Industri fashion disebut sebagai penyumbang polusi terbesar kedua di dunia, sementara sistem pangan industrial modern terus membebani ekosistem laut dan tanah. Dua angka yang terasa besar dan jauh — sampai merek-merek besar mulai memperlihatkan buktinya, bukan sekadar janjinya. Yang sedang terjadi sekarang bukan sekadar gelombang pemasaran baru; ada pergeseran nyata dalam cara merek-merek global membangun akuntabilitas ke dalam rantai pasokan mereka, dari kebun kapas organik di ladang hingga jaring ikan di laut terbuka. Kering, Grove Collaborative, Patagonia, dan kolaborasi Jamie Oliver bersama Sea Tales adalah empat nama yang, masing-masing dengan caranya sendiri, memperlihatkan bahwa keberlanjutan kini diukur — bukan hanya dideklarasikan.
Momentum ini tidak muncul dari kekosongan. Regulasi anti-klaim hijau yang tidak berdasar di Uni Eropa semakin ketat, konsumen di seluruh dunia semakin lihai membaca label, dan generasi muda Indonesia sendiri mulai mempertanyakan asal-usul baju yang mereka kenakan dan ikan yang mereka makan. Merek yang tidak bisa menunjukkan angka nyata — bukan slogan, bukan logo daun hijau semata — akan kehilangan relevansinya di mata pembeli dekade ini. Inilah mengapa pencapaian yang tampaknya “korporat” ini justru layak dirayakan: karena setiap tonggak yang terverifikasi adalah bukti bahwa tekanan konsumen bekerja, dan bahwa perubahan sistemik sungguh mungkin terjadi.
- Kering — konglomerat mewah pemilik Gucci, Saint Laurent, dan Bottega Veneta — mencapai pengurangan emisi karbon sebesar 34% lewat model akuntansi Environmental Profit & Loss (EP&L) yang mereka pionirkan.
- Grove Co., merek andalan Grove Collaborative, resmi bergabung dengan 1% for the Planet pada Juni 2026, berkomitmen menyumbangkan 1% dari total penjualan tahunan untuk organisasi lingkungan yang telah diverifikasi.
- Patagonia beralih ke 100% kapas organik sejak 1996 — artinya sudah lebih dari 30 tahun mereka mempertahankan rantai pasokan tanpa pestisida sintetis, sebuah konsistensi yang langka di industri fashion global.
- Jamie Oliver dan Sea Tales mengumumkan kolaborasi resmi pada Juni 2026 untuk mendorong permintaan makanan laut berkelanjutan ke pasar arus utama, dengan produk Sea Tales yang mengantongi sertifikasi keberlanjutan perikanan internasional.
- Pasar fashion berkelanjutan global diperkirakan tumbuh signifikan menuju 2030, didorong oleh meningkatnya kesadaran konsumen dan pengetatan regulasi di pasar-pasar utama dunia.
Kering bukan nama yang biasa kita kaitkan dengan aktivisme lingkungan — ini adalah rumah bagi Gucci, Saint Laurent, dan Bottega Veneta, merek-merek yang identik dengan kemewahan tanpa kompromi. Namun justru di sinilah pencapaian pengurangan emisi karbon sebesar 34% terasa begitu bermakna. Kering menjadi pelopor model akuntansi yang disebut Environmental Profit & Loss, atau EP&L — sebuah cara menghitung biaya lingkungan sesungguhnya dari seluruh rantai produksi, mulai dari ladang bahan baku hingga tangan konsumen akhir. Yang membuat pendekatan ini revolusioner adalah cakupannya: EP&L tidak hanya menghitung emisi dari operasi langsung sebuah merek, tetapi juga yang disebut emisi Scope 3, yaitu dampak dari pemasok, transportasi, dan bahkan penggunaan produk oleh konsumen. Dalam bahasa yang lebih mudah dipahami, Kering tidak hanya menghitung asap dari pabriknya sendiri — mereka menghitung seluruh jejak karbon dari sebuah tas tangan mewah, dari ladang kapas hingga lemari seseorang di Paris atau Jakarta.
Ketika merek fashion mewah sekelas Kering mau membuka pembukuan lingkungan mereka kepada publik dan meraih penurunan emisi yang terverifikasi, itu mengirimkan sinyal kuat ke seluruh industri bahwa standar ini bukan lagi pilihan eksklusif merek-merek kecil yang idealis. Sementara itu, di segmen yang berbeda — produk rumah tangga sehari-hari — Grove Collaborative sedang membuktikan bahwa bisnis berbasis produk bersih bisa tumbuh sambil tetap berakar pada komitmen nyata. Merek andalan mereka, Grove Co., resmi menjadi anggota 1% for the Planet pada Juni 2026, sebuah jaringan global yang anggotanya menyumbangkan 1% dari pendapatan tahunan mereka untuk mendanai organisasi lingkungan yang sudah diverifikasi secara independen. Jaringan ini — yang didirikan pada 2002 oleh Yvon Chouinard, pendiri Patagonia, bersama Craig Mathews — kini mencakup lebih dari 100 negara dan 65 industri, dan secara kolektif telah mengumpulkan lebih dari $870 juta untuk mendukung mitra lingkungan di seluruh dunia.
“Kami sangat senang menyambut merek produk Grove ke jaringan 1% for the Planet. Sekarang, 1% dari setiap pembelian produk merek Grove akan berkontribusi pada perubahan nyata yang terverifikasi untuk lingkungan. Grove membuktikan bahwa merawat rumahmu bisa menjadi cara sederhana untuk juga merawat rumah indah yang kita semua bagi bersama.”
— Kate Williams, CEO of 1% for the Planet
Yang menarik dari keanggotaan Grove Co. di 1% for the Planet bukan hanya angka donasinya, tetapi apa yang dikerjakan Grove sebelum pengumuman ini pun sudah cukup memukau. Sejak 2020, mereka telah memulihkan lebih dari 18,7 juta pon plastik yang semula akan terbuang ke alam bebas. Mereka juga telah menyumbangkan lebih dari $100.000 kepada organisasi 5 Gyres untuk penelitian dan advokasi terhadap mikroplastik, serta berkomitmen $1,5 juta untuk Program Konservasi Emerald Edge milik The Nature Conservancy hingga 2030. Khusus di tahun 2025, pelanggan yang berbelanja melalui Environmental Impact Shop Grove membantu menanam 25.914 pohon, melestarikan 13.327 hektare lahan, dan mengumpulkan 354.782 pon plastik. Ini bukan retorika — ini adalah rekam jejak yang bisa dihitung, yang artinya setiap kali seseorang memilih sabun cuci piring ramah lingkungan dari Grove, mereka secara harfiah mendanai kerja nyata di lapangan.
Logika yang sama — bahwa pilihan konsumsi sehari-hari adalah tindakan lingkungan — sudah dipraktikkan Patagonia jauh sebelum kata “keberlanjutan” menjadi tren pemasaran. Pada 1996, di saat industri fashion global belum pernah serius mempertimbangkan dampak pertanian konvensional, Patagonia membuat keputusan yang terasa radikal: beralih sepenuhnya ke kapas organik untuk seluruh lini produk mereka. Kini, lebih dari 30 tahun kemudian, komitmen itu telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Patagonia mendorong standar yang disebut Regenerative Organic Certified (ROC), sebuah sertifikasi yang melampaui “organik” biasa dengan memasukkan kesehatan tanah, kesejahteraan hewan, dan keadilan sosial petani sebagai kriteria wajib. Ini bukan sekadar soal menghindari pestisida sintetis — ini tentang membangun ekosistem pertanian yang aktif memulihkan tanah, bukan hanya tidak merusaknya. Komitmen Patagonia terhadap bumi bahkan melampaui rantai pasokannya sendiri — sebuah legasi yang terus menjadi tolok ukur bagi seluruh industri.
🌱 Trivia: Apa yang Membuat Kapas Organik Begitu Berbeda?
Apa itu 1% for the Planet? Didirikan pada 2002 oleh Yvon Chouinard (pendiri Patagonia) dan Craig Mathews, jaringan ini telah mengumpulkan lebih dari $870 juta secara kolektif dari ribuan anggota korporat di lebih dari 100 negara untuk mendanai lebih dari 7.200 mitra lingkungan yang telah diverifikasi.
Apa bedanya sertifikasi MSC dan ASC untuk produk laut? MSC (Marine Stewardship Council) adalah sertifikasi untuk ikan hasil tangkapan liar yang dikelola secara berkelanjutan, sementara ASC (Aquaculture Stewardship Council) adalah sertifikasi untuk produk budidaya laut dan air tawar yang diproduksi dengan praktik yang bertanggung jawab. Keduanya adalah standar internasional yang diakui sebagai tolok ukur transparansi rantai pasokan makanan laut.
Apa itu EP&L (Environmental Profit & Loss)? EP&L adalah model akuntansi yang dipelopori Kering untuk menghitung nilai moneter dari dampak lingkungan di seluruh rantai pasokan — mulai dari penggunaan air, emisi gas rumah kaca, polusi udara, hingga penggunaan lahan. Ini revolusioner karena membuat biaya lingkungan yang biasanya “tidak terlihat” menjadi angka konkret yang bisa diaudit dan dilacak dari tahun ke tahun.
Jika Patagonia mendefinisikan ulang apa artinya menjadi merek fashion yang bertanggung jawab, Jamie Oliver dan Sea Tales sedang melakukan sesuatu yang serupa — tetapi di meja makan. Pada Juni 2026, chef sekaligus aktivis pangan Jamie Oliver mengumumkan kolaborasi resmi dengan Sea Tales, merek makanan laut yang telah mengantongi sertifikasi keberlanjutan perikanan internasional. Tujuan kemitraan ini eksplisit: mendorong permintaan makanan laut berkelanjutan ke pasar arus utama, menjangkau konsumen yang selama ini tidak terpapar pada perdebatan soal sertifikasi perikanan. Kekuatan Jamie Oliver di sini adalah platformnya — jutaan pengikut di media sosial, buku masak yang terjual puluhan juta kopi, dan reputasi sebagai juru masak yang berbicara dengan bahasa orang biasa. Ketika seseorang dengan jangkauan itu mulai berbicara tentang dari mana ikan itu berasal dan bagaimana cara menangkapnya, pesan keberlanjutan yang biasanya tersaring di komunitas tertentu tiba-tiba bisa menjangkau ibu rumah tangga di Surabaya atau anak kos di Bandung yang sedang mencari resep baru.
Relevansi kolaborasi ini terasa sangat dekat bagi pembaca Indonesia. Kita adalah salah satu negara dengan konsumsi makanan laut tertinggi di dunia — ikan bukan sekadar lauk, ia adalah bagian dari identitas budaya dan ketahanan pangan jutaan keluarga. Namun di balik itu, perairan Indonesia menghadapi tekanan besar dari penangkapan ikan berlebihan dan praktik yang tidak berkelanjutan. Ketika merek-merek global seperti Sea Tales menetapkan standar sertifikasi yang ketat, dan ketika tokoh publik seperti Jamie Oliver membawa standar itu ke percakapan sehari-hari, ada efek domino yang berpotensi menyentuh permintaan konsumen lokal dan mendorong pelaku industri perikanan domestik untuk meningkatkan praktik mereka. Merek hijau global memang sedang membuktikan bahwa model bisnis etis bisa berjalan beriringan dengan pertumbuhan — dan konsumen Indonesia semakin siap untuk menjadi bagian dari persamaan itu.
Di Indonesia sendiri, ekosistem merek berkelanjutan perlahan tapi pasti sedang terbentuk. Kolektif slow fashion lokal bermunculan di Yogyakarta dan Jakarta, menggunakan kain tenun tradisional dan pewarna alami yang menghormati kearifan lokal sekaligus mengurangi limbah kimia industri. Label pangan organik bersertifikasi mulai muncul di pasar swalayan modern, dan gerakan konsumsi sadar semakin aktif diperbincangkan di media sosial oleh anak-anak muda yang tidak mau memisahkan estetika dari etika. Angka-angka global dari Kering, Grove, Patagonia, dan Sea Tales menjadi semacam cermin — memperlihatkan bahwa apa yang sedang tumbuh secara lokal bukan tren sesaat, melainkan bagian dari pergerakan yang lebih besar dan lebih terstruktur. Merek-merek berkelanjutan baru pun terus bermunculan di segmen mode, kemasan, hingga perawatan kulit, memperluas pilihan bagi konsumen yang ingin berbelanja selaras dengan nilai-nilai mereka.
Ada sesuatu yang bergeser di cara generasi muda Indonesia memandang pilihan konsumsi mereka. Membeli kaos dari merek yang transparan soal rantai pasokannya, atau memilih ikan kalengan bersertifikat di supermarket, bukan lagi sekadar keputusan pribadi — itu adalah pernyataan tentang nilai, identitas, dan masa depan seperti apa yang ingin mereka ikut bentuk. Media sosial mempercepat proses ini: sebuah unggahan tentang praktik produksi sebuah merek bisa menyebar dalam hitungan jam, mengubah persepsi jutaan konsumen sekaligus. Di sinilah kekuatan nyata konsumen terletak — bukan hanya dalam keputusan membeli atau tidak membeli, tetapi dalam kemampuan untuk memperkuat narasi yang benar dan menuntut konsistensi dari merek-merek yang mengklaim peduli.
Kering, Grove Collaborative, Patagonia, dan Jamie Oliver bersama Sea Tales adalah empat cerita yang berbeda — konglomerat mewah, merek produk rumah tangga, merek outdoor ikonik, dan chef selebriti yang berkolaborasi dengan produsen makanan laut — tetapi mereka semua menunjuk ke arah yang sama: bahwa keberlanjutan yang terukur dan terverifikasi bukan lagi utopia. Ini nyata, ini bisa dihitung, dan yang paling penting, ini bisa terus didorong oleh konsumen yang memilih untuk mendukung kemajuan daripada mengabaikannya. Setiap tonggak pencapaian layak dirayakan — bukan karena perjalanannya sudah selesai, tetapi karena ia membuktikan bahwa langkah berikutnya mungkin untuk diambil. Dan itu, pada akhirnya, adalah alasan terkuat untuk terus memilih dengan sadar.
Punya Ide Artikel?
Bantu kami menyoroti isu lingkungan yang penting bagi Anda. Kirimkan riset, berita, atau topik yang ingin Anda lihat di HidupHijau.










