Ada sebuah pergeseran diam-diam yang sedang terjadi di rak-rak toko, di lobi hotel butik, dan di pegangan koper yang diangkat di bandara. Merek-merek paling relevan hari ini tidak lagi sekadar mencantumkan kata “ramah lingkungan” di kemasan mereka — mereka membangun seluruh identitas visual, material, dan naratif di sekitar komitmen itu. Dari spesialis kemasan asal Milan yang mengubah bahan pajangan toko kecantikan premium menjadi bioplastik, hingga merek koper perjalanan yang mendapat pengakuan internasional atas filosofi perbaikan ketimbang penggantian, definisi merek berkelanjutan telah berevolusi jauh melampaui daftar periksa CSR. Yang paling menarik saat ini adalah merek-merek yang menjadikan keberlanjutan sebagai DNA kreatif mereka — bukan sebagai departemen terpisah, melainkan sebagai cara berpikir yang merembes ke setiap keputusan desain, setiap pilihan material, dan setiap cerita yang mereka ceritakan.
Bayangkan masuk ke sebuah butik kecantikan premium — bukan sekadar membayangkan tampilannya, tapi perhatikan apa yang menopang produk-produk itu di atas meja pajang. Di banyak toko kelas atas di Milan, Paris, dan kini mulai merambah Jakarta, rak dan display unit yang dulu terbuat dari akrilik bening mengkilap kini digantikan oleh material matte yang hangat, dengan tekstur yang terasa lebih organik di tangan. Ini bukan kebetulan estetis. Ini adalah sinyal strategis yang dikodekan ke dalam arsitektur toko itu sendiri. Artikel ini akan menelusuri bagaimana sejumlah merek dan entitas global — mulai dari Baralan yang berbasis di Italia, merek perjalanan Nortvi, platform komunitas BeSomebody, hingga desa wisata Brunate — sedang mendefinisikan ulang apa artinya menjadi merek yang benar-benar berkelanjutan, dan apa maknanya bagi cara kita berbelanja, bepergian, dan memilih.
- Pasar kemasan berkelanjutan global diproyeksikan melampaui USD 440 miliar pada tahun 2030.
- Bioplastik saat ini mewakili kurang dari 1% dari total produksi plastik global — menjadikan merek yang mengadopsinya lebih awal sebagai kelompok yang langka dan mudah terlihat.
- Industri kecantikan menghasilkan sekitar 120 miliar unit kemasan plastik setiap tahunnya, menjadikan peralihan ke bioplastik sebagai langkah yang signifikan secara sistemik.
- Cannes Lions, festival iklan kreatif paling bergengsi di dunia, kini secara resmi mengakui pertumbuhan merek yang berkelanjutan sebagai kategori kreatif tersendiri melalui penghargaan Creative Brand Lions.
- Nortvi telah disebut-sebut sebagai salah satu merek perjalanan paling berkelanjutan oleh berbagai publikasi gaya hidup internasional.
- Baralan, spesialis kemasan dan display asal Italia, memasok solusi kemasan ke lebih dari 50 negara dengan keberlanjutan kini menjadi inti dari peta jalan produknya.
Baralan adalah nama yang mungkin tidak familiar bagi konsumen biasa, namun keputusan-keputusan yang dibuat perusahaan Milan ini berdampak langsung pada pengalaman belanja jutaan orang. Sebagai spesialis kemasan dan unit display untuk merek kecantikan premium, Baralan menyuplai solusinya ke lebih dari 50 negara — artinya ketika mereka memutuskan untuk menggeser lini produknya ke arah material bioplastik, efeknya terasa hingga ke konter-konter kecantikan di Jakarta dan Surabaya. Bioplastik dalam konteks industri ini bisa berarti dua hal yang berbeda: material berbasis bio (terbuat dari sumber terbarukan seperti tebu atau jagung, namun tidak selalu dapat terurai) atau material yang dapat terurai secara hayati (yang bisa dipecah oleh mikroorganisme dalam kondisi tertentu). Pembedaan ini penting, karena tidak semua bioplastik diciptakan sama, dan klaim “ramah lingkungan” sangat bergantung pada jenis mana yang digunakan. Yang Baralan kejar bukan sekadar material pengganti, melainkan desain ulang filosofi display — bagaimana sebuah rak pajang bisa menjadi pernyataan nilai sebelum satu pun produk disentuh oleh tangan pelanggan.
Tentu saja, peralihan ke material berkelanjutan untuk fixture toko tidak datang tanpa kompromi. Bioplastik umumnya membawa premi biaya yang lebih tinggi dibanding akrilik konvensional, waktu produksi yang lebih panjang, dan keterbatasan struktural tertentu — misalnya dalam hal kejernihan optis atau kemampuan cetak dengan detail halus. Merek-merek yang memilihnya harus siap menerima trade-off ini sebagai bagian dari komitmen, bukan sebagai cacat teknis. Bagi merek-merek kecantikan Indonesia yang selama ini mengimpor sistem display Eropa, keputusan Baralan ini akan secara langsung mengubah pilihan yang tersedia di hilir. Upstream innovation — inovasi di hulu rantai pasok — inilah yang sering luput dari perhatian konsumen, padahal dampaknya terasa di setiap toko yang mereka masuki.
Ada alasan logis mengapa merek kecantikan premium menjadi garda terdepan dari pergeseran ini. Pelanggan yang berbelanja di segmen menengah ke atas bukan hanya membeli produk — mereka membeli koherensi nilai. Mereka membaca label, mengikuti pendiri merek di media sosial, dan memiliki kepekaan tinggi terhadap kontradiksi antara apa yang diklaim sebuah merek dan bagaimana merek itu hadir secara fisik. Ketika sebuah merek skincare berteriak tentang “clean beauty” namun pajangan tokonya masih menggunakan akrilik yang tidak dapat didaur ulang, sinyal yang diterima oleh konsumen yang peka adalah ketidaksesuaian yang merusak kepercayaan. Unit display telah menjadi “brand ambassador diam” — ia berkomunikasi tentang nilai-nilai merek bahkan sebelum produk pertama kali disentuh. Di Indonesia, tren ini semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran konsumen perkotaan, terutama di kalangan milenial dan Gen Z di Jakarta, Surabaya, dan Bali, yang semakin menghubungkan keputusan belanja mereka dengan dampak lingkungan — sebuah fenomena yang juga tercermin dalam diskusi tentang bagaimana merek mewah bertransisi menuju keberlanjutan sejati.
| Aspek | Display Tradisional (Akrilik/Petroleum) | Display Berkelanjutan (Bioplastik/Kayu Daur Ulang) |
|---|---|---|
| Komposisi Material | Polimetil metakrilat (PMMA), berbasis minyak bumi | Bioplastik berbasis tebu/jagung, kayu reklamasi, atau komposit daur ulang |
| Rata-rata Umur Pakai | 3–5 tahun (sering diganti karena tren visual) | 5–10 tahun (dirancang untuk ketahanan jangka panjang) |
| Jejak Karbon (Relatif) | Tinggi — intensif energi dalam produksi dan sulit didaur ulang | Lebih rendah secara potensial, tergantung sumber bio dan proses produksi |
| Premi Biaya | Standar industri, biaya paling rendah | 15–40% lebih mahal, tergantung spesifikasi dan volume |
| Daya Tarik Visual | Bening, mengkilap, kesan modern industrial | Matte, hangat, kesan premium organik — semakin disukai segmen luxury |
| Dampak Persepsi Merek | Netral hingga negatif bagi konsumen ESG-literate | Positif signifikan — menguatkan narasi sustainability merek secara visual |
| Ketersediaan di Indonesia | Sangat luas, mudah ditemukan dari supplier lokal | Masih terbatas, umumnya diimpor atau diproduksi lewat mitra khusus |
Sumber: BeautyPackaging.com, GreenBiz, Sustainable Brands reports (data komparatif dirangkum dari berbagai laporan industri)
Bergeser dari rak-rak toko ke rel-rel bandara, ada satu merek yang namanya terus muncul dalam percakapan tentang perjalanan yang bertanggung jawab: Nortvi. Merek koper perjalanan ini telah berulang kali disebut oleh berbagai publikasi gaya hidup internasional sebagai salah satu merek perjalanan paling berkelanjutan yang ada saat ini. Yang membedakan Nortvi bukan sekadar pilihan materialnya, melainkan komitmen filosofisnya: transparansi tentang asal-usul bahan, program perbaikan yang mengutamakan memperbaiki ketimbang membuang, kemitraan offset karbon, dan estetika minimalis yang secara sengaja menolak tren yang cepat usang. Bagi pembaca HidupHijau, konteks ini relevan secara langsung — Indonesia adalah salah satu pasar wisatawan internasional yang tumbuh paling cepat di Asia Tenggara, dan pilihan merek perjalanan kita adalah salah satu ekspresi konsumsi sadar yang paling konkret yang bisa kita buat. Pertanyaan yang layak diajukan ketika mengevaluasi merek serupa bukan hanya “apakah ini terbuat dari bahan daur ulang?” tapi juga: apakah merek ini memberi tahu saya ke mana produk ini pergi setelah saya tidak memakainya lagi?
Sementara Nortvi mewakili keberlanjutan yang dapat dibawa bepergian, Brunate — sebuah desa wisata kecil di tepi Danau Como, Italia — menawarkan pelajaran berbeda: keberlanjutan sebagai identitas tempat. Desa ini membangun merek wisatanya bukan di atas iklan besar atau promosi massal, melainkan di atas keputusan-keputusan kecil yang konsisten: keterlibatan komunitas lokal dalam seluruh aspek keramahan, pembatasan jumlah pengunjung yang disengaja untuk menjaga kualitas pengalaman dan ekosistem, serta sumber penghidupan yang berakar pada produk dan keahlian lokal. Tidak ada produk untuk bersembunyi di baliknya — yang dijual Brunate hanyalah pengalaman, dan autentisitas pengalaman itu adalah mereknya. Pelajaran ini beresonansi kuat dengan destinasi-destinasi Indonesia seperti Labuan Bajo, Raja Ampat, dan Belitung, yang sedang bergulat dengan pertanyaan serupa: bagaimana tumbuh sebagai destinasi tanpa mengorbankan hal yang membuat tempat itu berharga sejak awal? Keterlibatan komunitas dan pengendalian volume bukan hanya kebijakan lingkungan — itu adalah strategi merek.
🌱 Trivia: Berapa banyak konsumen yang benar-benar tahu nama merek berkelanjutan?
Kesenjangan antara niat dan pengetahuan yang diungkap Nielsen tadi adalah persis konteks yang membuat langkah Cannes Lions begitu signifikan. Festival iklan kreatif paling bergengsi di dunia ini, melalui kategori Creative Brand Lions, kini secara resmi mengakui merek-merek yang mendemonstrasikan kemampuan kreatif internal yang mendorong pertumbuhan bisnis berkelanjutan. Berdasarkan informasi resmi dari situs Cannes Lions, kategori ini menilai empat hal secara setara: inovasi dan orisinalitas kreatif, keselarasan strategis, skalabilitas dan keberlanjutan, serta efektivitas komersial. Ini bukan penghargaan untuk niat yang baik — ini adalah pengakuan atas bukti yang terukur. Signifikansinya bagi industri kreatif Indonesia sangat besar: Cannes Lions adalah barometer arah seluruh industri pemasaran global, dan ketika festival ini menempatkan keberlanjutan sebagai kriteria kreatif yang setara dengan efektivitas komersial, itu adalah sinyal bahwa narasi keberlanjutan yang kuat bukan lagi “nice to have” — melainkan standar kompetitif. Pertanyaannya adalah: apakah agensi dan merek Indonesia siap bersaing di level ini, dengan kampanye yang menunjukkan dampak terukur, bukan sekadar itikad baik?
Di sinilah cerita Schwebel Baking Company masuk — sebagai pengingat bahwa komitmen terhadap standar bukanlah perjalanan yang selalu berakhir dengan tanda seru. Schwebel, perusahaan roti berusia lebih dari satu abad di Amerika, memilih untuk menghentikan operasinya ketimbang berkompromi dengan standar-standar yang menjadi fondasi identitasnya selama beberapa dekade, di tengah tekanan ekonomi yang membuat pengadaan bahan baku berkelanjutan semakin tidak terjangkau. Ini bukan kisah kegagalan bisnis biasa — ini adalah pernyataan integritas yang keras. Dan dalam konteks gerakan merek berkelanjutan yang lebih luas, kisah ini membuka pertanyaan yang tidak nyaman: apakah keberlanjutan adalah hak istimewa skala besar? Merek-merek besar dengan margin yang tebal bisa menyerap premi biaya bahan ramah lingkungan; merek menengah seperti Schwebel — dan seperti banyak UMKM Indonesia yang sedang mencoba jalur serupa — sering kali terjebak di antara komitmen nilai dan tekanan ekonomi yang nyata. Memahami hambatan struktural ini, sebagaimana yang juga dihadapi oleh merek kreatif berkelanjutan di Indonesia, adalah prasyarat untuk membangun ekosistem yang benar-benar mendukung mereka.
BeSomebody, platform yang didirikan oleh Kash Shaikh setelah penampilannya yang gagal di Shark Tank sebelum akhirnya berkembang menjadi perusahaan bernilai multi-juta dolar, menawarkan sudut pandang yang berbeda dan menyegarkan tentang keberlanjutan. Shaikh membangun Besomebody bukan di atas material atau kemasan, melainkan di atas manusia — keahlian, komunitas, dan tujuan. Platform pelatihannya menghubungkan orang-orang dengan keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja, dengan tingkat kelulusan 98% dan model yang menghasilkan lebih dari 2.000 pekerjaan. Dalam kerangka keberlanjutan yang lebih luas, ini adalah pengingat bahwa sumber daya yang paling dapat diperbarui adalah manusia itu sendiri — kapasitasnya untuk belajar, beradaptasi, dan menciptakan nilai. Bagi Indonesia, perspektif ini bukan sekadar inspirasi global; ia memiliki akar budaya yang dalam. Konsep gotong royong dan kearifan lokal adalah kerangka komunitas berkelanjutan yang telah ada jauh sebelum kata “sustainability” menjadi tren pemasaran — dan merek-merek Indonesia yang mampu mengartikulasikan nilai-nilai ini secara autentik memiliki keunggulan budaya yang sulit ditiru oleh merek global mana pun. Ini adalah modal yang belum sepenuhnya dikapitalisasi oleh industri kreatif dan merek lokal kita, termasuk dalam konteks yang dibahas di artikel tentang keberlanjutan merek global antara klaim dan bukti nyata.
7 Hal yang Harus Kamu Perhatikan Sebelum Menyebut Sebuah Merek Benar-Benar Berkelanjutan
1. Transparansi Material dan Sertifikasi Pihak Ketiga
Merek yang benar-benar berkelanjutan tidak hanya menyebut materialnya “ramah lingkungan” — mereka menyebutkan dari mana bahan itu berasal, bagaimana ia diproses, dan siapa yang memverifikasi klaimnya. Cari sertifikasi dari lembaga independen seperti FSC (untuk kayu), GOTS (untuk tekstil organik), atau B Corp. Klaim tanpa verifikasi pihak ketiga adalah klaim yang belum selesai.
2. Pengungkapan Siklus Hidup Produk
Keberlanjutan tidak berakhir di kasir. Tanyakan: produk ini akan ke mana setelah saya tidak memakainya? Merek yang serius akan memberi tahu kamu tentang program daur ulang, take-back scheme, atau komposisi material yang memudahkan pembuangan bertanggung jawab. Kalau situs webnya hanya bicara tentang produksi tapi diam soal akhir hayat produk, itu celah yang perlu kamu catat.
3. Keterlacakan Rantai Pasok
Di mana bahan baku ditanam atau ditambang? Siapa yang membuatnya, dan dalam kondisi kerja seperti apa? Merek berkelanjutan yang kuat memiliki jawaban konkret untuk pertanyaan ini, dan mereka memublikasikannya — bukan menyembunyikannya di balik bahasa korporat yang kabur. Keterlacakan rantai pasok adalah salah satu tolok ukur paling jujur dari komitmen merek.
4. Pengungkapan Dampak Komunitas
Apakah merek ini memberi manfaat nyata bagi komunitas di sekitar rantai produksinya? Ini bisa berupa pemberdayaan pengrajin lokal, program pendidikan, atau pembagian pendapatan yang adil. Keberlanjutan yang hanya fokus pada lingkungan tapi mengabaikan dimensi sosialnya adalah keberlanjutan yang belum utuh.
5. Kebijakan Perbaikan dan Ketahanan Produk
Salah satu tanda paling jelas dari merek yang berkomitmen pada keberlanjutan adalah apakah mereka merancang produknya untuk bertahan lama dan bisa diperbaiki. Program garansi yang kuat, ketersediaan suku cadang, dan panduan perbaikan yang mudah diakses adalah bentuk keberlanjutan yang paling praktis dan sering diabaikan.
6. Pelaporan Jejak Karbon dan Air
Apakah merek ini mengukur dan melaporkan emisi karbon serta penggunaan air dalam operasinya? Laporan keberlanjutan yang kredibel menggunakan kerangka seperti GRI atau TCFD, bukan hanya narasi pemasaran. Angka nyata — meskipun tidak sempurna — jauh lebih bermakna daripada klaim tanpa data.
7. Apakah Keberlanjutan Terintegrasi dalam Desain atau Ditempelkan sebagai Pemasaran
Ini adalah pertanyaan paling mendasar. Apakah keputusan desain, material, dan operasional merek ini dibuat dengan mempertimbangkan keberlanjutan sejak awal — atau apakah label hijau ditempelkan belakangan di atas produk yang tidak berubah sama sekali? Cara termudah untuk membedakannya: lihat apakah keberlanjutan hanya ada di halaman “Tentang Kami” atau apakah ia hadir di setiap halaman produk.
Dari rak bioplastik Baralan yang mengubah cara kita merasakan sebuah toko kecantikan, hingga filosofi perbaikan Nortvi yang menantang budaya buang-ganti dalam perjalanan, hingga Brunate yang membuktikan bahwa tempat pun bisa menjadi merek berkelanjutan yang koheren — semua cerita ini mengarah pada satu kesimpulan yang sama: merek yang paling tahan lama adalah yang menjadikan keberlanjutan sebagai disposisi, bukan departemen. Schwebel mengingatkan kita bahwa integritas punya harga, dan BeSomebody mengingatkan kita bahwa manusia dan komunitas adalah sumber daya berkelanjutan yang paling sering dilupakan. Cannes Lions yang memasukkan keberlanjutan sebagai kriteria kreatif formal adalah konfirmasi bahwa dunia tidak lagi menerima niat baik tanpa bukti. Lain kali kamu mengangkat sebuah produk, luangkan sedetik untuk melihat rak yang menopangnya, membaca cerita di balik labelnya, dan bertanya: apakah keberlanjutan ada di dalam arsitektur merek ini, atau hanya di permukaannya? Indonesia, dengan kekayaan hayati, kedalaman budaya, dan kesadaran konsumen yang terus tumbuh, memiliki semua bahan baku untuk melahirkan merek-merek berkelanjutan yang bukan hanya relevan secara lokal, tapi juga meyakinkan di panggung global.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










