Empat Wilayah Indonesia Gerakkan Pelatihan Kompos Bersamaan — dari Wisata Turen hingga Pangkalan TNI AU Pekanbaru

Dalam satu periode yang hampir bersamaan, setidaknya empat wilayah Indonesia menggelar pelatihan dan sosialisasi pembuatan kompos — sebuah fenomena yang menunjukkan bahwa gerakan pengolahan sampah organik bukan lagi wacana, melainkan praktik nyata yang sedang bergulir dari level akademik, komunitas urban, hingga institusi militer. Dari kawasan wisata bambu di Turen, Malang, hingga pangkalan TNI AU di Pekanbaru, kompos kini menjadi bahasa bersama dalam upaya mengurangi timbunan sampah Indonesia yang mencapai 27,74 juta ton per tahun — 40 persen di antaranya adalah sisa makanan dan bahan organik yang seharusnya tidak berakhir di TPA.

Fakta Cepat
  • Empat lokasi menjalankan program kompos hampir bersamaan: Boonpring Turen (Malang), RPTRA Satria Jelambar (Jakarta), Lanud RSN (Pekanbaru), dan Kodim 0624 (Kabupaten Bandung)
  • Bahan baku utama: daun kering, sampah organik umum, dan sisa makanan
  • Pelaku utama: Tim PengMas FSTem, pengelola RPTRA, Dinas Lingkungan Hidup, TNI AU, dan Babinsa
  • Target output: pupuk kompos siap pakai untuk kebun, taman, dan lahan pertanian lokal
  • Konteks nasional: Indonesia hasilkan ~65 juta ton sampah/tahun, 60% organik dan berpotensi dikelola menjadi kompos

Di Boonpring Turen, kawasan wisata bambu yang terkenal dengan lanskap hijau dan udara sejuk, Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Sains dan Teknologi (FSTem) menggelar pelatihan kompos bagi pengelola dan warga sekitar. Pendekatan yang digunakan langsung dan praktis: peserta diajari cara memilah daun kering, menyusun lapisan bahan organik, mengukur kelembaban, hingga memanen kompos matang dalam waktu 4–6 minggu. Pelatihan ini bukan sekadar transfer teknik, tapi upaya membangun kesadaran bahwa limbah hijau dari kawasan wisata bisa dikelola sendiri, mengurangi biaya operasional, dan bahkan menjadi nilai tambah edukasi bagi pengunjung.

Sementara itu di Jakarta, pengelola RPTRA Satria Jelambar mengambil langkah serupa dengan mengolah daun kering dari pohon-pohon di taman menjadi pupuk kompos. Di tengah keterbatasan lahan dan tekanan sampah perkotaan yang terus meningkat, inisiatif ini punya makna strategis: setiap kilogram daun yang tidak dibuang ke TPA adalah kontribusi nyata dalam mengurangi beban sistem pembuangan Jakarta. Para petugas taman yang mengikuti pelatihan kini mampu mengelola siklus penuh — dari pemangkasan pohon hingga aplikasi kompos kembali ke tanaman — menciptakan loop tertutup yang menghidupkan kembali prinsip ekonomi sirkular di tingkat RT dan RW.

Di Pekanbaru, kolaborasi antara Lanud Roesmin Nurjadin (RSN) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) membawa dimensi kelembagaan yang lebih luas. Pangkalan TNI AU ini tidak hanya mengolah sampah organik internalnya menjadi kompos, tetapi juga menjadi model percontohan bagi instansi pemerintah lain di Riau. Skala produksi yang lebih besar memungkinkan kompos yang dihasilkan didistribusikan ke lahan milik dinas atau bahkan diserahkan kepada kelompok tani sekitar, memperkuat sinergi antara sektor pertahanan, lingkungan, dan pertanian lokal. Pola kerja sama seperti ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah organik bisa menjadi agenda lintas sektor yang efektif ketika komitmen dan infrastruktur tersedia.

Di Kabupaten Bandung, Babinsa dari Kodim 0624 turun langsung ke desa-desa untuk mensosialisasikan pembuatan pupuk kompos kepada warga. Pendekatan mereka bersifat komunal dan door-to-door, menggunakan bahasa yang sederhana dan metode demonstrasi langsung di halaman rumah. TNI, yang selama ini lebih dikenal dengan peran teritorial dan keamanan, kini juga berperan sebagai agen perubahan perilaku lingkungan — sebuah fenomena yang semakin sering muncul di berbagai daerah seiring dengan pengarusutamaan isu keberlanjutan dalam program pembinaan masyarakat. Sosialisasi ini tidak hanya mengajarkan teknik, tetapi juga menanamkan mindset bahwa setiap rumah tangga bisa berpartisipasi dalam pengurangan sampah nasional lewat tindakan lokal.

Benang merah dari keempat inisiatif ini terletak pada satu kesimpulan sederhana: kompos bukan hanya soal teknologi atau metode, melainkan gerakan sosial yang membutuhkan peran berbagai aktor — akademisi, komunitas urban, TNI, dan pemerintah daerah. Keragaman pelaku ini justru memperkuat argumen bahwa pengelolaan sampah organik bisa dan harus dijalankan di semua level, dari wisata alam hingga taman kota, dari pangkalan militer hingga RT-RW. Konteks nasional semakin mendesak: Kementerian Lingkungan Hidup menargetkan pengelolaan sampah organik 100 persen pada 2029, dan setiap pelatihan seperti ini adalah langkah mikro yang berkontribusi pada target makro tersebut.

Jika Anda tinggal di wilayah yang belum memiliki program serupa, ini adalah momentum untuk mulai. Pelatihan kompos terus berlangsung di berbagai daerah, dan banyak komunitas yang terbuka untuk berbagi pengetahuan. Mulailah dari tumpukan daun di halaman sendiri — kompos adalah bukti bahwa perubahan besar selalu dimulai dari hal yang sangat kecil dan sangat dekat. Bahkan rambut Anda bisa menjadi bahan baku.

Frequently Asked Questions
Apakah pelatihan kompos seperti ini gratis dan terbuka untuk umum?
Sebagian besar program yang dijalankan oleh perguruan tinggi, TNI, atau dinas lingkungan memang bersifat gratis dan ditargetkan untuk komunitas lokal. Anda bisa menghubungi kelurahan, RT/RW, atau dinas lingkungan setempat untuk menanyakan jadwal pelatihan terdekat.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghasilkan kompos matang?
Rata-rata 4–6 minggu, tergantung metode, bahan baku, dan kondisi lingkungan (kelembaban, suhu, aerasi). Metode aerobik dengan pembalikan rutin bisa mempercepat prosesnya.

Apakah kompos rumah tangga bisa digunakan langsung untuk tanaman hias atau sayuran?
Ya, asalkan kompos sudah matang sempurna (berwarna cokelat kehitaman, berbau tanah, dan tidak panas). Kompos mentah bisa merusak akar tanaman karena masih mengandung senyawa yang belum terurai.

Bagaimana cara memulai composting di rumah tanpa mengikuti pelatihan?
Mulai dengan wadah sederhana (ember berlubang atau komposter DIY), pisahkan sampah organik (sisa sayur, kulit buah, daun), lapis dengan tanah atau kompos lama, jaga kelembaban, dan aduk seminggu sekali. Tutorial lengkap bisa Anda temukan di artikel kami tentang komposting dan mitos yang sering muncul.


Punya Ide Artikel?

Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.

Pitch a Story ➔

Apakah artikel ini bermanfaat?

Tinggalkan komentar pertama

Punya Ide Artikel?