nilai-nilai lingkungan masuk ke pasar publik, tekanan dari pemegang saham akan segera bersaing dengan tekanan dari konsumen yang percaya pada janjinya. Ini bukan spekulasi — ini adalah ketegangan struktural yang sudah dialami oleh berbagai merek “hijau” sebelumnya. Akses ke modal publik bisa mempercepat investasi dalam material berkelanjutan dan teknologi produksi yang lebih bersih. Tapi pasar publik juga terkenal tidak sabar: pertumbuhan kuartalan, margin yang melebar, dan efisiensi biaya akan selalu menjadi bahasa utamanya. Apakah Reformation akan menjadi bukti bahwa keberlanjutan dan profitabilitas bisa berdampingan di bawah sorotan pasar saham, atau akan menjadi pelajaran lain tentang betapa sulitnya mempertahankan jiwa sebuah merek ketika laporan keuangan kuartalan menjadi prioritas? Pertanyaan ini juga relevan untuk memahami bagaimana merek mewah berkelanjutan lain telah bernavigasi antara citra dan komitmen nyata.
Dari lantai bursa ke rak bumbu dapur — McCormick, perusahaan rempah dan bumbu terbesar di dunia, telah mencapai tonggak yang diam-diam sangat signifikan: 100% pengadaan berkelanjutan untuk lebih dari 20 bahan prioritas utamanya. Dalam industri rempah global, “pengadaan berkelanjutan” mencakup dimensi yang sangat konkret: keterlacakan rantai pasokan hingga ke petani, standar kesejahteraan petani, dan perlindungan keanekaragaman hayati di daerah asal produksi. McCormick beroperasi di puluhan negara, menyerap rempah-rempah dari komunitas pertanian yang tersebar di seluruh tropika — termasuk kawasan Asia Tenggara. Untuk pembaca Indonesia, ini menghadirkan pertanyaan yang layak direnungkan: ketika perusahaan global seperti McCormick berkomitmen pada standar pengadaan yang lebih tinggi, apakah manfaat ekonominya — harga premium yang lebih baik untuk petani, investasi dalam praktik bertani yang sehat — benar-benar mengalir ke tangan petani lada, cengkeh, dan pala di Indonesia? Atau standar itu berhenti di level korporat dan premiumnya tetap di utara? Rantai pasokan rempah global adalah sistem yang kompleks, dan tonggak seperti ini baru benar-benar bermakna ketika verifikasinya transparan dan manfaatnya terasa di ujung rantai.
| Merek / Inisiatif | Status / Tonggak | Kategori | Artinya bagi Konsumen | Risiko atau Peluang |
|---|---|---|---|---|
| Day Owl | Menutup bisnis | Tas & Aksesori | Hilangnya pilihan tas berkelanjutan yang terjangkau | ⚠️ Risiko: kesenjangan pasar |
| Adidas | Peringkat #1 fashion/olahraga di Kantar (ke-3 keseluruhan) | Pakaian & Olahraga | Validasi mainstream bahwa merek besar bisa memimpin narasi keberlanjutan | ✅ Peluang: skala & jangkauan |
| TOP SEEDZ | Ekspansi + kemasan berkelanjutan baru | Makanan | Bukti bahwa pertumbuhan dan penghijauan bisa berjalan beriringan | ✅ Peluang: model skalabilitas |
| Gandum ROC | Laporan The Business Case for Regenerative diterbitkan | Pertanian & Pangan | Pergeseran sistemik dalam rantai pasok pangan global | ✅ Peluang jangka panjang: standar baru pangan |
| Reformation | IPO direncanakan Juli 2026 | Fashion | Modal untuk skala vs. potensi dilusi misi | ⚠️✅ Risiko + Peluang |
| McCormick | 100% pengadaan berkelanjutan untuk bahan prioritas utama | Rempah & Pangan | Integritas rantai pasokan yang terverifikasi di skala global | ✅ Peluang: penetapan standar industri |
Jika keenam sinyal ini dibaca bersama, sebuah pola mulai terlihat: lanskap merek berkelanjutan sedang mengalami bifurkasi. Di satu sisi, merek-merek besar yang sudah mapan — Adidas, McCormick — semakin menginstituisikan keberlanjutan melalui skala, modal, dan mekanisme korporat yang sistematis. Di sisi lain, merek-merek kecil yang dibangun dari bawah dengan misi sebagai inti identitasnya — seperti Day Owl — berjuang untuk bertahan justru karena mereka tidak memiliki penyangga ekonomi yang sama. Pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang menang?” Pertanyaannya adalah: apakah ini evolusi yang sehat, di mana keberlanjutan akhirnya terserap ke dalam arus utama perdagangan global? Atau apakah ini penghapusan senyap dari energi komunitas dan keberanian grassroots yang justru memulai seluruh gerakan ini? Dinamika antara klaim dan bukti nyata ini terus menjadi inti perdebatan tentang merek berkelanjutan global. Keduanya bisa benar sekaligus — dan itulah yang membuat momen ini terasa kompleks dan penting.
Bagi konsumen Indonesia, sinyal-sinyal global ini bukan sekadar berita dari jauh. Kita adalah bagian dari rantai pasok rempah yang dijanjikan McCormick, pasar potensial yang dibidik Adidas dan Reformation, dan konsumen makanan yang suatu hari bisa melihat standar pertanian regeneratif memengaruhi apa yang tersedia di rak supermarket. Kita juga adalah konsumen yang ingin mendukung merek-merek lokal kecil berjiwa besar, namun sering kali tidak tahu cara terbaik untuk melakukannya sebelum mereka menghilang seperti Day Owl. Mendukung merek berkelanjutan bukan hanya tentang membeli produk yang tepat — ini tentang memahami ekosistem di baliknya, bertanya siapa yang benar-benar diuntungkan, dan menyadari bahwa gerakan ini membutuhkan energi akar rumput sekaligus otot institusional untuk bisa bertahan dan tumbuh.
- Verifikasi klaim melewati klaim pemasaran: Cari sertifikasi pihak ketiga yang independen — seperti B Corp, Regenerative Organic Certified (ROC), atau FSC. Pernyataan “eco-friendly” tanpa sertifikasi apa pun di baliknya adalah informasi yang belum terverifikasi.
- Dukung merek kecil berkelanjutan sebelum terlambat: Pre-order, pembelian langsung dari situs resmi, dan berbagi di media sosial bisa menjadi penyangga finansial yang nyata bagi merek-merek kecil yang tidak punya margin untuk bertahan dari kejutan ekonomi. Perhatian konsumenlah yang sering kali menjadi satu-satunya modal mereka.
- Baca peringkat keberlanjutan dengan kritis: Ingat bahwa Kantar’s Sustainability Consumer-led Brand Ranking mengukur persepsi konsumen, bukan kinerja lingkungan aktual. Merek yang teratas dalam peringkat persepsi belum tentu paling baik dalam audit lingkungan independen — dan sebaliknya.
- Lacak asal usul bahan ketika membeli merek pangan impor: Untuk produk rempah, bumbu, atau makanan olahan impor yang tersedia di Indonesia, cari tahu apakah merek tersebut menerbitkan laporan pengadaan yang terbuka untuk publik. Merek yang benar-benar berkomitmen pada rantai pasokan berkelanjutan biasanya tidak keberatan memperlihatkan datanya.
Bayangkan tas punggung Day Owl bukan sebagai produk yang gagal, melainkan sebagai artefak dari sebuah momen — bukti bahwa seseorang pernah mencoba membangun sesuatu yang jujur di dalam sistem yang belum sepenuhnya siap menopangnya. Penutupan itu menyakitkan, tapi bukan konklusi dari keseluruhan cerita. Karena pada saat yang sama, Adidas membuktikan bahwa merek besar bisa memimpin narasi keberlanjutan dengan aksi yang terukur, McCormick menunjukkan bahwa rantai pasokan global bisa dibenahi satu bahan pada satu waktu, TOP SEEDZ membuktikan bahwa tumbuh dan menghijau tidak harus menjadi pilihan yang saling mengecualikan, dan Reformation mempertaruhkan identitasnya di pasar saham dengan sebuah pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertanian regeneratif sedang menulis ulang apa artinya memilih makanan dengan kesadaran. Keberlanjutan tidak sedang mati — ia sedang diuji tekanannya. Dan uji tekanan, seberapa pun menyakitkannya, adalah cara terbaik untuk mengetahui struktur mana yang benar-benar layak dipertahankan.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










