Industri mode dan konsumsi global sedang berada di persimpangan yang menarik. Di satu sisi, semakin banyak merek yang melahirkan koleksi dengan klaim ramah lingkungan, menggunakan bahasa seperti “bio-circular”, “natural heritage”, hingga “wellness sustainability” dalam kampanye mereka. Di sisi lain, konsumen yang semakin cerdas mulai bertanya: di balik label hijau itu, apa yang benar-benar terjadi di lantai produksi, rantai pasok, dan pilihan bahan baku? Tahun 2024 menjadi tahun di mana pertanyaan itu tidak lagi bisa dijawab dengan sekadar narasi pemasaran.
Dari atelier Italia yang mengangkat kembali warisan tekstil leluhurnya, hingga raksasa alas kaki berbahan busa yang membuat klaim berbasis persentase yang perlu dicermati lebih dalam — lanskap merek berkelanjutan di penghujung 2024 terasa lebih ramai sekaligus lebih rumit dari sebelumnya. Siklus ini menghadirkan setidaknya enam cerita besar yang saling terhubung: peluncuran label fashion ValeriaVH oleh desainer Valeria Vacca, gerakan pakaian rami (*hemp*) yang semakin matang, merek parfum Cristina Cornejo yang membangun identitas di atas filosofi kesehatan berkelanjutan, klaim “25% bio-circular” dari Crocs yang memunculkan pertanyaan serius, tekanan kinerja yang dihadapi sektor kemasan ramah lingkungan, dan Orange Jordan yang menerbitkan laporan keberlanjutan keempatnya dengan target ESG 2025 yang ambisius.
- ValeriaVH adalah label berkelanjutan baru yang diluncurkan desainer Alloa, Valeria Vacca, dengan akar kuat dalam warisan tekstil Italia.
- Crocs mengklaim bahwa sandal klasiknya mengandung 25% bahan “bio-circular” — namun beberapa pasang produk mereka dilaporkan tidak mengandung material berbasis tanaman sama sekali.
- Pakaian berbahan rami (*hemp*) mendapatkan sorotan utama dari Hanf Magazin yang merilis daftar merek hemp terbaik dan paling berkelanjutan di 2024.
- Cristina Cornejo membangun merek parfumnya di atas filosofi keberlanjutan sebagai gaya hidup sehat, bukan sekadar atribut produk.
- Kemasan berkelanjutan menghadapi tantangan kinerja nyata — dari ketahanan terhadap kelembapan hingga kesesuaian rantai dingin.
- Orange Jordan telah menerbitkan laporan keberlanjutan keempatnya, dengan target ESG yang membentang hingga 2025.
ValeriaVH hadir bukan sebagai sekadar label mode baru. Valeria Vacca, yang sebelumnya dikenal melalui karyanya bersama Alloa, membawa serta satu keyakinan mendasar: bahwa keberlanjutan sejati dalam fashion tidak bisa dibangun dari nol, melainkan harus tumbuh dari akar yang sudah ada. Dalam konteks ini, “warisan tekstil Italia” bukan frasa romantis semata — Italia, khususnya kawasan Biella dan Prato, adalah rumah bagi beberapa industri tekstil dengan standar lingkungan paling ketat di dunia, di mana sertifikasi seperti GOTS (*Global Organic Textile Standard*) dan Oeko-Tex 100 sudah lama menjadi tolok ukur produksi. ValeriaVH memanfaatkan ekosistem ini sebagai fondasinya. Filosofi *slow fashion* yang menjadi inti label ini berarti setiap koleksi dirancang untuk umur panjang, bukan siklus tren yang cepat habis — sebuah kontras yang sengaja dibangun terhadap industri *fast fashion* yang mendominasi pasar global.
Semangat yang sama — kembali ke material yang lebih jujur terhadap bumi — juga mendorong gelombang pakaian berbahan rami yang semakin menguat. Hanf Magazin, publikasi khusus yang mencakup industri rami global, merilis daftar kurasi merek pakaian rami terbaik dan paling berkelanjutan di 2024, sebuah pengakuan editorial yang menandai momen penting bagi bahan baku yang lama dipinggirkan. Rami adalah tanaman yang luar biasa secara ekologis: ia menghasilkan hingga dua setengah kali lebih banyak serat per hektar dibandingkan kapas, tidak membutuhkan pestisida, dan justru membantu menyerap karbon dari atmosfer selama masa tanamnya. Hambatan utamanya selama ini bukan pada keunggulan lingkungan, melainkan pada persepsi estetika — tekstur yang dianggap kasar dan pilihan desain yang terbatas. Namun merek-merek generasi baru yang masuk dalam daftar Hanf Magazin telah berhasil menjawab tantangan itu dengan inovasi proses blending dan finishing yang menghasilkan pakaian rami yang sesungguhnya terasa nyaman dan memiliki daya tarik visual yang kuat. Ini bukan lagi pakaian “alternatif” — ini adalah fashion yang bisa berdiri sendiri. Jika kamu penasaran dengan ekosistem merek mode berkelanjutan dunia yang perlu kamu kenali, gerakan hemp adalah salah satu narasi paling menarik yang sedang berkembang saat ini.
Cristina Cornejo membawa percakapan ini ke wilayah yang berbeda: dunia parfum. Industri wewangian secara historis adalah salah satu yang paling sulit untuk “dihijaukan” — mengandalkan senyawa sintetis yang kompleks, botol kaca yang hampir tidak pernah didaur ulang, dan rantai pasok bahan baku yang sering kali tidak transparan. Lebih dari delapan miliar botol kaca parfum dibuang setiap tahunnya di seluruh dunia tanpa dapat didaur ulang. Cornejo membangun mereknya dengan membalik asumsi-asumsi ini: bahan-bahan alami dan bersumber secara etis menjadi fondasi formulasi, sementara pilihan kemasan yang dapat diisi ulang (*refillable*) dirancang untuk memotong jejak limbah secara signifikan — sistem isi ulang saja berpotensi mengurangi jejak kemasan hingga 70%. Yang lebih penting dari atribut produk individualnya adalah bagaimana Cornejo memosisikan keberlanjutan bukan sebagai fitur tambahan, melainkan sebagai inti dari apa artinya menjaga kesehatan diri dan lingkungan secara bersamaan — sebuah filosofi yang ia sebut sebagai *sustainable wellness*.
Namun di tengah kisah-kisah yang inspiratif ini, Crocs menghadirkan titik balik kritis yang perlu dicermati dengan kepala dingin. Merek alas kaki ikonik berbahan busa ini mengklaim bahwa sandal klasiknya mengandung 25% bahan “bio-circular” — sebuah pernyataan yang terdengar menjanjikan hingga kita melihat lebih dekat apa yang sebenarnya dimaksud. Istilah “bio-circular” bukan merupakan sertifikasi terstandarisasi; tidak ada lembaga verifikasi pihak ketiga yang mengawasi penggunaannya, dan setiap merek secara teknis bebas menggunakannya tanpa harus memenuhi ambang batas tertentu. Yang lebih mengkhawatirkan, pengakuan bahwa beberapa pasang produk Crocs mungkin tidak mengandung material berbasis tanaman sama sekali menunjukkan bahwa angka 25% itu kemungkinan adalah rata-rata di tingkat portofolio — bukan jaminan di tingkat produk individual. Mekanisme ini bukan hal baru dalam dunia klaim keberlanjutan: dengan merata-ratakan performa seluruh lini produk, sebuah merek bisa menonjolkan satu produk ramah lingkungan untuk mendongkrak citra keseluruhan, sementara produk mayoritas tetap berjalan seperti biasa. Ini bukan tuduhan; ini adalah pola yang perlu dipahami oleh konsumen agar bisa mengajukan pertanyaan yang tepat. Pertumbuhan ekonomi dari klaim yang tidak akurat semacam ini tidak hanya merugikan konsumen secara finansial — karena mereka membayar lebih untuk sesuatu yang tidak sepenuhnya sesuai klaimnya — tetapi juga merusak kepercayaan terhadap merek-merek yang benar-benar berinvestasi dalam perubahan nyata.
| Merek / Entitas | Klaim Keberlanjutan | Bukti / Sertifikasi | Potensi Catatan | Skor Kredibilitas (Editorial) |
|---|---|---|---|---|
| ValeriaVH | Berakar pada warisan tekstil Italia; filosofi slow fashion | Ekosistem industri tekstil Italia (GOTS, Oeko-Tex 100) | Detail sertifikasi spesifik produk belum terverifikasi publik | ⭐⭐⭐⭐ |
| Crocs | 25% “bio-circular” pada sandal klasik | Tidak ada sertifikasi pihak ketiga untuk istilah “bio-circular” | Beberapa produk dilaporkan tidak mengandung bahan berbasis tanaman | ⭐⭐ |
| Merek Hemp (Kolektif) | Bahan rami: hemat air, bebas pestisida, penyerap karbon | Keunggulan agrikultur rami sudah terdokumentasi ilmiah | Kualitas antar merek bervariasi; perlu cek sumber serat | ⭐⭐⭐⭐ |
| Cristina Cornejo Fragrances | Bahan alami, kemasan isi ulang, sustainable wellness | Pendekatan refillable packaging; bahan-bahan alami dan etis | Detail sumber bahan baku belum tersedia luas untuk publik | ⭐⭐⭐⭐ |
| Sektor Kemasan Berkelanjutan | Plastik kompos, karton daur ulang, film berbasis bio | Inovasi material aktif; beberapa produk sudah bersertifikat | Tantangan kinerja nyata: ketahanan kelembapan, rantai dingin | ⭐⭐⭐ |
| Orange Jordan | Laporan keberlanjutan ke-4; target ESG 2025 | Pelaporan formal multi-tahun; kerangka ESG terstruktur | Realisasi target 2025 perlu dipantau secara independen | ⭐⭐⭐⭐ |
Ketegangan antara klaim dan kenyataan juga muncul di level yang lebih sistemik, jauh dari satu merek mana pun: sektor kemasan berkelanjutan. Ketika bisnis dari semua sektor berlomba mengganti kemasan plastik konvensional dengan alternatif yang lebih hijau — plastik kompos, karton daur ulang, film berbasis bahan bio — mereka segera menghadapi serangkaian kompromi teknis yang tidak sederhana. Kemasan berbasis bahan alami sering kali memiliki ketahanan terhadap kelembapan yang lebih rendah, yang menjadi masalah serius untuk produk makanan segar atau produk yang membutuhkan rantai dingin. Umur simpan yang lebih pendek dan biaya produksi yang lebih tinggi menambah kompleksitas bagi bisnis skala menengah yang ingin beralih namun terbatas anggaran. Ini bukan kegagalan konsep — ini adalah tantangan rekayasa yang nyata, dan industri sedang bekerja keras untuk menutup celahnya. Namun bagi konsumen dan bisnis yang ingin membuktikan bahwa hijau adalah bisnis yang nyata, memahami keterbatasan ini adalah bagian dari kalkulasi yang jujur.
Di ranah korporasi besar, Orange Jordan menawarkan model yang berbeda: transparansi melalui pelaporan yang konsisten. Penerbitan laporan keberlanjutan keempat mereka — yang mencakup target ESG hingga 2025 — adalah sinyal bahwa perusahaan telekomunikasi ini memandang keberlanjutan sebagai komitmen jangka panjang, bukan kampanye satu musim. Bagi sebuah perusahaan telekomunikasi, jejak keberlanjutan mencakup dimensi yang lebih luas dari yang mungkin dibayangkan: konsumsi energi pusat data dan jaringan, pengelolaan limbah elektronik (*e-waste*) dari perangkat yang ditarik dari pasar, inklusi digital sebagai komponen sosial dari ESG, hingga investasi komunitas. Dalam konteks kawasan Timur Tengah yang sedang mengakselerasi agenda ESG-nya secara keseluruhan, langkah Orange Jordan mencerminkan tren yang lebih besar: pelaporan keberlanjutan yang terstruktur dan berulang adalah fondasi akuntabilitas, jauh lebih kuat daripada satu kampanye *green* yang berdiri sendiri tanpa data pembanding.
🌱 Trivia: Seberapa dalam kamu mengenal klaim “hijau” di label produkmu?
1. Tekstil Italia dan sertifikasinya: Sentra tekstil Italia di Biella dan Prato termasuk yang paling ketat regulasinya di dunia. Saat membeli produk fashion Eropa, cari label GOTS (Global Organic Textile Standard) atau Oeko-Tex 100 sebagai penanda bahwa bahan baku dan proses produksinya telah diverifikasi secara independen.
2. Rami vs. kapas: Tanaman rami menghasilkan hingga 250% lebih banyak serat per hektar dibandingkan kapas, dan di sebagian besar iklim tidak memerlukan irigasi buatan. Ini menjadikannya salah satu bahan baku tekstil paling efisien sumber dayanya yang tersedia saat ini.
3. Botol parfum dan jejaknya: Industri parfum global menghasilkan lebih dari 8 miliar botol kaca yang tidak dapat didaur ulang setiap tahunnya. Merek yang menawarkan sistem isi ulang (*refillable*) berpotensi memangkas jejak kemasan hingga 70%.
4. “Bio-circular” bukan sertifikasi resmi: Istilah “bio-circular” tidak memiliki definisi terstandarisasi yang diawasi lembaga verifikasi pihak ketiga mana pun. Artinya, merek mana pun secara teknis bebas menggunakannya — pertanyaan yang tepat untuk diajukan adalah: “Berapa persen bio-circular per produk ini, dan siapa yang memverifikasinya?”
Ketika kita meletakkan keenam cerita ini berdampingan, sebuah pola besar mulai terlihat. Merek dan institusi yang membangun kredibilitas keberlanjutan sejati memiliki satu kesamaan: mereka membangun infrastruktur transparansi — bukan hanya narasi. ValeriaVH bersandar pada ekosistem sertifikasi yang sudah ada. Merek-merek hemp dalam daftar Hanf Magazin mengandalkan keunggulan agrikultur yang terdokumentasi secara ilmiah. Cristina Cornejo memilih sistem yang bisa diverifikasi fisik oleh konsumennya sendiri, yaitu kemasan yang bisa diisi ulang. Orange Jordan menerbitkan data performa mereka secara berulang dan terbuka. Yang berjalan di jalur berlawanan adalah klaim yang mengandalkan istilah tanpa definisi, angka rata-rata portofolio yang disajikan seolah berlaku untuk setiap produk, dan janji tanpa mekanisme pertanggungjawaban yang jelas. Konsumen yang paling berdaya bukanlah yang paling sinis — melainkan yang paling terlatih untuk membedakan keduanya. Seperti yang bisa kamu pelajari lebih lanjut dari perspektif desainer lokal Indonesia yang membuktikan mode berkelanjutan bukan sekadar tren, standar akuntabilitas ini berlaku universal.
Bagi konsumen dan pelaku bisnis Indonesia, gambaran global ini membawa relevansi yang sangat konkret. Indonesia adalah salah satu produsen tekstil terbesar di dunia sekaligus negara dengan keanekaragaman hayati yang luar biasa — dua kenyataan yang membuat pilihan-pilihan di industri fashion dan konsumsi memiliki konsekuensi ekologis yang besar. Merek lokal yang hari ini mulai mengangkat klaim “ramah lingkungan” perlu dihadapi dengan pertanyaan yang sama yang kita ajukan kepada Crocs: apa yang dimaksud dengan klaim itu, siapa yang memverifikasinya, dan apakah angkanya berlaku untuk produk ini secara spesifik atau hanya rata-rata portofolio? Matriks akuntabilitas yang kita gunakan untuk mengevaluasi ValeriaVH, Cristina Cornejo, dan Orange Jordan bukan hanya alat untuk memahami merek asing — ini adalah kerangka berpikir yang bisa langsung diterapkan saat kamu melihat label produk di rak toko favoritmu hari ini.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










