DBS Foundation menutup 2024 dengan angka yang jarang terdengar di sektor filantropi korporat: 1.000 penerima manfaat langsung dari program kewirausahaan sosial, 50 UMKM dampak sosial yang didampingi intensif, dan Rp 2,1 miliar dana hibah tersalurkan sejak 2019.1 Ini bukan kampanye CSR biasa yang berhenti di press release.
Yayasan yang berdiri sejak 2014 ini menjalankan model yang berbeda: mencari wirausaha sosial yang sudah punya produk, lalu memberi mereka modal tanpa bunga, pelatihan bisnis terstruktur, dan akses ke jaringan pasar. Bukan charity, tapi akselerator dengan misi ganda—profit dan planet.
Dari Hulu ke Hilir: Apa yang Sebenarnya Dikerjakan
DBS Foundation Indonesia fokus pada tiga pilar: pendampingan UMKM berbasis dampak sosial-lingkungan, pelatihan kewirausahaan sosial, dan program akselerator untuk skala usaha. Semua dieksekusi dengan pendekatan jangka panjang—minimal 12 bulan per batch.
Program unggulannya, Social Enterprise Accelerator Programme (SEAP), memberikan hibah hingga Rp 100 juta per usaha terpilih, ditambah mentoring bulanan dan akses ke ekosistem investor dampak. Tahun 2023-2024, mereka fokus pada usaha yang mengelola sampah plastik, pertanian organik, dan produk daur ulang.
Salah satu alumni, Bumi Journey—perusahaan tur ekowisata berbasis masyarakat—melaporkan peningkatan omzet 340% dalam 18 bulan pasca-program. Mereka kini melayani 12 desa wisata di Jawa Tengah dan Bali dengan model bagi hasil langsung ke komunitas lokal.
Ini sejalan dengan tren yang kami lihat dalam Gaya Hidup Hijau 2026: Masih Mahal atau Sudah Terjangkau?, di mana konsumen kini lebih sadar bahwa produk berkelanjutan tidak harus mahal jika sistem distribusinya diperbaiki dari akar.
Program yang Paling Jarang Disorot: Pelatihan Keuangan Inklusif
Selain akselerator, DBS Foundation menjalankan program literasi keuangan untuk perempuan pelaku UMKM di wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar). Sejak 2021, mereka sudah menjangkau 3.200 perempuan di Nusa Tenggara Timur, Papua, dan Maluku.
Materinya bukan hanya pembukuan dasar, tapi juga bagaimana mengakses skema pembiayaan hijau, mengajukan sertifikasi produk organik, dan memahami carbon accounting sederhana untuk usaha skala mikro. Ini yang membedakan mereka dari pelatihan konvensional: ada benang merah antara keuangan dan ekologi.
Salah satu lulusan program ini, Ibu Yustina dari Sumba, kini menjual kain tenun dengan pewarna alami melalui platform digital dan mencatat margin keuntungan 60%—jauh di atas rata-rata industri tekstil tradisional yang hanya 20-30%.










