Di tengah industri mode global yang masih menjadi salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia, segelintir merek justru memilih jalan sepi — dan justru itulah yang membuat mereka semakin ramai dibicarakan. Dari Toronto hingga London, dari label pakaian perempuan yang dijahit sepenuhnya dalam radius 50 kilometer, hingga kacamata yang bisa terurai di dalam tanah — gerakan mode berkelanjutan sedang menemukan wajah-wajah barunya. Bukan lewat kampanye besar-besaran atau slogan yang berteriak, melainkan melalui keputusan-keputusan kecil yang sangat konkret: dari mana kain ini berasal, siapa yang menjahitnya, dan apa yang terjadi pada produk ini setelah kita selesai memakainya.
Tahun 2024 menjadi momen di mana konsumen tidak lagi puas dengan klaim “hijau” yang kabur dan tidak terverifikasi. Mereka menuntut transparansi, lokalitas, dan bukti yang bisa dipegang. Dan beberapa merek — meski berbeda latar, produk, maupun skala — mulai memenuhi standar tersebut dengan cara yang tidak hanya meyakinkan, tetapi juga menginspirasi. Pergeseran ini bukan sekadar tren musiman. Ia adalah sinyal bahwa cara kita memandang pakaian — dan konsumsi pada umumnya — sedang berubah secara mendasar.
- Industri fashion bertanggung jawab atas sekitar 10% emisi karbon global dan 20% polusi air bersih dunia, menurut UN Environment Programme.
- Miik adalah merek pakaian berkelanjutan berbasis Toronto, dimiliki perempuan, dan seluruh produksinya dilakukan dalam radius 50 km dari kota — sebuah model hiperlokal yang langka di industri ini.
- Finlay, merek kacamata asal Inggris, menggunakan bingkai dari bahan biodegradable acetate — material yang dapat terurai secara alami, berbeda dari plastik konvensional yang bertahan ratusan tahun.
- Reformation kini membuka toko fisik kedua di New Jersey, tepatnya di Princeton’s Palmer Square, menandai ekspansi merek sustainable fashion ke pasar suburban Amerika Serikat.
- PepsiCo melaporkan peningkatan dalam praktik pengadaan bahan baku yang lebih bertanggung jawab di rantai pasokannya — sebuah langkah yang mencerminkan tekanan konsumen terhadap perusahaan besar untuk berbuat lebih nyata.
Miik: Ketika Mode Dijahit oleh dan untuk Komunitas
Miik bukan sekadar merek pakaian. Ia adalah pernyataan bahwa fashion bisa — dan seharusnya — lahir dari komunitas yang nyata, bukan dari pabrik anonim di belahan dunia lain. Merek yang berbasis di Toronto ini dimiliki dan dijalankan oleh perempuan, dengan filosofi produksi yang sangat ketat: setiap helai pakaian dibuat sepenuhnya dalam radius 50 kilometer dari kota. Artinya, mulai dari pemotongan kain hingga jahitan terakhir, semua terjadi di lingkungan yang bisa dilihat, dipantau, dan dipertanggungjawabkan secara langsung. Ini bukan hanya soal efisiensi logistik — ini adalah bentuk komitmen terhadap pekerja lokal, upah yang adil, dan ekonomi kota yang berkelanjutan.
Yang membedakan Miik dari merek berkelanjutan lainnya adalah kontes desain tahunan mereka, yang kini telah memasuki edisi kelima. Kontes ini bukan sekadar ajang pemasaran — ia adalah mekanisme nyata di mana konsumen dan komunitas kreatif lokal bisa mengajukan desain yang berpeluang diproduksi dan dijual secara komersial. Dalam dunia fashion yang biasanya didominasi oleh keputusan dari atas ke bawah, Miik membalik dinamika itu. Konsumen bukan lagi sekadar pembeli; mereka adalah kolaborator aktif dalam menentukan wajah koleksi yang lahir. Model ini menciptakan rasa kepemilikan yang dalam — ketika seseorang membeli jaket Miik, ia tahu bahwa desain itu mungkin lahir dari tetangganya sendiri.
Filosofi “community-driven design” yang dijalankan Miik sebenarnya menyentuh sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar proses kreatif. Ia mempertanyakan siapa yang berhak mendefinisikan apa yang indah, apa yang layak diproduksi, dan untuk siapa pakaian itu dibuat. Dalam konteks industri fashion global yang selama ini memusatkan kekuatan di tangan segelintir desainer ternama dan konglomerasi besar, pendekatan Miik terasa seperti tindakan perlawanan yang elegan — dan justru karena itu, ia beresonansi kuat dengan generasi konsumen yang lelah dengan keseragaman.
“Industri fashion bertanggung jawab atas sekitar 10% emisi karbon global dan 20% polusi air bersih dunia.”
— UN Environment Programme
Mengapa Produksi Hiperlokal Lebih dari Sekadar Soal Emisi
Ada kesalahpahaman yang umum bahwa keberlanjutan dalam fashion semata-mata soal jejak karbon — berapa banyak emisi yang dihasilkan dari pengiriman barang lintas benua. Padahal, model produksi hiperlokal seperti yang dijalankan Miik menyentuh dimensi yang jauh lebih kaya. Ketika sebuah merek berkomitmen untuk hanya memproduksi dalam radius kota, ia secara otomatis membangun ekosistem ekonomi lokal yang lebih tangguh: penjahit lokal mendapat pekerjaan tetap dengan upah layak, pengrajin kecil bisa berkembang, dan pengetahuan produksi tidak lari ke luar negeri demi efisiensi biaya semata. Ini adalah model yang menempatkan manusia — bukan hanya planet — sebagai pusat dari persamaan keberlanjutan.
Tren ini bukan hanya terjadi di Kanada. Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, semangat yang sama mulai tumbuh dengan caranya sendiri. Beberapa label lokal mulai mengadopsi filosofi produksi yang mengutamakan pengrajin daerah, bahan alami lokal seperti tenun tradisional atau batik organik, serta rantai produksi yang pendek dan dapat dilacak. Gerakan slow fashion — yang menekankan kualitas, umur panjang produk, dan hubungan yang lebih sadar antara pembeli dan pakaiannya — perlahan menemukan tanah subur di pasar Indonesia. Seperti yang pernah diulas dalam konteks gerakan ecoprint dari kampus UGM yang menembus panggung IKN, pembuktian bahwa slow fashion bisa berakar dari level lokal bukan lagi sekadar wacana.
Yang menarik adalah bahwa model hiperlokal justru sering menghasilkan produk dengan identitas budaya yang lebih kuat. Ketika seorang penjahit di Toronto menjahit pakaian untuk komunitas Toronto, ada konteks sosial dan estetika yang tertanam dalam setiap jahitan. Prinsip yang sama berlaku untuk pengrajin Jepara yang membuat furnitur, atau penenun Badui yang menghasilkan kain. Lokalitas bukan keterbatasan — ia adalah sumber kekayaan identitas yang tidak bisa diproduksi secara massal.
Finlay dan Kacamata yang Bisa Kembali ke Bumi
Jauh dari hiruk-pikuk pekan mode, ada sebuah momen sederhana yang diam-diam menjadi perbincangan: Pangeran William terlihat mengenakan kacamata dari Finlay, merek kacamata asal Inggris yang menggunakan bingkai berbahan biodegradable acetate. Bagi merek berukuran kecil, visibilitas semacam ini adalah amplifikasi organik yang nilainya tidak bisa dibeli dengan anggaran iklan berapa pun. Tapi yang lebih menarik dari momen publisitasnya adalah apa yang sebenarnya ada di balik bingkai itu — sebuah inovasi material yang menjawab salah satu masalah terbesar dalam industri aksesori fashion.
Acetate konvensional — bahan yang selama ini mendominasi industri kacamata karena kenyamanan dan fleksibilitasnya — adalah turunan dari plastik yang membutuhkan ratusan tahun untuk terurai. Finlay mengambil jalan berbeda dengan menggunakan biodegradable acetate yang bahan dasarnya berasal dari selulosa biji kapas, bukan dari turunan minyak bumi. Dalam kondisi pengomposan alami, material ini bisa terurai dalam hitungan tahun, bukan abad. Perbedaan ini terdengar teknis, tapi implikasinya sangat nyata: setiap pasang kacamata Finlay yang sudah habis masa pakainya tidak akan berakhir sebagai sampah plastik abadi di tempat pembuangan akhir.
🌱 Trivia: Apa Bedanya Acetate Biasa dengan Biodegradable Acetate?
PepsiCo dan Pertanyaan tentang Keberlanjutan Korporasi yang Nyata
Ketika kita berbicara tentang merek ramah lingkungan, kita sering membayangkan label kecil yang penuh idealis. Tapi bagaimana dengan perusahaan raksasa yang produknya ada di setiap toko kelontong di penjuru dunia? PepsiCo, salah satu korporasi makanan dan minuman terbesar di planet ini, melaporkan peningkatan dalam praktik pengadaan bahan baku yang lebih bertanggung jawab pada 2024. Langkah ini mencakup perbaikan dalam rantai pasok untuk beberapa bahan baku utama mereka, dengan fokus pada transparansi dan standar lingkungan yang lebih ketat dari pemasok.
Perlu dikatakan dengan jujur: komitmen keberlanjutan dari perusahaan sebesar PepsiCo selalu akan dipandang dengan mata yang lebih kritis dibandingkan merek kecil seperti Miik atau Finlay. Skala operasi mereka begitu besar sehingga bahkan perubahan kecil dalam praktik pengadaan bisa berdampak signifikan — untuk lebih baik atau lebih buruk. Yang membuat laporan ini layak diperhatikan adalah konteksnya: tekanan konsumen dan regulasi yang semakin ketat membuat perusahaan-perusahaan besar tidak lagi bisa bersembunyi di balik laporan keberlanjutan yang bersifat kosmetik. Perubahan nyata dalam rantai pasok — meski bertahap — adalah hasil dari tekanan yang konsisten dari publik, investor, dan regulator. Dan itu, pada akhirnya, adalah cara sistem besar berubah.
Reformation dan Era Toko Fisik yang Bernilai Lebih dari Transaksi
Reformation adalah salah satu merek fashion berkelanjutan yang paling dikenal di Amerika Serikat — lahir sebagai merek digital-first yang memanfaatkan kekuatan media sosial untuk menjangkau konsumen muda. Maka ketika mereka mengumumkan pembukaan toko fisik kedua di New Jersey, tepatnya di Princeton’s Palmer Square, keputusan ini terasa seperti pernyataan strategis yang lebih dalam dari sekadar ekspansi geografis. Merek yang sudah berhasil membangun komunitas online yang kuat kini memilih untuk hadir secara fisik di pasar suburban — sebuah segmen yang selama ini kurang tergarap oleh merek sustainable fashion.
Ada logika menarik di balik langkah ini. Toko fisik bagi merek berkelanjutan bukan hanya tempat transaksi — ia adalah ruang edukasi. Ketika seseorang masuk ke toko Reformation, mereka tidak hanya mencoba pakaian; mereka berinteraksi dengan nilai-nilai yang merek itu wakili: dari informasi tentang bahan yang digunakan, cara perawatan pakaian agar bertahan lebih lama, hingga program daur ulang yang mungkin tersedia. Pengalaman fisik ini sulit direplikasi oleh halaman website secanggih apapun. Tren “phygital” — perpaduan pengalaman fisik dan digital — tampaknya menjadi masa depan dari sustainable retail, di mana kehadiran fisik justru memperkuat narasi digital yang sudah terbangun.
Gambaran Keempat Merek dalam Satu Pandang
| Merek | Kategori Produk | Asal Negara | Klaim Keberlanjutan Utama | Bukti Konkret | Relevansi untuk Konsumen Indonesia |
| Miik | Pakaian perempuan | Kanada (Toronto) | Produksi hiperlokal dalam radius 50 km, dimiliki perempuan | Kontes desain komunitas edisi ke-5; rantai produksi yang sepenuhnya lokal dan dapat dilacak | Inspirasi untuk merek lokal Indonesia yang ingin mengutamakan pengrajin daerah dan desain berbasis komunitas |
| Finlay | Kacamata | Inggris | Bingkai dari biodegradable acetate berbasis selulosa alami | Material terurai dalam kondisi kompos; dikenakan oleh Pangeran William sebagai validasi publik | Membuka percakapan tentang material aksesori alternatif; relevan bagi pengrajin kacamata kayu/bambu Indonesia |
| PepsiCo | Makanan & minuman (korporasi besar) | Amerika Serikat | Peningkatan praktik sustainable sourcing di rantai pasok global | Laporan internal 2024 tentang perbaikan standar pengadaan bahan baku | Contoh tekanan konsumen yang berhasil mendorong perubahan di korporasi besar; relevan untuk advokasi konsumen Indonesia |
| Reformation | Pakaian perempuan | Amerika Serikat | Fashion berkelanjutan dengan transparansi bahan dan praktik produksi | Ekspansi toko fisik kedua di New Jersey (Princeton’s Palmer Square); model phygital untuk edukasi konsumen | Model retail phygital yang bisa diadopsi merek Indonesia untuk menjangkau konsumen suburban yang belum teredukasi |
Cermin untuk Indonesia: Potensi yang Menanti Diaktifkan
Semua yang terjadi di Toronto, London, dan New Jersey itu bukan cerita dari dunia yang jauh. Ia adalah cermin yang relevan untuk Indonesia — sebuah negara dengan kekayaan tradisi tekstil yang luar biasa, dari tenun ikat Nusa Tenggara hingga batik tulis Jawa, dari lurik Yogyakarta hingga songket Palembang. Modal budaya untuk membangun gerakan fashion berkelanjutan yang autentik sudah ada. Yang sedang tumbuh adalah kesadaran bahwa modal itu perlu diorganisasi, divalidasi, dan diceritakan dengan cara yang kuat kepada dunia.
Tantangan terbesar bagi merek Indonesia yang ingin bersaing di panggung keberlanjutan global bukan hanya soal modal atau akses pasar — melainkan soal narasi dan sertifikasi. Banyak pengrajin yang sudah menjalankan praktik berkelanjutan secara alami selama generasi, tetapi belum memiliki bahasa atau bukti yang diakui secara internasional untuk mengkomunikasikannya. Di sinilah peran komunitas, platform digital, dan kebijakan yang mendukung UMKM kreatif menjadi sangat penting. Seperti yang tercermin dalam perjalanan merek ramah lingkungan yang kini memimpin pasar global, jalan menuju pengakuan internasional selalu dimulai dari kekokohan fondasi lokal.
Lemari Kita, Pilihan Kita
Apa yang dulu dianggap “idealis” atau terlalu “niche” kini sedang bergeser menjadi arus utama. Mode berkelanjutan bukan lagi soal estetika vintage yang eksklusif atau sekadar privilege konsumen kelas menengah atas yang punya waktu untuk riset. Ia sedang menjadi bahasa baru dari identitas — cara seseorang menyatakan apa yang ia percaya, bukan hanya apa yang ia mampu beli. Miik mengajarkan bahwa mode bisa menjadi tindakan komunitas. Finlay membuktikan bahwa aksesori kecil pun bisa membawa keputusan besar tentang material. Reformation menunjukkan bahwa pengalaman berbelanja bisa sekaligus menjadi pengalaman belajar.
Pertanyaannya kini bukan lagi “apakah fashion berkelanjutan itu nyata?” — melainkan “sampai sejauh mana kita, sebagai konsumen, siap untuk terlibat?” Lemari kita adalah dokumen yang diam tapi jujur tentang nilai-nilai kita. Dari mana pakaian itu berasal, siapa yang membuatnya, dan apakah ia akan bertahan — atau justru menambah tumpukan sampah tekstil yang sudah menggunung. Pilihan ada di tangan kita, satu helai pada satu waktu.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










