Seorang mahasiswi ITB berdiri di depan juri kompetisi, membawa tumbler berbungkus kulit sapi asli dari pengrajin Garut — produk yang lahir dari riset tiga bulan dan keyakinan bahwa estetika dan keberlanjutan bisa berjalan berdampingan. Di hari yang sama, di ujung lain pulau, seorang kepala sekolah di Padang menerima penghargaan dari Wali Kota atas komitmen sekolahnya menjaga lingkungan belajar yang sehat. Dua peristiwa yang terpisah secara geografis, tapi menyuarakan satu sinyal yang sama: keberlanjutan di Indonesia sudah bukan lagi urusan konferensi tingkat tinggi atau laporan tahunan korporasi. Ia hidup di kampus, di ruang kelas, di meja redaksi, dan di jalanan kota-kota yang berubah.
Ini bukan kebetulan. Di tengah tekanan global yang semakin nyata — dari tuntutan dekarbonisasi rantai pasok industri hingga standar pembiayaan hijau yang kini menjadi syarat daya saing — Indonesia mulai merespons dari banyak penjuru sekaligus. Akademisi merancang kerangka riset untuk kebijakan. Generasi muda membangun brand yang punya jiwa. Departemen perencanaan kota berkolaborasi lintas negara. Media mulai dibekali literasi keberlanjutan. Dan sekolah-sekolah mengajarkan kebiasaan hidup sehat sejak dini. Yang sedang terbentuk bukan sekadar tren — melainkan sebuah ekosistem.
- Universitas Airlangga merilis kajian tentang dekarbonisasi rantai nilai industri kendaraan listrik Indonesia dan peran pembiayaan berkelanjutan sebagai fondasi daya saing.
- Navira, brand tumbler dari mahasiswa SBM ITB angkatan 2024, meraih posisi runner-up di kompetisi GBF Student Founder Challenge 2026 — menggabungkan bahan food-grade dengan kerajinan kulit lokal Garut.
- CIMB Niaga menetapkan 20 jurnalis sebagai penerima Sustainability Journalism Fellowship, sebuah program yang membekali media dengan literasi isu keberlanjutan.
- SMP Semen Padang meraih penghargaan Stratifikasi UKS/M Tingkat Kota Padang 2025 — salah satu dari hanya dua sekolah yang berhasil mendapatkan penghargaan kategori Standar di kota itu.
- DPWK FT UNDIP menjadi mitra inti jejaring Global Center of Spatial Methods for Urban Sustainability (SMUS) bersama TU Berlin, mengkaji urban sustainability untuk pencapaian SDG 11.
- Telkomsel menegaskan komitmen bisnis berkelanjutan sebagai bagian dari arah strategis jangka panjang perusahaan.
Universitas Airlangga mengambil posisi yang tidak banyak lembaga akademik Indonesia berani tempuh: masuk langsung ke isu teknis paling krusial dalam transisi industri nasional. Kajian mengenai dekarbonisasi rantai nilai industri kendaraan listrik (EV) di Indonesia yang dikembangkan di Surabaya itu menyentuh jantung persoalan — bagaimana sebuah industri yang sedang tumbuh bisa tumbuh dengan cara yang tidak menciptakan utang lingkungan bagi generasi berikutnya. Sustainable finance, atau pembiayaan yang mempertimbangkan dampak lingkungan dan sosial secara terstruktur, menjadi salah satu pilar analisisnya. Ini relevan secara langsung: mitra dagang utama Indonesia di Eropa dan Amerika Serikat kini semakin ketat memberlakukan standar rantai pasok rendah karbon, dan tanpa fondasi riset seperti ini, pembuat kebijakan nasional akan selalu tertinggal satu langkah. Studi kasus lokal yang tajam bukan kemewahan akademik — ia adalah amunisi untuk negosiasi perdagangan dan perumusan regulasi. Isu ini juga sudah mulai bergerak dari kampus Surabaya hingga lantai Bursa Jakarta, menandai bahwa tekanan dekarbonisasi kini menyentuh ekosistem keuangan secara lebih luas.
Dari ruang riset, pergeseran itu mengalir ke tangan generasi yang lebih muda — dan hasilnya mengejutkan dalam cara yang paling menyenangkan. Navira bukan sekadar nama brand yang lahir dari tugas kuliah. Ia adalah produk dari lima belas mahasiswa Manajemen SBM ITB angkatan 2024 yang mengikuti mata kuliah Integrated Business Experience (IBE) — program yang menuntut mereka bukan hanya berpikir tentang bisnis, tapi benar-benar menjalankannya, dari riset awal hingga eksekusi pasar. Selama tiga bulan mereka meneliti, mencoba, dan gagal, sebelum akhirnya meluncurkan produk pertama mereka di Desember 2025: sebuah tumbler berbahan stainless steel food-grade 304 dengan desain timeless, dilengkapi Real Leather Utility Sleeve — sarung kulit sapi asli yang dibuat tangan oleh pengrajin lokal di Garut, yang berfungsi sekaligus sebagai tempat menyimpan kartu, uang tunai, dan kunci.
“Navira diciptakan untuk menawarkan tumbler yang tidak hanya mendukung pelestarian lingkungan, tetapi juga memberikan nilai fungsional dan estetika tinggi — melampaui produk konvensional yang umumnya hanya berfungsi sebagai wadah air.”
— Natanael, Chief Operating Officer (COO) Navira, ITB
Yang membuat pencapaian Navira di GBF 2026 Student Founder Challenge lebih bermakna dari sekadar trofi runner-up adalah kesadaran yang tumbuh di dalam timnya sendiri. Ketika mereka hadir di pameran di Summarecon Mall Bandung pada 30 Mei 2026 dengan konsep booth unik bertajuk “Treasure in BMW E39” — memajang produk langsung dari bagasi mobil klasik — mereka mendapati bahwa pengunjung merespons bukan karena produknya cantik, tapi karena cerita di baliknya. Cerita tentang pengrajin Garut. Cerita tentang pilihan tidak menggunakan plastik sekali pakai. Natanael mencatat bahwa visitor engagement meningkat tajam justru saat mereka bercerita tentang riset dan pemberdayaan pengrajin lokal — bukti bahwa konsumen modern tidak lagi hanya membeli fungsi, melainkan nilai dan identitas yang dibawa sebuah brand. Inilah pipeline talenta keberlanjutan Indonesia yang sesungguhnya: lahir bukan dari slogan, tapi dari pengalaman nyata membangun sesuatu dari nol.
Semangat membangun dari nol itu juga yang mendorong DPWK FT UNDIP masuk ke percakapan global tentang kota. Pada Oktober 2025, departemen perencanaan wilayah dan kota Universitas Diponegoro menjadi mitra inti dalam jejaring Global Center of Spatial Methods for Urban Sustainability (SMUS) — sebuah inisiatif yang dikoordinasikan oleh Technische Universität (TU) Berlin dan didukung oleh program DAAD Exceed Pemerintah Jerman. Lewat SMUS Kick-Off Event yang digelar di Engineering Hall Fakultas Teknik, 14 peserta memaparkan hasil riset mereka tentang konsep ecotone — zona transisi ekologis di antara dua kawasan berbeda, seperti batas antara daratan dan pesisir, atau antara permukiman dan ruang hijau — sebagai kerangka analisis untuk memahami kerentanan perkotaan. Relevansinya langsung terasa: riset ini mengambil kasus dari Sayung, Demak, sebuah kawasan yang menghadapi penurunan muka tanah, abrasi, dan kenaikan air laut secara bersamaan.
🌱 Trivia: Apa itu Urban Sustainability dan Kaitannya dengan SDGs?
Kolaborasi UNDIP dengan TU Berlin menggarisbawahi sesuatu yang penting: persoalan kota Indonesia — tenggelam, banjir, panas ekstrem, ketimpangan ruang — adalah persoalan yang butuh metode dan perspektif lintas batas, bukan sekadar solusi lokal yang dirancang dalam silo. Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani selaku Ketua DPWK sekaligus penanggungjawab rangkaian SMUS menyampaikan harapan agar kegiatan ini menjadi bentuk nyata kontribusi jejaring SMUS dalam memfasilitasi dialog, kolaborasi riset, dan proses pengajaran tentang perencanaan perkotaan berkelanjutan. Ketika kampus membangun jembatan dengan lembaga riset kelas dunia untuk menjawab krisis yang sangat lokal seperti penurunan tanah di Demak, itulah saat ilmu pengetahuan benar-benar bekerja.
Tapi ekosistem keberlanjutan yang kokoh tidak bisa berdiri hanya di atas riset dan inovasi — ia butuh narasi. Dan narasi butuh jurnalis yang tahu apa yang sedang mereka ceritakan. Di sinilah langkah CIMB Niaga menjadi salah satu yang paling strategis di antara semua yang terjadi dalam lanskap ini: bank tersebut menetapkan 20 jurnalis sebagai penerima Sustainability Journalism Fellowship. Ini bukan sekadar program pelatihan. Ini adalah pengakuan bahwa ada kesenjangan literasi yang nyata antara apa yang terjadi di dunia keberlanjutan — dengan segala kompleksitas teknis dan finansialnya — dan apa yang sampai ke pembaca setiap hari. Jika jurnalis tidak memiliki pemahaman yang cukup tentang konsep seperti carbon offset, sustainable finance, atau nilai monetisasi hutan, maka laporan mereka akan terus dangkal, dan publik akan terus menganggap isu ini sebagai urusan orang lain. Gerakan keberlanjutan yang bergerak dari kampus hingga bank sampah warga membutuhkan media yang bisa mengartikannya untuk publik yang lebih luas.
🌱 Trivia: Seberapa Besar Pengaruh Jurnalisme Keberlanjutan di Dunia?
Sementara literasi keberlanjutan dibangun di ruang redaksi, di Padang ada yang membangunnya jauh lebih awal — dari bangku sekolah. SMP Semen Padang, sekolah binaan CSR PT Semen Padang, meraih penghargaan Stratifikasi Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah (UKS/M) Tingkat Kota Padang 2025 untuk kategori Standar. Penghargaan itu diserahkan langsung oleh Wali Kota Padang, Fadly Amran, pada upacara peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2026, dan diterima oleh Kepala Sekolah, April Chan. Yang membuat pencapaian ini menonjol bukan hanya karena penghargaannya — melainkan karena tahun itu hanya dua sekolah di seluruh Kota Padang yang berhasil meraihnya.
“Penghargaan ini merupakan hasil kerja keras dan kolaborasi seluruh warga sekolah dalam menjalankan berbagai program kesehatan dan menjaga lingkungan sekolah tetap sehat.”
— April Chan, Kepala SMP Semen Padang
Penilaian Stratifikasi UKS tidak sesederhana mengecek apakah ada ruang UKS di sekolah. Tim penilai yang masuk ke SMP Semen Padang mengevaluasi pelaksanaan program kesehatan secara menyeluruh: dari edukasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) untuk siswa, pemantauan kondisi kesehatan rutin, hingga kondisi lingkungan sekolah secara keseluruhan. Ruang UKS tersedia terpisah untuk siswa laki-laki dan perempuan, masing-masing dilengkapi tempat tidur, alat pemeriksaan mata, pengukur tekanan darah, hingga tandu — bukan sekadar kotak P3K yang tersimpan di sudut gudang. Ini adalah konsep green school yang sedang tumbuh di Indonesia: bukan soal panel surya di atap atau tanaman hias di koridor, tapi soal bagaimana institusi pendidikan membangun kesadaran hidup sehat dan lingkungan dari dalam, satu kebiasaan kecil setiap harinya.
Dari sekolah, benang merah itu menyambung ke korporasi besar yang sadar bahwa skala operasinya membawa tanggung jawab yang sepadan. Telkomsel menegaskan komitmen bisnis berkelanjutan dan dampak bermakna sebagai arah strategis jangka panjangnya. Ini bukan pernyataan yang bisa dianggap sepele: sebagai operator telekomunikasi dengan jaringan yang menjangkau hampir seluruh penjuru Indonesia, Telkomsel memiliki ribuan menara BTS dan pusat data yang beroperasi sepanjang waktu — semuanya membutuhkan energi dalam jumlah besar. Ketika perusahaan dengan jejak karbon infrastruktur sebesar itu menyatakan komitmen terhadap keberlanjutan, pertanyaan yang relevan bukan “apakah ini tulus?” tapi “apa langkah konkret selanjutnya?” — karena transisi dari retorika ke angka adalah tempat di mana sustainable finance memainkan perannya sebagai katalis nyata, bukan sekadar label di laporan tahunan. Kemampuan mengakses pembiayaan hijau, misalnya melalui green bond atau sustainability-linked loan, kini menjadi salah satu penentu apakah ambisi keberlanjutan sebuah perusahaan bisa benar-benar berjalan.
Ketika semua titik ini dihubungkan — riset dekarbonisasi Universitas Airlangga, tumbler kulit dari ITB, kolaborasi kota UNDIP dengan TU Berlin, fellowship jurnalis CIMB Niaga, penghargaan UKS sekolah di Padang, dan komitmen Telkomsel — yang muncul bukan daftar berita yang tidak berkaitan. Yang muncul adalah struktur. Seperti ekosistem hutan yang sehat, di mana pohon besar menyediakan naungan, semak menjaga kelembaban tanah, dan fungi di bawah permukaan menghubungkan akar satu pohon ke pohon lainnya, keberlanjutan Indonesia sedang membangun jaringan yang saling bergantung: akademisi menyediakan riset, inovator muda menerjemahkannya menjadi produk, perencana kota merancang ruang hidupnya, jurnalis menyebarkan narasinya, sekolah menanamkan kebiasaannya, dan industri menanggung skala dan konsekuensinya. Tidak ada satu aktor tunggal yang bisa membangun ini sendirian — dan itulah tepatnya yang membuat gerakan ini lebih tahan lama dari sekadar tren. Kamu bisa membaca bagaimana empat institusi Indonesia menggerakkan keberlanjutan secara bersamaan sebagai cermin dari pola yang sama.
Dan di tengah semua itu, ada satu pertanyaan yang paling sederhana dan paling mendasar: di mana posisi kita masing-masing dalam ekosistem ini? Keberlanjutan tidak menunggu kebijakan nasional selesai dirumuskan untuk mulai bekerja. Ia sudah bergerak — di kampus yang kamu pilih untuk didukung, di media yang kamu percaya untuk dibaca, di produk yang kamu pilih untuk dibeli, dan di sekolah yang kamu percayakan untuk membentuk kebiasaan anak. Setiap pilihan itu bukan tindakan kecil yang terisolasi. Ia adalah satu benang lagi dalam jaring yang sedang ditenun bersama-sama.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










