Indonesia menghasilkan sekitar 68,5 juta ton sampah setiap tahunnya — dan plastik menjadi salah satu komponen yang paling sulit ditaklukkan. Angka itu bukan sekadar statistik; ia adalah cerminan dari sistem konsumsi yang selama puluhan tahun berjalan tanpa rem. Namun di tengah skala masalah yang terasa mustahil, ada yang memilih untuk menjawabnya dengan tangan sendiri.
Dafa Alif Adillah adalah salah satunya. Melalui RepLast Lab, ia membangun sebuah laboratorium inovasi yang mengubah sampah plastik — benda yang paling sering diabaikan dan dibuang — menjadi produk bernilai ekonomi nyata. Kisahnya bukan pengecualian, melainkan bagian dari sebuah gelombang yang lebih besar: sebuah ekosistem solusi yang kini bergerak bersamaan di Indonesia, dari tingkat individu hingga kebijakan kota.
Gelombang itu hadir dalam banyak wujud. Ada refill station yang mencegah plastik baru masuk ke siklus konsumsi sebelum sempat menjadi sampah. Ada TPS-3R — infrastruktur pengolahan sampah berbasis komunitas yang mulai menggantikan model pembuangan konvensional. Ada kolaborasi Pemkot Depok dengan WWF Indonesia yang mencoba menjadikan satu kota sebagai model nasional. Dan ada pula peringatan serius tentang teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) yang terganjal masalah paling dasar: sampah yang tidak terpilah dari sumbernya. Semua ini sedang terjadi secara bersamaan — dan pemahaman atas keseluruhan gambaran ini penting untuk siapa pun yang ingin ikut bergerak.
🌱 Trivia: Berapa persen sampah Indonesia yang benar-benar terkelola dengan baik?
RepLast Lab: Saat Plastik Berhenti Menjadi Beban
RepLast Lab lahir dari sebuah pertanyaan sederhana yang sering kita lewatkan: kalau plastik tidak bisa terurai, mengapa tidak kita ubah bentuknya? Dafa Alif Adillah, pendiri RepLast Lab, menjawab pertanyaan itu secara harfiah. Lab yang ia bangun berfokus pada pengolahan sampah plastik — khususnya jenis-jenis yang kerap ditolak pengepul konvensional karena dianggap tidak menguntungkan — dan mengubahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual kembali. Pendekatannya tidak sekadar mendaur ulang demi mendaur ulang, tetapi membangun rantai nilai baru di mana sampah benar-benar diperlakukan sebagai bahan baku.
Yang membuat RepLast Lab relevan secara sistemik adalah caranya menunjukkan bahwa hambatan terbesar dalam daur ulang plastik di Indonesia bukan soal teknologi — melainkan soal persepsi nilai. Ketika seorang anak muda mampu membangun model bisnis yang viable dari plastik yang dianggap tak berharga, ia sekaligus membuktikan bahwa kesenjangan antara “sampah” dan “sumber daya” hanya soal pengetahuan dan kemauan. Inovasi seperti ini juga membuka peluang bagi komunitas-komunitas di sekitarnya untuk terlibat — baik sebagai pemasok bahan baku maupun sebagai penerima manfaat ekonomi. Ini persis semangat yang dirangkum dalam kisah-kisah seperti Kampung Zero Waste Kaliwates, yang membuktikan bahwa sampah bisa benar-benar menjadi sumber penghidupan ketika dikelola dengan pendekatan yang tepat.
Refill Station: Mencegah Sebelum Membuang
Sementara RepLast Lab bekerja di hilir — menangani plastik yang sudah telanjur ada — refill station bermain di hulu. Konsepnya sederhana: alih-alih membeli produk dalam kemasan plastik baru setiap kali habis, konsumen membawa wadah sendiri dan mengisinya langsung di titik pengisian. Produk yang umum ditawarkan melalui model ini mencakup sabun cuci, deterjen, sampo, hingga minyak goreng — kategori kebutuhan sehari-hari yang selama ini menyumbang volume kemasan plastik sekali pakai yang sangat besar di rumah tangga Indonesia.
Model refill station kini mulai diadopsi oleh berbagai pelaku usaha, mulai dari toko kelontong independen hingga minimarket berbasis komunitas di kota-kota besar. Relevansinya bagi konsumen urban Indonesia sangat nyata: di tengah biaya hidup yang terus naik, isi ulang kerap lebih murah per satuan dibanding membeli produk baru dalam kemasan. Ini artinya proposisi nilai refill station tidak hanya bersifat ekologis, tetapi juga finansial — sebuah kombinasi yang jauh lebih kuat dalam mendorong perubahan perilaku dibanding sekadar seruan moral. Refill station, pada dasarnya, adalah strategi yang mengakui bahwa keberlanjutan harus terasa masuk akal bagi dompet dulu sebelum bisa mengubah kebiasaan.
TPS-3R: Infrastruktur yang Bekerja Sebelum Sampah Menjadi Masalah
Di level infrastruktur kota, ada pendekatan yang jauh lebih terstruktur: Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle, atau TPS-3R. Berbeda dari TPS konvensional yang pada dasarnya hanya merupakan titik pengumpulan sebelum sampah diangkut ke TPA, TPS-3R adalah fasilitas yang dirancang untuk memproses sampah langsung di tingkat kelurahan atau kecamatan. Di sini, sampah dipilah, diperkecil volumenya melalui komposting dan daur ulang, sebelum residunya yang tersisa dikirim ke TPA. Hasilnya: volume yang masuk ke TPA berkurang drastis, dan material yang bisa dimanfaatkan kembali tidak ikut terkubur sia-sia.
Wali Kota Depok Supian Suri menjadi salah satu kepala daerah yang secara konkret mendorong model ini. Ia meresmikan gedung beserta peralatan pengolahan sampah di TPS-3R yang berlokasi di Jalan Jawa, Kelurahan Beji — sebuah langkah yang menempatkan Depok sebagai salah satu kota yang tidak hanya bicara tentang pengelolaan sampah berkelanjutan, tetapi mulai menyediakan fasilitas fisiknya. TPS-3R pada prinsipnya adalah desentralisasi pengelolaan sampah: alih-alih mengirim semua masalah ke satu titik besar di ujung kota, penanganan dilakukan lebih dekat ke sumber. Ini lebih efisien, lebih transparan, dan memberi ruang bagi komunitas untuk terlibat langsung. Bagi warga yang sudah mulai memilah sampah dari rumah dan bahkan terbebas dari retribusi, keberadaan TPS-3R adalah infrastruktur yang menghargai usaha mereka.
Depok dan WWF Indonesia: Ketika Kota Belajar dari Ekosistem
Kolaborasi antara Pemerintah Kota Depok dan WWF Indonesia melalui program Plastic Smart Cities menjadi salah satu kemitraan paling signifikan di tingkat kota dalam agenda pengelolaan sampah plastik. Kerja sama yang diperkuat pada Desember 2024 ini melibatkan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Depok sebagai mitra institusi utama. Plastic Smart Cities adalah inisiatif global WWF yang menempatkan kota-kota sebagai aktor kunci dalam memutus aliran plastik ke lingkungan — dan Depok kini menjadi salah satu kota di Indonesia yang secara resmi masuk dalam jaringan tersebut.
Signifikansi kolaborasi ini melampaui sekadar penandatanganan nota kesepahaman. Bergabungnya Depok dalam ekosistem Plastic Smart Cities berarti kota ini mendapat akses ke metodologi terukur, jaringan pengetahuan global, dan standar pemantauan yang jelas — hal-hal yang kerap menjadi hambatan bagi pemerintah daerah ketika mencoba membangun program lingkungan dari nol. Lebih jauh, Depok berpotensi menjadi model replikasi bagi kota-kota lain di Indonesia: membuktikan bahwa kemitraan antara pemerintah kota dan lembaga lingkungan internasional bisa menghasilkan perubahan yang terstruktur, bukan hanya simbolik.
RDF dan Peringatan yang Tidak Boleh Diabaikan
Di tengah berbagai inovasi yang menjanjikan itu, ada satu peringatan serius yang datang dari dunia teknologi pengolahan sampah tingkat lanjut: Refuse Derived Fuel, atau RDF. Teknologi ini mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif — pada prinsipnya, mengubah sampah yang tidak bisa didaur ulang menjadi sumber energi. Target ambisius sebesar 2.500 ton telah diletakkan sebagai tolok ukur kapasitas pengolahannya. Namun ada satu syarat mutlak yang sering diremehkan: sampah yang masuk harus dalam kondisi terpilah.
Inilah bottleneck yang nyata. Ketika sampah dari rumah tangga, pasar, dan kawasan komersial masih bercampur antara organik, anorganik, dan material berbahaya, kualitas RDF yang dihasilkan menurun tajam — dan efisiensinya sebagai bahan bakar menjadi jauh dari optimal. Artinya, kecanggihan teknologi di ujung proses bisa sepenuhnya dimentahkan oleh kebiasaan membuang sampah sembarangan di awal. Ini bukan sekadar kritik teknis; ini adalah pengingat bahwa tidak ada teknologi pengelolaan sampah yang bisa bekerja sendiri tanpa perubahan perilaku di tingkat rumah tangga. Target 2.500 ton RDF hanya akan tercapai jika pemilahan sampah dari sumber menjadi norma, bukan pengecualian. Dan untuk menuju ke sana, edukasi publik, sistem insentif, dan infrastruktur TPS-3R seperti yang dibangun di Depok harus bergerak lebih cepat dari sebelumnya.
Solusi Ini Butuh Semua Lapisan Bergerak Bersama
Benang merah dari semua ini adalah satu: tidak ada satu solusi tunggal yang cukup. RepLast Lab membuktikan bahwa individu dengan visi bisa menciptakan nilai dari sampah. Refill station membuktikan bahwa model bisnis baru bisa mengubah kebiasaan konsumsi. TPS-3R membuktikan bahwa kota bisa merancang infrastruktur yang lebih cerdas. Kolaborasi Depok-WWF membuktikan bahwa kemitraan lintas sektor bisa mempercepat sistemisasi. Dan peringatan RDF mengingatkan bahwa semua kemajuan itu bisa terhenti jika fondasi paling dasar — pemilahan sampah dari rumah — tidak dibenahi.
Kabar baiknya: semua fondasi itu bisa dimulai hari ini, dari rumah masing-masing. Memilah sampah organik dan anorganik, mendukung refill station di dekat tempat tinggal, atau sekadar berhenti membeli produk dalam kemasan plastik sekali pakai ketika ada alternatifnya — langkah-langkah kecil ini bukan simbolisme. Mereka adalah rantai pertama yang menggerakkan seluruh ekosistem. Mengolah sampah dapur menjadi kompos di rumah, misalnya, adalah salah satu cara paling langsung untuk mengurangi volume sampah yang akhirnya membebani seluruh sistem. Ketika inovator, kebijakan kota, dan pilihan konsumen bergerak ke arah yang sama, itulah titik di mana perubahan skala besar menjadi mungkin.
Frequently Asked Questions
RepLast Lab adalah laboratorium inovasi yang didirikan oleh Dafa Alif Adillah, yang berfokus pada pengolahan sampah plastik — termasuk jenis yang biasanya ditolak pengepul — menjadi produk bernilai ekonomi. Tujuannya bukan hanya mendaur ulang, tetapi membangun rantai nilai baru dari material yang selama ini dianggap tak berharga.
Apa itu TPS-3R dan bedanya dengan TPS biasa?
TPS-3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle) adalah fasilitas yang dirancang untuk memproses sampah langsung di tingkat kelurahan atau kecamatan — melalui pemilahan, komposting, dan daur ulang — sebelum residunya dikirim ke TPA. Berbeda dari TPS konvensional yang hanya berfungsi sebagai titik pengumpulan sebelum diangkut ke TPA tanpa pengolahan.
Apa itu program Plastic Smart Cities yang diikuti Depok?
Plastic Smart Cities adalah inisiatif global WWF yang menempatkan kota sebagai aktor kunci dalam memutus aliran plastik ke lingkungan. Kota Depok resmi memperkuat kerja samanya dengan WWF Indonesia melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan pada Desember 2024, menjadikan Depok salah satu kota Indonesia yang masuk jaringan global ini.
Mengapa sampah tercampur menjadi masalah besar bagi RDF?
Teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) membutuhkan sampah dengan komposisi yang terpilah dan konsisten untuk menghasilkan bahan bakar alternatif berkualitas tinggi. Ketika sampah masih bercampur antara organik, anorganik, dan material berbahaya, nilai kalornya tidak stabil dan efisiensi prosesnya menurun drastis — membuat target produksi seperti 2.500 ton menjadi sangat sulit dicapai.
Apa yang bisa saya lakukan sebagai individu?
Langkah paling langsung adalah mulai memilah sampah dari rumah — pisahkan organik, anorganik, dan residu. Dukung refill station untuk kebutuhan sehari-hari. Kurangi pembelian produk dalam kemasan plastik sekali pakai. Setiap langkah kecil ini secara langsung mendukung efektivitas sistem yang lebih besar, mulai dari TPS-3R hingga RDF.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










