Sesuatu sedang bergerak di banyak sudut Indonesia — bukan sekadar wacana, melainkan aksi nyata di lapangan. Di Makassar, wali kota turun langsung meninjau fasilitas pengolahan sampah. Di Pamulang Barat, sebuah perusahaan energi negara menghibahkan mesin yang mengubah sisa organik menjadi pupuk. Di Jember, komunitas lokal membuktikan bahwa sampah dapur bisa menjadi komoditas. Di Ternate, dinas lingkungan hidup mendorong jaringan fasilitas pengolahan yang lebih merata. Semua ini terjadi dalam satu pekan yang sama — dan itu bukan kebetulan.
Yang menyatukan semua titik itu adalah sebuah model infrastruktur bernama TPS-3R: Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle. Berbeda dari TPA (Tempat Pembuangan Akhir) konvensional yang sekadar menampung, TPS-3R dirancang untuk memilah, mengolah, dan membalik nilai sampah sebelum sisanya — yang jauh lebih kecil volumenya — baru dikirim ke TPA. Tujuannya ambisius tapi konkret: mengurangi beban TPA hingga 30 persen. Di tengah krisis sampah yang menekan hampir setiap kota besar Indonesia, model ini bukan sekadar pilihan — ia mulai menjadi jawaban.
- Indonesia menghasilkan sekitar 70 juta ton sampah per tahun — salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan / KLHK)
- TPS-3R dirancang untuk memangkas beban TPA hingga 30% dengan mengolah sampah di sumbernya
- Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meninjau langsung TPS-3R di Kelurahan Karunrung sebagai bagian dari komitmen pengelolaan sampah kota
- Pertagas menyalurkan mesin cultivator ke TPS-3R Pamulang Barat dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026
- DLH Ternate aktif mengoptimalkan jaringan TPS-3R lokal — sinyal bahwa model ini tidak lagi terbatas di Jawa
- Pomelo, merek fashion asal Thailand, mulai masuk ekosistem daur ulang fashion Indonesia
Di Makassar, kunjungan Wali Kota Munafri Arifuddin ke TPS-3R Kelurahan Karunrung membawa pesan yang cukup jelas: pengelolaan sampah bukan lagi urusan teknis yang cukup didelegasikan ke dinas. Ketika kepala daerah hadir langsung di fasilitas pengolahan — melihat alur pemilahan, berbicara dengan petugas, dan memastikan operasional berjalan — itu memberi sinyal bahwa infrastruktur ini masuk dalam radar prioritas pemerintah kota. Makassar selama ini membangun narasi kota modern, dan kunjungan semacam ini menegaskan bahwa pengelolaan limbah perkotaan adalah bagian tak terpisahkan dari visi itu.
Namun niat baik pemerintah kota membutuhkan alat yang tepat untuk berjalan. Di sinilah kontribusi Pertagas di Pamulang Barat menjadi menarik untuk dicermati. Pertagas, anak usaha Pertamina di bidang transmisi gas, menyalurkan mesin cultivator ke TPS-3R Pamulang Barat sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan dalam momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Cultivator bukan sekadar alat pertanian — dalam konteks TPS-3R, mesin ini berfungsi menggemburkan dan mencampur material organik dalam proses pengomposan, mempercepat dekomposisi dan menghasilkan kompos berkualitas lebih konsisten. Yang membuat donasi semacam ini berbeda dari sekadar transfer dana tunai adalah sifatnya yang operasional: mesin ini bekerja setiap hari, mendukung urban farming yang mulai tumbuh di sekitar fasilitas, dan dampaknya terasa langsung oleh pengelola TPS-3R serta warga sekitar.
Sementara itu, di Jember, ceritanya justru bermula dari bawah. Aktivitas pengolahan sampah menjadi pupuk kompos di sana bukan didorong oleh kunjungan pejabat atau donasi korporasi besar — melainkan oleh keseharian warga dan pendamping lokal yang memilih untuk tidak membuang sisa dapur begitu saja. Komunitas dan pemerintah kelurahan setempat bersama-sama mengelola aliran sampah organik yang sebelumnya langsung berakhir di TPA, mengolahnya menjadi kompos yang bisa kembali menyuburkan tanah. Skala mungkin tidak besar, tapi justru di sinilah inti dari model TPS-3R: mengubah kebiasaan di tingkat paling dasar — rumah tangga, gang, kelurahan — sehingga beban sistem tidak terus menumpuk ke atas. Kalau kamu ingin memulai langkah serupa di rumah, panduan kompos dari sisa dapur ini bisa jadi titik awal yang realistis.
Yang patut mendapat perhatian tersendiri adalah apa yang sedang dilakukan DLH Ternate. Sebagian besar diskusi soal TPS-3R selama ini bertumpu pada kota-kota besar di Jawa — Jakarta, Surabaya, Bandung. Ternate membuktikan bahwa model ini bisa dan sedang dijalankan di luar pusat, di kepulauan, dengan keterbatasan logistik yang jauh lebih kompleks. Langkah optimalisasi yang dilakukan DLH Ternate — baik dalam bentuk peningkatan operasional maupun perluasan jangkauan fasilitas — adalah pengingat bahwa transisi pengelolaan sampah yang bermakna di Indonesia harus menjangkau timur, bukan hanya merapikan infrastruktur di barat. Ini bukan hanya soal keadilan geografis; ini soal efektivitas sistem secara nasional.
Lalu ada Pomelo — nama yang mungkin lebih akrab di kalangan pencinta mode daripada di diskusi lingkungan. Merek fashion asal Thailand ini mulai mengintegrasikan program daur ulang ke dalam ekosistemnya di Indonesia, menargetkan material tekstil yang selama ini menjadi salah satu penyumbang limbah paling sulit dipilah. Kehadiran brand fashion dalam percakapan soal daur ulang bukan hal baru secara global, tapi di Indonesia ini masih terbilang segar. Yang menarik bukan hanya programnya, melainkan sinyal kulturalnya: ketika label fashion mulai berbicara soal recycle kepada konsumennya, ia sedang menggeser percakapan dari sekadar “beli yang bagus” menjadi “beli yang bertanggung jawab.” Itu perubahan kecil dalam narasi, tapi dampaknya bisa kumulatif.
Diambil bersama, lima sinyal dari Makassar, Pamulang Barat, Jember, Ternate, dan Pomelo ini menunjukkan sesuatu yang lebih dari sekadar berita lokal yang kebetulan berdekatan. Mereka adalah tanda bahwa momentum pengelolaan sampah dan pertanian kota di Indonesia sedang bergerak dari banyak arah sekaligus — dari atas (kunjungan wali kota), dari sektor swasta (donasi hardware Pertagas), dari akar rumput (komunitas Jember), dari daerah terpencil (DLH Ternate), dan dari budaya konsumsi (Pomelo). Gerakan 3R Indonesia memang sudah lama tumbuh dari komunitas lokal, dan yang kini berubah adalah volume serta koordinasinya. Yang dibutuhkan berikutnya adalah standarisasi operasional TPS-3R yang konsisten di seluruh wilayah, skema pendanaan jangka panjang yang tidak bergantung hanya pada CSR tahunan, dan sistem data terpadu agar kita bisa mengukur dampak nyata dari semua inisiatif ini. Kompos sudah terbukti sebagai solusi nyata — sekarang tinggal memastikan sistem yang menopangnya tumbuh sama kuatnya. Apa yang sedang kamu lihat di kotamu sendiri?
Frequently Asked Questions
TPS-3R adalah Tempat Pengolahan Sampah berbasis Reduce, Reuse, dan Recycle. Berbeda dengan TPA yang hanya menampung dan menumpuk sampah, TPS-3R memilah dan mengolah sampah di titik dekat sumber — menghasilkan kompos, material daur ulang, dan meminimalkan volume yang harus dibuang ke TPA.
Apa fungsi mesin cultivator dalam pengolahan sampah organik?
Cultivator digunakan untuk menggemburkan dan mencampur tumpukan bahan organik dalam proses pengomposan. Mesin ini mempercepat proses dekomposisi, meningkatkan aerasi, dan menghasilkan kompos dengan kualitas yang lebih seragam dibandingkan proses manual.
Mengapa kota-kota di luar Jawa seperti Ternate penting dalam konteks TPS-3R?
Keberhasilan sistem pengelolaan sampah nasional tidak bisa hanya diukur dari kota-kota besar di Jawa. Ternate mewakili tantangan nyata di wilayah kepulauan — logistik yang sulit, sumber daya yang terbatas — sehingga keberhasilan model TPS-3R di sana memiliki nilai replikasi yang tinggi untuk daerah-daerah serupa di Indonesia timur.
Mengapa program daur ulang dari merek fashion seperti Pomelo relevan untuk isu lingkungan?
Industri tekstil dan fashion adalah salah satu penghasil limbah terbesar secara global. Ketika merek fashion aktif mendorong daur ulang kepada konsumennya, mereka ikut membangun kesadaran bahwa pakaian punya siklus hidup — dan ujungnya tidak harus berakhir di tempat sampah.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










